Dampak Alih Fungsi Lahan terhadap Kondisi Penataan Air di Das Samin

Judul Tesis : Dampak Alih Fungsi Lahan terhadap Kondisi Penataan Air di Das Samin

 

A. Latar Belakang Masalah

Hasil analisis peta RBI terbitan tahun 2000, menunjukkan bahwa Sub DAS Samin mempunyai luasan 34.326 ha dengan penutupan lahan berupa air tawar 250 ha, Gedung 6 ha, kebun 3.333 ha, pemukiman 8.778 ha, rumput 39 ha, sawah irigasi 15.628 ha, sawah tadah hujan 10 ha, tegalan 4.277 ha, belukar/semak 1.389 ha, tanah berbatu 3 ha dan hutan seluas 418 ha. Di dalamnya memuat Sub-Sub DAS Ngunut I dan Sub-Sub DAS Tapan dan merupakan salah satu DAS kritis di Jawa Tengah yang perlu dikelola dengan baik sehingga perlu dievaluasi kembali kondisi Sub DAS nya yang tercermin melalui kondisi hidrologi.

Sesuai dengan 14 prinsip dasar Ilmu Lingkungan, maka pada kegiatan penelitian termasuk dalam prinsip dasar yang ke-13 yakni “ Lingkungan secara fisik mantap memungkinkan terjadinya penimbunan keanekaragaman biologi dalam ekosistem yang mantap kemudian dapat mengalahkan kemantapan populasi “. Pentingnya memperluas ruang lingkup ekologi murni menjadi ilmu lingkungan yang memiliki batasan lebih luas.Untuk menilai perkembangan atau perubahan kondisi suatu DAS maka parameter-parameter tersebut harus diukur selama kurun waktu minimal 10 tahun.

 

B. Rumusan masalah

  1. Bagaimana kondisi penutupan lahan pada tahun 1997 dan tahun 2007
  2. Bagaimana pengaruh perubahan penutupan lahan terhadap kondisi?
  3. Bagaimana pengaruh perubahan penutupan lahan terhadap jumlah sedimen?

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Mempelajari perubahan penutupan lahan pada tahun 1997 dan tahun 2007.
  2. Mengevaluasi kondisi tata air kurun waktu 10 tahun (tahun 1997 dan atau hingga tahun 2007) dengan menggunakan 5 parameter pada Sub-Sub DAS Ngunut I dan Sub-Sub DAS Tapan di Sub DAS Samin.
  3. Mempelajari faktor yang berpengaruh terhadap besarnya nilai Qs (sedimen suspensi).

 

D. Kesimpulan

1. Terdapat hubungan kuat antara pengalihan fungsi lahan dengan tata air :

a. Sub-Sub DAS Ngunut I :

Menyebabkan terjadinya penurunan sedimen dari 26.88 mm/ tahun menjadi 0.26 mm/tahun.

b. Sub-Sub DAS Tapan :

Menyebabkan terjadinya penurunan sedimen dari 36.15 mm/ tahun menjadi 0.58 mm/tahun.

2.  Kondisi kesehatan DAS dapat dilihat dari 5 paramater yakni nilai KRS, nilai CV, nilai IPA, nilai Koefisien Limpasan (C) dan tingkat sedimentasi yang masing-masing mempunyai standar sesuai pada lampiran 4, dapat disimpulkan bahwa :

a. Pada Sub-Sub DAS Ngunut I memiliki nilai rerata KRS sebesar 1774.97 m3/detik termasuk kategori buruk, nilai rerata CV sebesar 2.30 termasuk kategori buruk, nilai rerata C sebesar 0.37 termasuk kategori sedang), nilai IPA untuk desa pada Sub-Sub DAS Ngunut I sebesar 0.2 mm/tahun termasuk kategori baik dan tingkat sedimentasi pada Sub-Sub DAS Ngunut I sebesar 13.88 mm/tahun termasuk buruk

b. Pada Sub-Sub DAS Tapan memiliki nilai rerata KRS sebesar 69,23 m3/detik termasuk kategori sedang, nilai rerata CV sebesar 1.18 kategori buruk, nilai rerata C sebesar 1.43 termasuk kategori buruk, nilai IPA untuk desa pada Sub-Sub DAS Tapan sebesar 0.08 mm/tahun termasuk kategori buruk dan tingkat sedimentasi pada Sub- Sub DAS Tapan sebesar 79.33 mm/tahun termasuk buruk.

c. Jumlah sedimen menurun dengan adanya perubahan penutupan lahan baik pada Sub-Sub DAS Ngunut I maupun pada Sub-Sub DAS Tapan.