Keefektifan Kompres Tepid Sponge dalam Menurunkan Demam Pada Anak

Latar Belakang Masalah Kecerdasan Ibu Dalam Penyembuhan Penyakit Pada Anak

Dalam keperawatan komunitas, penanganan demam secara mandiri oleh orang tua khususnya ibu penting untuk dilakukan. Karena prognosis anak dengan demam dapat menjadi kejang demam yang merupakan salah satu gawat darurat anak apabila tidak segera ditangani. Teknik kompres Tepid Sponge merupakan teknik kompres yang mudah yang dapat dilakukan dengan mudah oleh tenaga kesehatan bahkan oleh orang tua khususnya ibu apabila telah mendapatkan pendidikan kesehatan. Data dari Puskesmas mumbulsari menyebutkan peningkatan pasien anak dengan demam pada bulan Nopember–Desember 2010 masing-masing 15, 17, dan 20 anak pada bulan Desember 2010 dimana 80% dari pasien adalah pasien Askeskin (PKM Mumbulsari, 2010).

Berdasarkan permasalahan diatas, penulis bermaksud melakukan penelitian yang akan menganalisis keefektifan teknik kompres Tepid Sponge yang dilakukan Ibu dalam menurunkan demam pada anak di Puskesmas Mumbulsari.

Perumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah yang telah dikemukakan tersebut di atas, maka masalah yang dikaji dalam penelitian ini dapat dirumuskan: Apakah teknik kompres Tepid Sponge yang dilakukan ibu efektif dalam menurunkan demam pada anak?

Tinjauan Pustaka

  1. Konsep Pendidikan Kesehatan

Semua petugas kesehatan telah mengakui bahwa pendidikan kesehatan penting untuk menunjang program-program kesehatan yang lain. Akan tetapi pada kenyataannya pengakuan ini tidak didukung oleh kenyataan.

  1. Konsep Anak

Memahami anak-anak dan pertumbuhan serta perkembangan mereka merupakan hal yang esensial untuk meningkatkan kesehatan dan menetapkan pola yang sehat.  Perawtan harus memiliki pemahaman yang jelas tentang pertumbuhan yang normal serta tahap perkembangan untuk membimbing dan meningkatkan kondisi normal dan untuk mendeteksi dan mencegah kondisi abnormal.

Masa prasekolah berkorelasi dengan tingkat prelogikal yang ditandai dengan pemikiran mistik, egosentris, dan pemikiran yang didominasi dengan persepsi bukan abstraksi. Pemikiran mistik meliputi animisme, dan kepercayaan yang tidak realistik tentang kekuatan dan harapan. Anak mungkin percaya bahwa hujan turun karena ada orang yang sedang membawa payung, matahari terbenam karena lelah, dan perasaan kecewa pada sibling yang membuat dia sakit (Kliegman et all., 2007).

Metode Penelitian

Analisis yang digunakan adalah t – test dengan P value perbedaan rerata penurunan suhu masing-masing kelompok pada menit ke-5=0,079, menit ke- 15=0,956, menit ke-30=0,030, menit ke-60=0,000, menit ke-90=0,032 dan menit ke-120=0,010.

Kesimpulan

  1. Penurunan suhu tubuh pada anak dengan perlakukan kompres konvensional maupun kompres hangat tepid sponge terjadi pada pengukuran suhu tubuh menit ke-5 sampai menit ke-90. Setelah itu suhu tubuh anak kembali naik.
  2. Perbedaan rerata penurunan suhu tubuh antara anak yang dilakukan kompres konvensional dan anak dengan kompres hangat tepid sponge terjadi pada mulai menit ke-30 sampai dengan menit ke-120. Pada menit ke-5 dan ke-15 tidak terdapat perbedaan penurunan suhu yang signifikan antara kedua kelompok.
  3. Kompres hangat tepid sponge yang dilakukan Ibu efektif dalam menurunkan suhu tubuh pada anak dengan demam.

