Hubungan Kadar Laktat Darah Dan Skor Pelod (Pediatric Logistic Organ Dysfunction)

Latar Belakang Masalah Penyakit Pada Pasien

Hanya satu skor yang dapat mendeskripsikan beratnya sindrom disfungsi multi organ pada anak yaitu skor PELOD. Skor PELOD dibuat berdasarkan pengalaman klinis intensivist anak, penelusuran kepustakaan medis dan skor lain yang digunakan di PICU melalui penelitian konsekutif prospektif di beberapa PICU. Seluruh variabel klinis dan biologis yang digunakan berdasarkan kriteria disfungsi organ pada anak dan dewasa, seluruh variabel skor prediktif (PRISM, PIM dll) (Lacroix dan Cotting,2005). Penelitian kohort multisenter dilakukan di 7 PICU (2 di Perancis, 3 di Kanada dan 2 di Swiss) dengan sampel 1806 pasien telah membuktikan bahwa skor PELOD mempunyai validitas yang baik untuk mengukur beratnya sindrom disfungsi multi organ di PICU (Leteurtre dkk,2003).

Tingginya kadar laktat darah pada awal pemeriksaan dan kadar yang tetap tinggi, berhubungan dengan outcome yang buruk. Duke dkk melakukan penelitian secara prospektif pada 31 anak sepsis berat di PICU, ia menemukan bahwa laktat darah adalah prediktor mortalitas paling awal yang diketahui saat pengukuran sedini dininya 12 jam setelah masuk perawatan intensif. Kadar laktat darah > 3 mmol/L pada 12 jam setelah masuk PICU mempunyai nilai duga positif untuk kematian sebesar 56% (Agraval,2004). Belum pernah dilakukan penelitian untuk mengetahui hubungan kadar laktat darah yang menilai beratnya keadaan awal pasien saat masuk perawatan intensif dengan skor PELOD yang menilai disfungsi organ secara keseluruhan terhadap mortalitas pasien di PICU.

Rumusan masalah

  1. Apakah ada hubungan kadar laktat darah dengan skor PELOD?
  2. Adakah hubungan kadar laktat darah dan skor PELOD dengan mortalitas pasien di PICU RSDM?

Tinjauan Pustaka

  1. Pengertian Hiperlaktatmia

Hiperlaktatemia merupakan peningkatan kadar laktat darah diatas nilai normal, biasanya ada pada kondisi perfusi jaringan yang terpelihara dan sistem bufer yang cukup, yang mengkompensasi turunnya pH.

  1. Skor PELOD (Pediatric Logistic Organ Dysfunction)

Saat ini telah dilakukan peninjauan tentang kriteria disfungsi organ pada anak dan sistem skor untuk mengukur disfungsi organ pada anak. Tujuan primer yaitu untuk mengetahui penilaian disfungsi organ yang dapat diulang kembali (reproducible) sesuai perubahan fungsi organ.

Metodologi Penelitian

Penelitian kohort di PICU RSUD Dr. Moewardi Surakarta pada bulan April-Juni 2009 dan Oktober-Desember 2009 dengan 90 sampel.

Pada 6 jam pertama pasien menjalani pemeriksaan kadar laktat darah dan 10 macam pemeriksaan yang tercakup dalam skor PELOD.

Pasien mendapat perawatan sesuai standar pelayanan di PICU, kemudian dicatat keadaan saat keluar (hidup atau meninggal).

Hubungan antara kadar laktat darah, skor PELOD dan mortalitas dianalisis dengan regresi logistik berganda.

Kesimpulan

Dari penelitian ini terdapat 90 subyek penelitian dengan 42 pasien dengan kadar laktat darah > 3,2 mmol/L, diantaranya 28 pasien meninggal dunia dan 14 pasien hidup. Kadar laktat darah > 3,2 memiliki hubungan yang bermakna secara statistik dengan mortalitas (X2=21,24; p < 0,001). Dari 90 pasien yang masuk dalam penelitian, 37 pasien memiliki skor PELOD > 0, diantaranya 33 pasien meninggal dan hanya 4 pasien yang hidup. Skor PELOD > 0 memiliki hubungan yang bermakna secara statistik dengan mortalitas (X2=59,98; p < 0,001).

Analisis regresi linier kadar laktat darah dan skor PELOD menghasilkan garis yang mendekati nilai nol, R2 = 0,32, sehingga secara statitik didapatkan hubungan yang lemah.

Analisis regresi logistik berganda antara kadar laktat darah, skor PELOD dan mortalitas didapatkan hasil kadar laktat darah > 3,2 mmol/L memiliki risiko terjadinya mortalitas 1,62 kali dibandingkan kadar laktat darah ≤ 3,2 mmol/L secara statistik tidak signifikan (p = 0,433). Skor PELOD > 0 memiliki risiko terjadinya mortalitas sebesar 19,34 kali dibandingkan skor PELOD ≤ 0 secara statistik signifikan (p < 0,001).