Skripsi Akutansi: Faktor yg Mempengaruhi Tingkat Underpricing pd Perusahaan yg Go Public

Judul Skripsi : Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Underpricing pada Perusahaan yang Go Public di Bursa Efek Jakarta Tahun 2001-2005

 

A. Latar Belakang

Ketetapan harga pada penawaran perdana akan memiliki konsekuensi langsung terhadap tingkat kesejahteraan pada pemilik lama (emiten). Pihak emiten tentu menerapkan harga jual yang tinggi karena dengan harga jual yang tinggi penerimaan dari hasil penawaran (proceeds) akan tinggi pula, yang berarti kesejahteraan (wealth) mereka juga akan semakin membaik. Di sisi lain, harga yang tinggi akan mempengaruhi respon atau minat investor untuk membeli atau memesan saham yang ditawarkan. Bila harga terlalu tinggi dan minat investor rendah, besar kemungkinan saham yang ditawarkan tidak akan laku. Akibatnya penjamin emisi (underwriter) harus menanggung resiko atas saham yang tidak terjual untuk suatu penjamin yang full commitment. Dengan demikian jelas bahwa penetapan harga yang layak merupakan tugas antara emiten dengan underwriter.

Untuk menciptakan harga saham yang ideal, terlebih dahulu perlu dipelajari faktor-faktor yang mempengaruhi gejala underpricing. Mengetahui faktor yang mempengaruhi underpricing akan menghindarkan perusahaan yang akan go public terhadap kerugian karena underestimate atas nilai pasar sahamnya. Ronald J (Trisnaningsih, 2005) menyatakan bahwa auditor dan underwriter mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap underpricing. Mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi underpricing telah dilakukan penelitian oleh Nurhayati dan Nur Indriantoro (1997), namun tidak berhasil menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan antara faktor-faktor reputasi auditor, underwriter, presentase pemilikan saham yang ditahan oleh pemegang saham lama, umur perusahaan, dan ukuran perusahaan terhadap tingkat underpriced. Penelitian ini juga telah dilakukan oleh Rosyati dan Sebeni (2002), hasil analisisnya menyatakan bahwa reputasi underwriter, auditor, dan umur perusahaan mempengaruhi underpricing sedangkan faktor pasar tidak berpengaruh terhadap underpricing.

 

B. Rumusan Masalah

  1. Apakah faktor-faktor reputasi underwriter, financial leverage, return on equity, proceeds, dan jenis industri berpengaruh secara simultan terhadap tingkat underpricing pada perusahaan yang go public di Bursa Efek Jakarta?
  2. Apakah faktor-faktor reputasi underwriter, financial leverage, return on equity, proceeds, dan jenis industri berpengaruh secara parsial terhadap tingkat underpricing pada perusahaan yang go public di Bursa Efek Jakarta?

 

C. Landasan Teori

Go Public

Fenomena untuk menjadi perusahaan publik semakin diminati oleh perusahaan dalam beberapa tahun belakang ini. Banyak pendapat yang menjustifikasi manfaat yang diperoleh perusahaan dengan menjadi perusahaan publik. Pagano et. al. (Jogiyanto, 2000) menyatakan beberapa alasan perusahaan untuk melakukan go public yaitu: mengatasi kendala pinjaman, mempunyai bargaining yang lebih besar dari bank, diversifikasi likuiditas dan portofolio, monitoring, pengakuan investor dan perubahan modal.

Penawaran Umum Perdana/IPO

Penawaran umum perdana/IPO atau disebut juga unseasoned equity offering adalah suatu peristiwa dimana untuk pertama kalinya suatu perusahaan menjual/menawarkan sahamnya kepada khalayak ramai (public) di pasar modal. Selain adanya biaya penawaran (footing fees) yang harus ditanggung, sebagian orang masih menganggap bahwa IPO masih merupakan salah satu cara termudah dan termurah bagi perusahaan untuk memenuhi kebutuhan dana sebagai konsekuensi dari semakin berkembangnya perusahaan dan meningkatkan kebutuhan dana investasi (Gumanti dalam Sudento, 2003).

Fenomena Underpricing

Underpricing terjadi ketika harga pada saat IPO lebih rendah dibandingkan pada saat diperdagangkan di pasar sekunder. Keadaan ini umum terjadi pada hampir setiap pasar modal, mencermati hal tersebut dan bukti-bukti empiris fenomena underpricing pada akhirnya dapat dijelaskan melalui: Asymetric Information Theory, Signaling Theory, dan Efficient Market Theory (Pujiharjanto dalam Isworo, 2007).

 

D. Metode Penelitian

Sampel penelitian yang diambil adalah perusahaan yang listing di Bursa Efek Jakarta dari tahun 2001-2005 dan mengalami underpriced.

Jumlah sampel yang memenuhi kriteria tersebut ada 36 perusahaan. Untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan dilakukan proses pengumpulan data melalui dokumentasi.

Hipotasis diuji dengan model regresi linear berganda.

 

E. Kesimpulan

  1. Secara simultan variabel bebas tidak terbukti mempengaruhi variabel terikat underpricing pada perusahaan yang melakukan IPO di Bursa efek Jakarta pada tahun 2001-2005. Hal ini dapat dilihat dari besarnya F-hitung sebesar 0.714 yang signifikan pada tingkat signifikansi 5%. Akan tetapi model yang digunakan hanya mampu menjelaskan besarnya variasi dalam variabel terikat sebesar 0.7%. Kecilnya sumbangan variabel dependen dalam menjelaskan fenomena underpricing, menunjukkan bahwa investor dalam melakukan investasi kurang memperhatikan aspek-aspek fundamental perusahaan dan sinyal-sinyal yang ada. Dalam hal ini pihak pemodal masih bertindak irasional, spekulatif dan hanya ikut-ikutan, tanpa mempertimbangkan faktor-faktor yang rasional.
  2. Variabel independen yang berpengaruh secara parsial terhadap underpricing adalah hanya variabel return on equity (ROE) sehingga secara langsung variabel independen inilah yang paling dominan mempengaruhi underpricing pada perusahaan yang melakukan IPO di Bursa efek Jakarta pada tahun 2001-2005. Hal ini dapat dilihat dari besarnya t-hitung sebesar 0.031 yang signifikan pada tingkat signifikansi 5%.

 

Contoh Skripsi Akutansi

  1. Penggunaan Informasi Keuangan untuk Memprediksi Laba dan Arus Kas Perusahaan Go Public di Indonesia
  2. Analisis Pengaruh Faktor Fundamental dan Kurs Valuta Asing terhadap Return Saham Sektor Telekomunikasi
  3. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Underpricing pada Perusahaan yang Go Public
  4. Analisis Pengaruh Rasio-Rasio Keuangan dalam Memprediksi Perubahan Laba pada Perusahaan Manufaktur
  5. Hubungan Antara Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban dengan Efektivitas Pengendalian Biaya