Kebijakan Pengangkatan Tenaga Honorer Menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil

Latar Belakang Pengangkatan Pegawai Negeri Sipil

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara telah menetapkan formasi Calon Pegawai Negeri Sipil tahun 2009 untuk Kabupaten Klaten sebanyak 505 orang yang akan ditempatkan di seluruh wilayah Kabupaten Klaten, yang dituangkan dalam Surat Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor : 102.PM/M.PAN/9/2009 tanggal 7 September 2009 perihal Persetujuan Rincian Formasi Calon Pegawai Negeri Sipil Daerah Tahun 2009 untuk Pelamar Umum, Tenaga Honorer dan Sekretaris Desa. Formasi tersebut disesuaikan dengan kebutuhan PNS dan diutamakan untuk bidang pelayanan seperti pendidikan, kesehatan dan teknis strategis lainnya. Untuk tahun 2009 Kabupaten Klaten mendapat alokasi CPNS sebesar 505 orang yang terdiri dari 70 untuk tenaga honorer, 418 dari pelamar umum dan 17 sekretaris desa.

Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2007 sebagai produk kebijakan publik diharapkan dapat mengakomodir tuntutan semua tenaga honorer untuk dapat diproses menjadi calon pegawai negeri sipil. Akan tetapi fakta di Kabupaten Klaten menunjukkan bahwa implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2007 tersebut justru menimbulkan berbagi permasalahan dan ketidakpuasan dari para tenaga honorer yang belum bisa diproses menjadi calon pegawai negeri sipil.

Perumusan Masalah

  1. Apakah pengangkatan tenaga honorer menjadi calon pegawai negeri sipil (CPNS) di Kabupaten Klaten berdasar PP Nomor 43 Tahun 2007 sudah efektif?
  2. Faktor-faktor penghambat apakah yang dihadapi Pemerintah Kabupaten Klaten dalam penerapan/implementasi PP Nomor 43 Tahun 2007 tentang Pengangkatan Tenaga Honorer menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil?

Landasan Teori

  1. Kajian Tentang Kebijakan Publik (Public Policy)
  2. Definisi kebijakan publik
  3. Teori pengambilan kebijakan
  4. Proses Pembuatan kebijakan
  5. Analisis kebijakan
  6. Implementasi Kebijakan (Policy Implementation)
  7. Efektifitas Bekerjanya Hukum
  8. Tinjauan Tentang Pegawai Negeri Sipil
  9. Tinjauan Tentang Tenaga Honorer

Berdasarkan kerangka teori yang telah dipaparkan, dapatlah kemudian dibuat kerangka dasar pemikiran penelitian Implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Pengangkatan Tenaga Honorer menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil di Kabupaten Klaten,  dengan menggunakan teori dari Soerjono Soekanto mengenai lima faktor yang mempengaruhi penegakan hukum, yaitu : faktor hukumnya sendiri, faktor penegak hukum, faktor sarana atau fasilitas, faktor masyarakat, dan faktor kebudayaan.

Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian hukum sosiologis, karena bertitik tolak dari data primer, yakni diperoleh langsung dari masyarakat sebagai sumber pertama dengan melalui penelitian lapangan, yang dilakukan baik melalui pengamatan (observasi) dan wawancara.

Penelitian hukum sebagai penelitian sosilogis (empiris) dapat direalisasikan terhadap efektifitas hukum yang sedang berlaku ataupun penelitian terhadap identifikasi hukum. Penelitian ini mengambil lokasi di Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Klaten untuk lebih memudahkan akses mendapatkan sumber atau informasi mengenai data yang dibutuhkan dalam penelitian ini dan mendasarkan tempat tinggal peneliti yang berada di wilayah lokasi penelitian sehingga tingkat pengamatan, pengkajian dan analisa terhadap objek penelitian diharapkan lebih cermat.

