Implementasi Akad Ijarah Pada Pegadaian Syariah Cabang Solobaru

Latar Belakang Masalah Akad Dalam Pegadaian Syariah

Perum Pegadaian Syariah Cabang Solobaru Sukoharjo yang terletak di Tanjung Anom 69 A Solobaru Sukoharjo berdiri pada tahun 2004 dan mulai efektif bekerja melayani gadai yang sesuai Syariah, sampai sekarang sudah berusia lima tahun berjalan, perkembangan gadai syariah tersebut tidak sepesat Perbankan Syariah yang memang diminati banyak nasabah kelas menengah keatas, karena kesan gadai adalah hanya diminati oleh masyarakat kelas bawah yang bersifat konsumtif, hal ini terlihat dari produk yang ditawarkan oleh gadai Syariah Solobaru belum banyak karena peminatnya masih relatif didominasi oleh kalangan bawah yang dengan terpaksa lari ke Pegadaian karena kebutuhan yang mendesak, hal ini penulis ketahui ketika berada di Pegadaian dan mencoba wawancara dengan nasabah yang datang di Pegadaian Syariah.

Sepintas yang menarik adalah Pegadaian mengatasi masalah tanpa masalah, hal ini terlihat dari kredit pinjaman yang ditawarkan oleh Pegadaian dengan garis batas minimal Rp. 20.000 sampai dengan Rp 150.000,- dengan proses yang amat sederhana dan cepat cukup dengan waktu lima belas menit uang sudah bisa diterima, dari sinilah sepintas benar-benar mengatasi masalah tanpa masalah, akan tetapi dari sisi lain yang terkait dengan sewa modal dan akad yang dibuat oleh nasabah dengan Pegadaian apakah tidak akan menimbulkan masalah, terkait dengan barang agunan yang tidak mempunyai setandar pasar yang pasti seperti barang-barang elektronik dan kendaraan bermotor, dari sinilah yang mendorong penulis untuk mengkaji hal-hal yang terkait dengan akad Rohn Ijarah di Pegadaian Syariah, apakah gadai Syariah menggunakan konsep Islamy yang sesuai dengan al Qur’an dan al Hadits yang di Implemntasikan oleh Ulama Imam Mazhab dalam Kitabkitab Fiqih, ataukah hanya sekedar merobah akad konvensional menjadi akad Syariah akan tetapi sistimnya tetap sama seperti konvensional. Berdasarkan klaim Perum Pegadaian dan uraian tersebut

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka kajian ini hanya dibatasi pada masalah: Apakah Implementasi akad ijarah pada Perum Pegadaian Syariah Cabang Solobaru Sukoharjo sudah sesuai dengan prinsip-prinsip Syariah?

Metode Penelitian

  1. Teori Hukum Islam.

Didalam bahasan Ilmiyah hukum Islam ada beberapa istilah, yakni Syariah, Fiqih dan Hukum

  1. Teori Ekonomi Islam

“ Para ahli telah banyak mendefinisikan tentang apa yang dimaksud dengan ekonomi Islam, pada dasarnya suatu ilmu pengetahuan yang berupaya memandang, meninjau, meneliti yang pada akhirnya menyimpulkan dan menyelesaikan permasalan-permasalan ekonomi dengan cara Islamy merupakan bagian dari definisi Ekonomi Islam.

  1. Gadai menurut pandangan Ulama Fikih

Pada dasarnya Gadai ( رھن ) adalah bersifat komsumtif sebagaimana cerita Hadits Nabi tersebut diatas, akan tetapi dengan kemajuan pemikiran serta tuntutan zaman yang begitu komplek gadai tidak hanya bersifat konsumtif yaitu meminjam uang dengan menyerahkan agunan untuk memenuhi kebutuhan sandang pangan.

Metode Penelitian

Penelitian bersifat kuwalitatif karena bersifat alamiah dan menghendaki keutuhan sesuai dengan masalah penelitian ini yaitu implementasi akad ijarah karena transaksi tersebut langsung berhubungan dengan interaksi sosial.

Simpulan

Setelah dilakukan kajian, analisis, serta pembahasan atas permasalahan yang telah dirumuskan, maka dapat disimpulkan bahwa :

Implementasi Akad Ijaroh pada Perum Pegadaian Syariah Cabang Solobaru belum sesuai dengan prisnsip Syariah. Hal itu dikarenakan praktek yang terjadi di lapangan masih terdapat beberapa hal yang dipandang menyalahi norma dan bisnis Islam, diantaranya adalah mestinya Akad Ijaroh adalah sewa manfaat bukan sewa modal, mestinya untuk konsumtif bisa menempuh akad qordul hasan (pinjaman tanpa bunga) .