Hubungi Kami di WA 08-951-951-3333

Hubungan Letak Tumor Nasofaring terhadap Derajat Tuli Konduksi

Judul Skripsi : Hubungan Letak Tumor Nasofaring terhadap Derajat Tuli Konduksi di THT-KL FK UNS/ RSUD Dr. Moewardi Surakarta

 

A. Latar Belakang Masalah Skripsi

Penemuan karsinoma nasofaring pada stadium dini masih sulit didapatkan. Umumnya terjadi karena letak tumor primer karsinoma nasofaring berada di daerah tersembunyi (terutama di daerah Fossa Rosenmulleri) yang sulit dilihat oleh pasien maupun dokter. Gejala dini bersifat ringan dan tidak khas. Keluhan yang timbul berhubungan erat dengan letak tumor di nasofaring. Oleh karena letak tumor nasofaring berdekatan dengan muara tuba Eustachius, sehingga akan menimbulkan gangguan fungsi tuba Eustachius. Dan keluhan pada telinga yang paling sering adalah keluhan gangguan pendengaran satu sisi telinga dan bersifat konduktif. Oleh karena itu diperlukan pemeriksaan obyektif, salah satunya dengan pemeriksaan audiometri nada murni untuk menilai derajat tuli konduksi (Mulyarjo, 2002).

Selain itu penelitian yang dilakukan Karya dkk. di Makasar (2007) membuktikan hubungan yang bermakna antara letak tumor dengan gambaran timpanometri pada penderita karsinoma nasofaring serta penelitian yang dilakukan Hidayat B, di Medan (2009), membuktikan hubungan bermakna antara gambaran timpanometri dengan letak tumor pada penderita karsinoma nasofaring. Maka peneliti tertarik untuk meneliti hubungan letak tumor nasofaring terhadap derajat tuli konduksi di THT-KL FK UNS/ RSUD Dr. Moewardi Surakarta.

 

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, dirumuskan permasalahan penelitian sebagai berikut; ”Adakah hubungan antara letak tumor nasofaring terhadap derajat tuli konduksi?”

 

C. Tujuan Penelitian

Tujuan umum

Menganalisis hubungan letak tumor nasofaring terhadap derajat tuli konduksi berdasarkan pemeriksaan nasofaringoskopi dan pemeriksaan audiometri nada murni pada penderita KNF.

Tujuan khusus

Mendeteksi secara dini bahwa gangguan pendengaran tipe konduksi pada satu telinga merupakan salah satu gejala dari KNF.

 

D. Simpulan

1. Terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara letak tumor nasofaring dengan derajat tuli konduksi telinga kanan dan kiri.

2. Letak tumor nasofaring yang menutup tuba Eustachius akan memiliki risiko 14 kali lebih besar mengalami tuli konduksi telinga kanan dan 20 kali lebih besar mengalami tuli konduksi telinga kiri.

 

E. Saran

1. Perlunya dilakukan pemeriksaan audiometri nada murni untuk mendiagnosis penderita yang dicurigai KNF yang disertai gangguan pendengaran pada satu telinga.

2. Didapatkannya keterbatasan pemeriksaan penunjang yang seharusnya dapat dilakukan pada penelitian ini, yaitu pemeriksaan timpanometri. Sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui gambaran audiometri nada murni dan timpanometri pada penderita KNF sebelum dan sesudah mendapatkan terapi.