Hubungan Antara Status Merokok Anggota Keluarga Dengan Lama Pengobatan ISPA Balita

Latar Belakang Masalah Penanganan Penyakit ISPA Pada Balita

Di Kecamatan Jenawi berdasarkan survey PHBS (Pola Hidup Bersih dan Sehat ) pada tatanan Rumah Tangga pada tahun 2007 terdapat 35,4% keluarga dimana dalam keluarga terdapat anggota keluarga yang merokok. Sedang tahun 2008 meningkat menjadi 79,5% keluarga(Data PHBS Puskesmas Jenawi, 2009).

Sementara itu orang yang berada di sekitar seorang perokok atau perokok pasif justru mempunyai resiko kesehatan yang lebih tinggi dibandingkan perokok aktif. Mereka menjadi mudah menderita kanker, penyakit jantung, paru dan penyakit lainnya yang mematikan. Mereka yang dikelilingi oleh asap rokok akan lebih cepat meninggal dibanding mereka yang hidup dengan udara bersih. Dan angka kematiannya meningkat 15% lebih tinggi (Pahimah,2007).

Rumusan masalah

Dengan latar belakang diatas, maka peneliti tertarik untuk meneliti hubungan antara status merokok anggota keluarga dengan lama pengobatan ISPA balita dalam keluarga tersebut. Rumusan permasalahan dalam penelitian ini adalah apakah status merokok anggota keluarga merupakan faktor resiko lama pengobatan ISPA balita dalam keluarga tersebut?

Tujuan penelitian

  • Tujuan Umum :

Untuk menganalisis hubungan antara status merokok anggota keluarga dengan lama pengobatan ISPA balita.

  • Tujuan khusus :

Untuk mengetahui bahwa status merokok anggota keluarga merupakan faktor resiko lama pengobatan ISPA balita.

Kesimpulan

Dari 83 responden penelitian, didapatkan sebanyak 4 ( 12,5 % ) keluarga yang tidak merokok anak balitanya menjalani pengobatan 5 hari atau lebih, sedangkan keluarga yang merokok terdapat 41 ( 80,4 % ) balitanya menjalani pengobatan 5 hari atau lebih. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kebiasaan merokok dalam keluarga merupakan faktor resiko terhadap lama pengobatan ISPA balita ( OR = 28,7, p < 0,01 )

Saran

  1. Dipakai sebagai upaya unttuk mempercepat terapi ISPA pada Balita dengan cara menghindari Kebiasaan Merokok dalam Keluarga.
  2. Menjadikan materi bebas asap rokok keluarga pada konseling dan edukasi pelayanan pasien ISPA oleh tenaga medis.
  3. Perlu penelitian lebih lanjut dengan ukuran sampel yang lebih besar,dan penentuan sampel yang menggunakan sistem random.
  4. Perlu penelitian lebih lanjut tentang faktor resiko lain yang berpengaruh pada lama terapi ISPA Balita.