Kesimpulan

  1. Bahwa pelaksanaan pengangkatan tenaga honorer menjadi calon pegawai negeri sipil di Kabupaten Klaten berdasar Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2007 tentang Pengangkatan Tenaga Honorer menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil tidak efektif
  2. Faktor-faktor penghambat yang dihadapi Pemerintah Kabupaten Klaten dalam penerapan/implementasi PP Nomor 43 Tahun 2007 tentang Pengangkatan Tenaga Honorer menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil adalah sebagai berikut :
  3. Faktor Hukumnya Sendiri
  4. Faktor Penegak Hukum
  5. Faktor Sarana atau Fasilitas
  6. Faktor Masyarakat
  7. Faktor Kebudayaan

Analisis Pengaruh Motivasi, Kepuasan, Komitmen Terhadap OCB

Latar Belakang Motivasi, Kepuasan-Komitmen Terhadap Ocb

Kepuasan kerja seharusnya merupakan penentu utama dari organizational citizenship behavior. Karyawan yang puas akan lebih mungkin berbicara positif tentang organisasi, membantu orang lain dan jauh lebih melebihi harapan yang normal dalam pekerjaan mereka. Akan tetapi bukti terbaru mengemukakan bahwa kepuasan mempengaruhi organizational citizenship behavior, namun melalui persepsi keadilan.

Bagan Organizational Citizenship Behavior
Bagan Organizational Citizenship Behavior

 

Kontribusi tersebut seperti perilaku menolong sesama yang lain, kerelaan melakukan pekerjaan tambahan, menjunjung prosedur dan aturan kerja tanpa menghiraukan permasalahan pribadi, merupakan satu bentuk dari prosocial behaviour, sebagai perilaku sosial yang positif, konstruktif, dan suka memberi pertolongan”. Agar perilaku ekstra peran ditunjukkan dengan baik, maka peran seorang pemimpin sangatlah diperlukan. Kepemimpinan transformasional (transformational leadership) merupakan salah satu diantara sekian model kepemimpinan.

Salah satu upaya memperbaiki kualitas penyelenggaraan pelayanan kepada masyarakat adalah pendekatan dilihat dari aspek manusia (human approach). Seseorang dapat melakukan sesuatu pekerjaan, tentu dengan maksud dan tujuan tertentu baik sebelum bekerja.

Dari uraian diatas fukus dalam penelitian ini adalah hubungan motivasi pelayanan publik, kepuasan kerja dan komitmen organisasi dengan OCB pada karyawan unit SPBU PD. Bengkel Terpadu Kabupaten Sragen.

Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, perumusan masalah dalam penelitian ini antara lain :

  1. Apakah motivasi melayani publik (public service motivation) berpengaruh terhadap perilaku dari organizational citizenship behaviour (OCB) pada Karyawan Unit SPBU PD. Bengkel Terpadu Kabupaten Sragen?
  2. Apakah kepuasan kerja berpengaruh terhadap perilaku dari organizational citizenship behaviour (OCB) pada Karyawan Unit SPBU PD. Bengkel Terpadu Kabupaten Sragen?
  3. Apakah komitmen berpengaruh terhadap perilaku dari organizational citizenship behaviour (OCB) pada Karyawan Unit SPBU PD. Bengkel Terpadu Kabupaten Sragen?

Tujuan Penelitian

Berdasarkan uraian latar belakang dan perumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini antara lain :

  1. Untuk mengetahui pengaruh motivasi terhadap perilaku dari organizational citizenship behaviour (OCB) pada Karyawan Unit SPBU PD. Bengkel Terpadu Kabupaten Sragen.
  2. Untuk mengetahui pengaruh kepuasan kerja terhadap perilaku dari organizational citizenship behaviour (OCB) pada Karyawan Unit SPBU PD. Bengkel Terpadu Kabupaten Sragen.
  3. Untuk mengetahui pengaruh komitmen terhadap perilaku dari organizational citizenship behaviour (OCB) pada Karyawan Unit SPBU PD. Bengkel Terpadu Kabupaten Sragen.
Analisis Pengaruh Motivasi, Kepuasan, Komitmen Terhadap OCB
Analisis Pengaruh Motivasi, Kepuasan, Komitmen Terhadap OCB

