Implementasi Pembelajaran Skill Laboratory

Latar Belakang Masalah Pembelajaran Laboratory

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) AN-NUR Purwodadi sebagai sebuah institusi pendidikan khususnya prodi D-III Keperawatan, melakukan pembelajaran skill laboratory sejak dini untuk menyiapkan mahasiswa agar kompeten dibidang keperawatan. Skill laboratory merupakan suatu kegiatan pelatihan ketrampilan bagi mahasiswa di laboratorium dengan tujuan menyiapkan mahasiswa agar siap dengan ketrampilan-ketrampilan di klinik (Agni, 2000). Sebagai lembaga pendidikan yang baru empat tahun konversi menjadi sekolah tinggi, tentu pengelola skill laboratory menghadapi kendala yang tidak sedikit. Berdasarkan wawancara awal didapatkan beberapa kendala dalam mempersiapkan kegiatan skill laboratory, melaksanakan maupun mengevaluasi kemampuan mahasiswa. Untuk itu pengelola skill laboratory harus berupaya seoptimal mungkin sehingga skill laboratory tetap dapat berjalan.

Saat ini belum pernah dilakukan penelitian tentang pelaksanaan skill laboratory di STIKES AN-NUR Purwodadi. Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti tertarik untuk mengetahui lebih mendalam tentang pembelajaran skill laboratory di STIKES AN-NUR Purwodadi.

 

Rumusan Masalah

  1. Bagaimana perencanaan yang dilakukan instruktur ketika akan memberikan pembelajaran skill laboratory di STIKES AN-NUR Purwodadi?
  2. Bagaimana instruktur melaksanakan pembelajaran skill laboratory di STIKES AN-NUR Purwodadi?
  3. Bagaimana instruktur mengevaluasi kemampuan mahasiswa setelah pembelajaran skill laboratory di STIKES AN-NUR Purwodadi?

 

Tinjauan Pustaka

Skill laboratory merupakan wahana bagi mahasiswa untuk belajar ketrampilan klinis yang mereka perlukan dengan setting seperti antara perawat-pasien namun dilakukan dalam suasana latihan.

  • Pembelajaran skils laboratory

Lulusan pendidikan tinggi kesehatan dituntut memiliki sikap dan kemampuan professional yang diperoleh sebagai hasil dari penerapan kurikulum pendidikan melalui berbagai bentuk pengalaman belajar, diantaranya adalah Pengalaman Belajar Praktik (PBP). PBP merupakan proses pembelajaran di laboratorium dalam rangka memperkuat teori-teori/ pengetahuan yang didapat dari pengalaman belajar lain. Strategi pembelajaran praktikum merupakan pengintegrasian antara teori/pengetahuan dasar professional, sehingga dalam pelaksanaannya dikelola secara terintegrasi (Nursalam dan Efendi, 2008).

  • Proses Bimbingan

Proses bimbingan ketrampilan menurut Balendong (1999) dilakukan dalam beberapa tahapan, yaitu tahap pertama dengan cara mendemonstrasikan ketrampilan klinik meliputi menjelaskan ketrampilan yang akan dipelajari, menggunakan video atau slide, menunjukkan ketrampilan yang akan dipelajari, memperagakan ketrampilan pada model anatomic (simulasi).

Disamping belajar secara terbimbing, mahasiswa juga harus belajar aktif secara mandiri. Hal ini sesuai dengan ciri pembelajaran pada orang dewasa.

 

Metode Penelitian

Metode : deskriptif kualitatif. Pengambilan data dengan cara diskusi kelompok terfokus, wawancara mendalam, observasi lapangan dan analisis dokumen.

Teknik yang digunakan untuk memeriksa validitas dan reliabilitas data dengan triangulasi yaitu membandingkan data dari satu narasumber dengan narasumber lain.

Data yang diperoleh dari narasumber juga dibandingkan dengan data yang diperoleh dari observasi dan studi dokumen. Analisa data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.

 

Kesimpulan

  1. Pengelola skill laboratory maupun instruktur sudah membuat perencanaan pembelajaran dengan baik terbukti penjadwalan skill laboratory ada, penunjukkan instruktur yang kompeten, instruktur membuat alat peraga/ model dengan memodifikasi dan memberikan SOP serta Tools penilaian selama buku pedoman belum ada
  2. Proses pembelajaran skill laboratory berlangsung dalam tiga tahap, yaitu tahap terbimbing, tahap mandiri dan responsi terlaksana dengan baik.
  3. Evaluasi pembelajaran skill laboratory dengan metode OSCE yang dapat mengukur kognitif, afektif dan psikomotor secara bersamaan telah menunjukkan bahwa mahasiswa kompeten dalam perawatan luka.

Incoming search terms: