Fungsi Jantung Diastolik dan Sistolik pada Penderita Talasemia Anak

Judul Skripsi : Hubungan Antara Kadar Feritin dengan Gangguan Fungsi Jantung Diastolik dan Sistolik  pada Penderita Talasemia Anak

 

A. Latar Belakang Masalah

Penelitian dampak feritin terhadap gangguan fungsi jantung masih kontroversi. Pada penelitian Renny Suwarniaty dkk. tahun 2006 didapatkan kesimpulan bahwa terdapat hubungan antara lama transfusi dengan rasio E/A >2.5, namun tidak didapatkan hubungan antara kadar serum feritin dengan gangguan fungsi ventrikel kiri pada pasien talasemia mayor yang mendapatkan transfusi secara multipel (Suwarniaty, 2007). Hasil penelitian ini ditunjang dengan penelitian Fajar Subroto dkk.

Tahun 2003 yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara tinggi kadar feritin dengan terjadinya disfungsi jantung (Subroto, 2003). Ashena, Ghafurian, Ehsani, 2007 memperoleh hasil yang sama yaitu tidak ada hubungan antara kadar feritin dengan gangguan fungsi diastolik (Ashena, 2007). Muhammad Ali dkk. Tahun 2006 di RS Ciptomangunkusumo mendapatkan hasil berlawanan, pada talasemia mayor terjadi fungsi ventrikel kiri yang abnormal, dan tingginya kadar feritin mempengaruhi abnormalitas fungsi diastolik (Ali, 2006).

 

B. Rumusan Masalah

Adakah hubungan antara kadar feritin dengan gangguan fungsi jantung diastolik dan sistolik pada penderita talasemia?

 

C. Tujuan Penelitian

Tujuan umum

Untuk menentukan hubungan antara kadar feritin dengan gangguan fungsi jantung diastolik dan sistolik terhadap penderita talasemia di RS. Dr. Moewardi Surakarta.

Tujuan khusus

  1. Mengidentifikasi kadar feritin penderita talasemia di RS. Dr. Moewardi Surakarta.
  2. Mengidentifikasi jumlah darah yang telah ditransfusikan dengan kadar feritin yang dapat menyebabkan gangguan fungsi jantung.
  3. Menilai gangguan fungsi jantung diastolik dan sistolik penderita talasemia yang secara berkala ditransfusi dan mendapatkan deferoksamin di RS. Dr. Moewardi Surakarta.
  4. Menganalisis hubungan kadar feritin terhadap gangguan fungsi jantung diastolik dan sistolik penderita talasemia di RS. Dr. Moewardi Surakarta.

 

D. Kesimpulan

Dari penelitian ini terdapat 30 subyek penelitian dengan 14 anak diantaranya mengalami kardiomiopati diastolik, tidak terdapat gangguan sistolik EF dan hanya terdapat 2 anak dengan kelainan fungsi sistolik FS. Kadar feritin tidak berhubungan dengan gangguan fungsi jantung baik terhadap gangguan fungsi diatolik E/A maupun terhadap gangguan fungsi jantung sistolik EF dan FS. Dari hasil perhitungan statistik didapatkan hasil hubungan kadar feritin terhadap E/A, EF dan FS masing-masing dengan nilai p= 0,083, p=997 dan p=0,844. Dilakukan pula analisis hubungan usia kronologis dan jumlah darah yang ditransfusikan dengan gangguan fungsi jantung diastolik dan sistolik memberikan hasil yang tidak bermakna (p>0.05).

 

E. Saran

Dari hasil penelitian ini, kadar feritin anak talasemia di RS Dr. Moewardi mempunyai kadar rata-rata 4422 ng/ml. Hal ini lebih tinggi dari batas aman yang dianjurkan yaitu 2500 ng/ml. Untuk itu diperlukan pengawasan akibat penimbunan besi pada organ-organ tubuh. Kadar feritin tidak berhubungan dengan gangguan fungsi jantung baik distolik maupun sistolik, untuk itu perlu dilakukan ekokardiografi tiap 6 bulan pada setiap anak talasemia tanpa memandang kadar feritinnya. Waspadai adanya miokarditis pada anak dengan talasemia karena dapat menyebabkan gagal jantung yang merupakan penyebab lix kematian utama anak talasemia. Untuk mengetahui perjalanan pengaruh feritin terhadap gangguan fungsi jantung perlu dilakukan penelitian kohort prospektif.