 

Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan, beberapa kesimpulan dalam penelitian ini antara lain:

  1. Dari ketiga variabel motivasi, kepuasan dan komitmen, rata-rata masuk dalam penilaian baik/tinggi. Yang paling tinggi skornya adalah adalah komitmen organisasi (3,272) yang paling kecil adalah motivasi (3,054).
  2. Motivasi (pelayanan publik / PSM ) berpengaruh positif terhadap perilaku OCB karyawan Unit SPBU PD. Bengkel Terpadu Kabupaten Sragen.
  3. Kepuasan kerja berpengaruh positif terhadap perilaku OCB karyawan Unit SPBU PD. Bengkel Terpadu Kabupaten Sragen.
  4. Komitmen organisasi berpengaruh positif terhadap perilaku OCB karyawan Unit SPBU PD. Bengkel Terpadu Kabupaten Sragen.
  5. Motivasi, kepuasan kerja dan komitmen secara serempak berpengaruh positif terhadap perilaku OCB karyawan Unit SPBU PD. Bengkel Terpadu Kabupaten Sragen.
  6. Perilaku ekstra peran (OCB) bagi unit usaha daerah seperti unit SPBU, adalah sangat penting, mengingat selain membawa misi usaha yang berorientasi profit, juga membawa misi sosial sebagai penyeimbang dan penyangga kebutuhan BBM masyarakat

Upaya peningkatan penguasaan IPA melalui Metode Kerja Kelompok

Laporan Penelitian Tindakan Kelas – Judul lengkap dari laporan penelitian tindakan kelas ini adalah “Upaya peningkatan penguasaan IPA konsep energi dan perubahannya melalui metode kerja kelompok pada siswa kelas IV SDN”. Penelitian ini didasarkan pada pemahaman bahwa Metode pembelajaran merupakan salah satu komponen terpenting dalam perencanaan kegiatan pembelajaran karena metode pembelajaran merupakan sarana yang dapat membantu proses belajar siswa pendapat para ahli bahwa metode pembelajaran adalah cara atau jalan menyajikan atau melaksanakan kegiatan untuk mencapai tujuan.

Learning Center
Learning Center

Dalam pembelajaran Metode mempunyai pesan yang sangat penting untuk mencapai tujuan pembelajaran dengan metode yang tepat siswa akan aktif dan terangsang untuk belajar.

Permasalahan Penelitian Tindakan Kelas

Untuk mencapai Kriteria ketuntasan belajar minimal perlu adanya upaya peningkatan kualitas dan prestasi pemahaman. Berkaitan dengan itu perlu juga adanya peningkatan. Kinerja guru dalam proses perbaikan pembelajaran. Agar tingkat prestasi beserta fungsinya pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dapat tercapai maka penggunaan metode Kerja Kelompok diperlukan sehubungan dengan hal itu penulis sengaja mengangkat permasalahan dalam penelitian Tindakan kelas untuk proses perbaikan pembelajaran sebagai berikut :

  • Apakah penggunaan metode kerja kelompok dapat meningkatkan penguasaan konsep energi dan perubahannya pada mata pelajaran IPA bagi siswa kelas IV SDN?

Berawal dari akar permasalahan di atas maka dirumuskan suatu permasalahan dalam Penelitian Tindakan Kelas dalam kegiatan proses perbaikan pembelajaran adalah:

  • Sejauh mana tingkat penguasaan penggunaan metode kerja kelompok konsep energi dan perubahannya Mata pelajaran IPA bagi siswa kelas IV.

