Hubungi Kami di WA 08-951-951-3333

Implementasi Model Pembelajaran Terpadu Di Taman Kanak-Kanak Islam

Latar Belakang Masalah Perkenalan Pembelajaran Terpadu Di Taman Kanak-Kanak

Fenomena dunia pendidikan dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir adalah berdirinya sekolah-sekolah dengan konsep islam terpadu. Berdirinya sekolah-sekolah tersebut didorong oleh keinginan masyarakat yang ingin menyekolahkan anaknya pada sekolah yang berkualitas. Kurikulum yang diterapkan pada sekolah-sekolah tersebut memadukan antara pendidikan materi umum sebagaimana yang tercantum dalam kurikulum Diknas dan pendidikan agama khas islam terpadu. Harapan masyarakat adalah dengan dimasukkannya kurikulum yang berbasis agama akan lebih meningkatkan kualitas pendidikan.

Berdasarkan berbagai permasalahan diatas, kemudian timbul pertanyaan bagaimana kemudian implementasi model pembelajaran terpadu pada sekolah taman kanak-kanak dengan konsep islam terpadu. Peneliti tertarik untuk meneliti bagaimana implementasi model pembelajaran terpadu yang diterapkan di Taman Kanak-Kanak Islam Terpadu (TKIT) Mutiara Hati  Klaten. TKIT Mutiara Hati Klaten merupakan sekolah Taman Kanak-Kanak yang pertama berdiri dengan konsep islam terpadu di Kabupaten Klaten. Peneliti juga meneliti tentang hambatan-hambatan yang dihadapi dan cara mengatasi dalam implementasi model pembelajaran terpadu di TKIT Mutiara Hati Klaten.

 

Perumusan Masalah

  1. Bagaimana perencanaan model pembelajaran terpadu yang diterapkan di Taman Kanak-Kanak Islam Terpadu Mutiara Hati Klaten?
  2. Bagaimana pelaksanaan model pembelajaran terpadu yang diterapkan di Taman Kanak-Kanak Islam Terpadu Mutiara Hati Klaten?
  3. Bagaimana evaluasi model pembelajaran terpadu yang diterapkan di Taman Kanak-Kanak Islam Terpadu Mutiara Hati Klaten?
  4. Hambatan-hambatan apa yang dihadapi dan cara mengatasinya dalam implementasi model pembelajaran terpadu yang diterapkan di Taman Kanak-Kanak Islam Terpadu Mutiara Hati Klaten?

Landasan Teori

  1. Pembelajaran Terpadu

Pembelajaran terpadu merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaran yang secara sengaja mengaitkan beberapa aspek baik dalam intra mata pelajaran maupun antar mata pelajaran.

  1. Konsep Sekolah Islam Terpadu

Menurut Muhab, dkk (2006: 32) sekolah islam terpadu pada hakekatnya adalah sekolah yang mengimplementasikan konsep pendidikan islam berlandaskan Al-Qur’an dan As Sunnah

Model pembelajaran terpadu menurut Forgaty (1991: 3-95) terbagi menjadi sepuluh yaitu:

  • Fragmented (terpisah),
  • Connected (terhubung),
  • Nested (tersarang),
  • Sequenced (terurut,
  • Shared (berbagi),
  • Webbed (jaring laba-laba),
  • Threaded (galur),
  • Integrated (terpadu),
  • Immersed (terbenam),
  • Networked (jaringan)

Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan strategi penelitian studi kasus. Sumber data yang diperoleh berasal dari nara sumber, peristiwa atau aktivitas, tempat atau lokasi, dan arsip atau dokumen.

Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan meneliti dokumen. Uji ketepercayaan data menggunakan teknik triangulasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis interaktif yang menggunakan tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan yaitu reduksi data, sajian data dan verifikasi.

Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat dikemukakan kesimpulan sebagai berikut:

  1. Perencanaan pembelajaran terpadu di TKIT Mutiara Hati Taman satu dan Taman dua saling bekerjasama dalam pengorganisasian kurikulum terpadu, pengidentifikasian kompetensi dasar dan indikator, pengidentifikasian dan pemetaan tema, dan pembuatan Rencana Kegiatan Mingguan (RKM) yang disusun bersama dalam satu tim kurikulum yang berasal dari perwakilan guru TKIT Mutiara Hati taman satu dan perwakilan guru TKIT Mutiara Hati taman dua, sedangkan dalam pembuatan Rencana Kegiatan Harian (RKH) guru diberikan kebijakan untuk menentukan sendiri kegiatan yang sesuai dengan RKM.
  2. Pelaksanaan pembelajaran terpadu di TK IT Mutiara Hati Taman satu dan Taman dua sama dalam langkah-langkah pembelajaran yang terdiri dari kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan akhir. Namun berbeda dalam hal bentukkegiatan yang dilaksanakan dan waktu pelaksanaan.
  3. Kriteria penilaian di TKIT Mutiara Hati Taman satu dan Taman dua sama yaitu BSB (Berkembang Sangat Baik), B (Berkembang), BB (Belum Berkembang). Sedangkan teknik atau alat penilaian yang digunakan antara lain unjuk kerja, pengamatan (observasi), catatan anekdot, hasil karya, penugasan, portofolio, tanya jawab dan hafalan.
  4. Hambatan yang dihadapi oleh TKIT Mutiara Hati Taman satu dan Taman dua yaitu hambatan guru dalam hal penulisan RKH dan kreativitas guru baru; hambatan sarana pembelajaran terutama alat permainan edukatif yang senantiasa menyusut setiap hari; hambatan siswa dalam kondisi yang tidak selalu sama baiknya setiap hari; dan hambatan kurikulum dimana target pembelajaran yang dibebankan cukup banyak sehingga menyebabkan pelaksanaan pembelajaran terkadang kurang sesuai dengan perencanaan yang dibuat.

Incoming search terms: