Dekonstruksi Makna Simbolik Kesenian Sintren

Judul Skripsi : Dekonstruksi Makna Simbolik Kesenian Sintren (Studi Kasus pada Paguyuban Sintren Slamet Rahayu Dusun Sirau, Kelurahan Paduraksa, Kecamatan Pemalang, Kabupaten Pemalang)

 

A. Latar Belakang

Kesenian sintren sebagai produk kebudayaan tentu mempunyai simbolsimbol yang mengandung makna pesan-pesan dan nasehat bagi generasi berikutnya. Namun pesan dan nasehat yang tersembunyi di balik simbol-simbol tersebut tidak akan memiliki makna, apabila simbol-simbol tersebut tidak dipahami atau dimengerti. Makna simbolik dalam perrtunjukan seni sintren tidak hanya ditandai dengan bagaimana pertunjukan seni sintren tersebut dipentaskan. Makna simbolik pertunjukan sintren harus tetap dicari sesuai dengan ruang dan waktu si pemakna. Dengan kata lain, makna simbolis yang melingkupi pertunjukan kesenian sintren tidak akan pernah berhenti atau akan terus mengalami dekonstruksi. Karena kesenian sintren sebagai hasil budaya bukan semata-mata yang dilakukan orang. Konteks semacam ini menyiratkan bahwa hasil budaya adalah sebuah refleksi pemikiran, tak sekedar buah hal-hal mekanik belaka. Oleh karena pemikiran manusia sering berbaur dengan intuisi yang futuristik, sehingga mampu menerobos ruang dan waktu (Endraswara. 2006:9).

Dekonstruksi sebagai pemaknaan lebih lanjut terhadap simbol-simbol haruslah dipandang sebagai suatu proses yang tidak pernah berhenti sehingga dan waktu si pemakna. Walaupun sejarah telah berupaya menyusun periodeisasi aktivitas manusia beribu-ribu tahun yang lalu, tetapi sebagaimana pandangan totalitas terhadap kehidupan bahwa pada dasarnya dalam sejarah manusia tidak pernah terdapat keterpisahan secara mutlak antara pemikiran, tindakan, ruang dan waktu sebagai sebuah momen

 

B. Rumusan Masalah

  1. Mengapa terjadi dekonstruksi makna simbolik kesenian sintren pada Paguyuban Sintren Slamet Rahayu Kelurahan Paduraksa, Kabupaten Pemalang ?
  2. Bagaimanakah dekonstruksi makna simbolik kesenian sintren Paguyuban Sintren Slamet Rahayu Kelurahan Paduraksa, Kabupaten Pemalang terjadi ?

 

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konstruksi dan dekonstruksi makna simbolik kesenian sintren Paguyuban Sintren Slamet Rahayun Dusun Sirau Kelurahan Paduraksa Kabupaten Pemalang.

2. Tujuan Khusus

  • Untuk mengetahui dan memahami kejelasan sebab terjadinyadekonstruksi makna simbolik kesenian sintren Paguyuban Sintren Slamet Rahayu Dusun Sirau, Kelurahan Paduraksa, Kabupaten Pemalang .
  • Untuk mengetahui dan memahami kejelasan proses terjadinya dekonstruksi makna simbolik kesenian sintren Paguyuban Sintren Slamet Rahayu dusun Sirau, Kelurahan Paduraksa, Kabupaten Pemalang .

 

D. Kesimpulan Skripsi

Pertama, dekonstruksi yang terjdi atas makna simbolik kesenian sintren merupakan pembacaan ulang atas kesenian sintren sebagai benda budaya (teks budaya) yang disebabkan oleh dua fenomena, yaitu

1) opini dan apresiasi masyarakat terhadap eksistensi kesenian sintren, yaitu perlunya pemaknaan ulang terhadap makna simbolik pertunjukan kesenian sintren

2) kesenian sintren di tengah arus kesenian modern, yaitu adanya tekanan arus dan industrialisasi dalam kapitalisme global yang menjadikan kesenian sintren berjalan lurus menuju ke pemakamannya.

Kedua, proses terjadinya dekonstruksi makna simbolik kesenian sintren merupakan jejak-jejak yang terjadi dalam dekonstruksi yang kejelasannya dapat diketahui dan dipahami melalui dua proses yaitu

1) dari sebuah romantisme dan kemenjadian dari sebuah romantisme masyarakat akan hadirnya figur pemimpin yang arif dan bijaksana yang telah hilang di tanah pesisisr Jawa dan gaya hidup akibat pengaruh modernisasi yang dibawa oleh pemerintah kolonial belanda atas golongan masyarakat pribumi dengan gaya seadanya

2) sintren dari kesenian rakyat menjadi kesenian modern yaitu bagaimana kesenian sintren sebagai warisan budaya yang adiluhung menjadi sekedar pemenuhan nafsu selera modernisasi yang menjadikan sakralitas .