Langkah-Langkah Penyelesaian Penelitian Tindakan Kelas

Masalah yang telah dirumuskan pada rumusan masalah di atas dilakukan pemecahan masalah (pencarian solusi) dengan menyusun langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Membuat rencana perbaikan yang melibatkan siswa dikelompokkan 
dalam pembelajaran sebanyak 2 siklus,
  2. Membuat rencana kegiatan siswa yang memperhatikan 3 aspek
  3. ketrampilan proses yaitu mengamati, menggolongkan dan
  4. mendemonstrasikan.
c. Menyediakan media yang diperlukan.
  5. Melaksanakan pembelajaran perlaikan penilaian proes, refleksi 
sebanyak 2 siklus.
  6. Melaksanakan analisis kemajuan siswa

Langkah-langkah pemecahan masalah tersebut di atas dipilih karena sesuai dengan pembelajaran yang diisyaratkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

Dengan diadakannya Penelitian Tindakan Kelas mengangkat masalah : “Upaya peningkatan penguasaan IPA tentang Konsep Energi Dan Perubahannya Melalui Metode Kerja Kelompok Bagi Siswa Kelas IV SDN ini diharapkan, dapat bermanfaat antara lain yaitu:

  • Bagi siswa sebagai peserta didik
    1. Mampu meningkatkan penguasaan terhadap materi energi dan 
perubahannya sehingga prestasi belajar meningkat.
    2. Mengembangkan motivasi siswa.
    3. Memperbaiki prestasi belajar IPA.
  • Bagi guru sebagai pendidik
    1. Dapat mengetahui kelemahan dan kekurangan dalam menyampaikan 
proses pembelajaran.
    2. Meningkatkan keproporsional guru dalam mengajar
    3. Mampu meningkatkan mutu prestasi serta kinerja guru.
  • Bagi Sekolah
    1. Penciptaan kondisi pembelajaran di sekolah.
    2. Membantu perkembangan sekali untuk peningkatan prestasi dan 
kriteria katentuan minimal pada sekolah tersebut.

Siswa Praktek Metode Kerja Kelompok

Metode Kerja Kelompok


 

Sagala (2006) mengatakan bahwa metode kerja kelompok adalah metode pembelajaran dimana siswa dalam kelas dibagi dalam beberapa kelompok, dimana setiap kelompok dipandang sebagai satu kesatuan tersendiri untuk mempelajari materi pelajaran yang telah ditetapkan untuk diselesaikan secara bersama-sama.

Pada umumnya materi pelajaran yang harus dikerjakan secara bersama-sama dalam kelompok itu diberikan atau disiapkan oleh guru. Materi itu harus cukup komplek isinya dan cukup luas ruang lingkupnya sehingga dapat dibagi-bagi menjadi bagian yang cukup memadai bagi setiap kelompok. Materi hendaknya membutuhkan bahan dan informasi dari berbagai sumber untuk pemecahannya. Masalah yang bisa diselesaikan hanya dengan membaca satu sumber saja tentu tidak cocok untuk ditangani melalui kerja kelompok. Kelompok dapat dibentuk berdasarkan perbedaan individual dalam kemampuan belajar, perbedaan bakat dan minat belajar, jenis kegiatan, materi pelajaran, dan tujuan yang ingin dicapai. Berdasarkan tugas yang harus diselesaikan, siswa dapat dibagi atas kelompok paralel yaitu setiap kelompok menyelesaikan tugas yang sama, dan kelompok komplementer dimana setiap kelompok berbeda-beda tugas yang harus diselesaikan.

Metode kerja kelompok dapat diartikan sebagai bekerjanya sejumlah siswa, baik sebagai anggota kelas secara keseluruhan maupun sebagai anggota kelompok yang lebih kecil, untuk mencapai suatu tujuan tertentu secara bersama-sama. Oleh karena itu, kerja kelompok di dalam laporan penelitian tindakan kelas ini juga ditandai oleh: 1) Adanya tugas bersama; 2) Pembagian tugas dalam kelompok ; dan 3) Adanya kerja sama antara anggota kelompok dalam penyelesaian tugas kelompok.

