Evaluasi Kegagalan Pilar Pascarehabilitasi Jembatan Trinil Kabupaten Magelang

Judul Skripsi : Evaluasi Kegagalan Pilar Pascarehabilitasi Jembatan Trinil Kabupaten Magelang

A. Latar Belakang

Jembatan Trinil dibangun pada tahun 1965, kemudian direnovasi pada tahun 1972 dengan bentang 35 m dan lebar lantai jembatan 3,5 m. Karena lebar jembatan dipandang tidak mencukupi, maka pada tahun 2008 jembatan direncanakan untuk direhabilitasi.Rehabilitasi jembatan ini berupa pelebaran lantai jembatan dari 3,5 m menjadi 5 m. Menurut informasi yang didapat bahan konstruksi pilar dan pangkal jembatan dibangun dengan bahan pasangan batu kali. Pada saat ini pilar dan pondasi dalam keadaan miring. Secara visual pasangan pada pilar dalam keadaan utuh. Bagian tepi pondasi pilar digali dengan kedalaman 150 cm selanjutnya ditambah pasangan batu dan bagian dalam dicor beton siklop. Kondisi hidrologi Kali Progo terlihat dari lebar sungai termasuk relatif lebar, menunjukkan kemungkinan terjadi banjir sangat besar. Pada posisi potongan memanjang jembatan terlihat lebih sempit dibandingkan bagian hulu atau hilir jembatan. Tanah dasar sungai berupa campuran antara pasir (sand), kerikil dan lempung (clay). Secara konstruksi kondisi tanah dasar kelihatan menguntungkan. Bagian hilir jembatan terlihat terjadi gerusan yang sangat besar.

Pelaksanaan rehabilitasi oleh kontraktor berlangsung sampai dengan akhir Desember 2008. Sebelum diresmikan, pada 28 Februari 2009 pilar jembatan pertama dari arah Windusari ambles dan akhirnya jembatan tidak dapat dilalui. Pemerintah Kabupaten akhirnya terpaksa memasang jembatan bally sebagai jembatan darurat. Kondisi eksisting jembatan pada saat ini dapat dilihat pada Dimungkinkan amblesnya pondasi pilar jembatan Trinil ini dikarenakan meningkatnya beban yang bertambah akibat lebih lebarnya lantai jembatan dari 3,5 m menjadi 5 m dan beban sendiri gelagar yang sebelumnya baja komposit diganti gelagar beton pracetak prategang. Dengan kondisi tersebut tentu juga akan menambah lebih besar beban lantai akibat beban kendaraan. Pilar yang lama dimodifikasi dengan selimut yang juga menambah beban kolom pilar. Yang selanjutnya beban total yang terjadi pada pilar akan disalurkan ke pondasi dan didistribusikan ke permukaan tanah di dasar pondasi.

 

B. Rumusan Masalah

  1. Apa penyebab keruntuhan pilar pada jembatan Trinil pascarehabilitasi ?
  2. Bagaimana alternatif desain rehabilitasi pada jembatan Trinil Kabupaten Magelang pasca keruntuhan pilar?

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Dapat menentukan penyebab keruntuhan pilar dan pondasi jembatan Trinil Kabupaten Magelang.
  2. Dapat memberikan alternatif desain rehabilitasi pada jembatan Trinil Kabupaten Magelang.

 

D. Kesimpulan Skripsi

1. Penyebab keruntuhan pilar pada jembatan Trinil pasca rehabilitasi adalah karena dasar pondasi pilar terjadi scouring akibat dasar pondasi tidak berada di atas tanah keras. Bersamaan dengan itu gaya akibat debit banjir mengakibatkan gaya yang diterima oleh dasar pondasi bertambah, sehingga kombinasi antara scouring dan tegangan extern pada dasar pondasi mengakibatkan keruntuhan pada pilar. Dengan demikian direncanakan rehabilitasi jembatan yang tepat.

2. Desain alternatif rehabilitasi pada jembatan Trinil Kabupaten Magelang adalah

1) Alternatif I membangun kembali jembatan menggunakan gelagar lama, dua buah abutmen baru, tiga buah pilar baru dan slab baru

2) Alternatif II, membangun jembatan baru dengan rangka baja dengan dua buah abutmen baru dan slab baru. Alternatif I sebagai prioritas utama.