 

Incoming search terms:

Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan dan Kepercayaan

Latar Belakang Masalah Kualitas Pelayanan-Kepercayaan Nasabah

Adanya berbagai prosedur dan persyaratan sangat ketat diterapkan oleh manajemen PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Kantor Cabang Wonogiri menyebabkan kreditur merasakan ketidakpuasannya, tetapi manajemen menerapkan sistem ini dengan mengacu pada peraturan Bank Indonesia. Untuk menjaga kualitas pelayanan yang harmonis diantara kreditur dan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Kantor Cabang Wonogiri maka yang dibutuhkan adalah kreditur yang kooperatif yaitu memberikan informasi yang diminta secara memuaskan, bertemu dengan manajemen pihak kreditur paling sedikit dua kali setahun, tidak  memberikan informasi masa lalu yang tidak benar.

Kepuasan dan Kepercayaan Pelanggan
Kepuasan dan Kepercayaan Pelanggan

 

Sebuah bank yang solid harus di dukung dengan alat likuid yang memadai agar setiap saat mampu memenuhi kebutuhan dana para nasabahnya disamping juga sistem pelayanan dan fasilitas pelayanan yang memadai untuk strategi bersaing dengan usaha sejenis dalam pengembangan usahanya. Perusahaan yang dapat berkembang atau paling tidak dapat bertahan hidup (survive) harus mampu memberikan kepuasan kepada nasabahnya dengan menyediakan produk yang lebih baik mutunya, lebih ekonomis harganya, lebih cepat penyerahannya dan lebih baik pelayanannya daripada pesaingnya serta harus bisa menyesuaikan dengan kondisi lingkungan dan mampu memenuhi tuntutan nasabah

Perumusan Masalah

  1.  Apakah terdapat pengaruh antara kualitas pelayanan ditinjau dari dimensi tangibles, reliability, responsiveness, assurance dan emphaty terhadap kepercayaan kreditur PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Kantor Cabang Wonogiri?
  2. Apakah terdapat pengaruh antara kepercayaan terhadap kepuasan nasabah PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Kantor Cabang Wonogiri ?
  3. Apakah pengaruh antara kualitas pelayanan ditinjau dari dimensi tangibles, reliability, responsiveness, assurance dan emphaty terhadap kepuasan nasabah PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Kantor Cabang Wonogiri?

Tujuan Penelitian

  1.  Untuk menganalisis pengaruh antara kualitas pelayanan ditinjau dari dimensi tangibles, reliability, responsiveness, assurance dan emphaty terhadap kepercayaan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Kantor Cabang Wonogiri.
  2. Untuk menganalisis pengaruh antara kepercayaan terhadap kepuasan nasabah PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Kantor Cabang Wonogiri.
  3. Untuk menganalisis pengaruh antara kualitas pelayanan ditinjau dari dimensi tangibles, reliability, responsiveness, assurance dan emphaty terhadap kepuasan nasabah PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Kantor Cabang Wonogiri.
  4. Untuk menganalisis pengaruh antara kualitas pelayanan ditinjau dari dimensi tangibles, reliability, responsiveness, assurance dan emphaty terhadap kepuasan nasabah PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Kantor Cabang Wonogiri dengan kepercayaan sebagai variabel intervening.

 

Bagan Persepsi Pelanggan
Bagan Persepsi Pelanggan

 

Kesimpulan

  1.  Terdapat pengaruh positif signifikan variabel responsiveness dan emphaty terhadap kepercayaan nasabah sehingga semakin baik responsiveness dan emphaty menyebabkan kepercayaan nasabah semakin meningkat. Reliability berpengaruh negatif signifikan terhadap kepercayaan nasabah sehingga semakin meningkat reliability menyebabkan kepercayaan nasabah semakin menurun, sedangkan tangibles dan assurance tidak berpengaruh signifikan terhadap kepercayaan nasabah.
  2. Terdapat pengaruh positif signifikan variabel emphaty dan kepercayaan terhadap kepuasan nasabah nasabah sehingga semakin baik emphaty dan kepercayaan menyebabkan kepuasan nasabah semakin meningkat, sedangkan tangibles, reliability, responsiveness dan assurance tidak berpengaruh signifikan terhadap kepuasan nasabah.
  3. Kepercayaan nasabah mampu memediasi pengaruh tangibles, reliability, responsiveness, assurance dan emphaty terhadap kepuasan nasabah sehingga pengaruh tangibles, reliability, responsiveness, assurance dan emphaty terhadap kepuasan nasabah dapat melalui kepercayaan nasabah.

Hubungan Fungsi Keluarga Dengan Kualitas Hidup Lansia

Latar Belakang Masalah Peran Keluarga Untuk Lansia

Segala potensi yang dimiliki oleh lansia bisa dijaga, dipelihara, dirawat dan dipertahankan bahkan diaktualisasikan untuk mencapai kualitas hidup lansia yang optimal (Optimum Aging). Kualitas hidup lansia yang optimal bisa diartikan sebagai kondisi fungsional lansia berada pada kondisi maksimum atau optimal, sehingga memungkinkan mereka bisa menikmati masa tuanya dengan penuh makna, membahagiakan, berguna dan berkualitas. (Depsos, 2007).

Bila fungsi keluarga menurun dapat menyebabkan kualitas hidup lansia menurun pula dan akhirnya akan mengakibatkan angka kesakitan pada lansia meningkat dan angka kematiannya meningkat juga.  Sehubungan dengan hal tersebut maka kami ingin meneliti lebih jauh tentang hubungan antara fungsi keluarga dengan kualitas hidup lansia yang diharapkan bisa sebagai satu landasan atau dasar untuk sasaran program promosi kesehatan tentang kualitas hidup lansia

Rumusan Masalah

Apakah ada hubungan antara fungsi keluarga dengan kualitas hidup lansia?

Tinjauan Pustaka

  1. Pengertian Keluarga

Menurut UU no. 10 tahun 1992 yang disebut dengan keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami istri, atau suami istri dan anaknya, atau ayah dengan anaknya, atau ibu dengan anaknya.

  1. Pengertian Lansia

Lansia adalah kelompok orang yang sedang mengalami suatu proses perubahan yang bertahap dalam jangka waktu beberapa dekade. Menurut WHO (1989), dikatakan usia lanjut tergantung dari konteks kebutuhan yang tidak dipisah-pisahkan.

Peranan keluarga dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan setiap anggota keluarga serta dalam menjamin keberhasilan pelayanan keluarga amat penting sekali, karena keluarga memang punya arti dan kedudukan tersendiri dalam masalah kesehatan. (Azwar, 2007)

Metodologi Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian analitik-observasional dengan pendekatan cross sectional.

Sampel sebanyak 41 lansia berusia 60 tahun ke atas dipilih dari Kelompok Jantung Sehat Surya Group Kediri.

Variabel dependen yang diteliti kualitas hidup lansia. Variabel independen yang diteliti fungsi keluarga.

Faktor perancu yang dikontrol meliputi umur, jenis kelamin, bentuk keluarga dan status pekerjaan.Variabel diukur dengan kuesioner yang telah dilakukan tes validitas dan reliabilitas.

Data dianalisis dengan uji chi kuadrat dan model regresi logistik ganda, dengan menggunakan SPSS 17.0.

Kesimpulan

Dari hasil penelitian yang dilakukan pada 41 orang lansia yang menjadi anggota Kelompok Jantung sehat Surya Group Kediri dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara fungsi keluarga dengan kualitas hidup lansia, dan lansia yang berasal dari keluarga dengan fungsi keluarga sehat memiliki kemungkinan untuk berkualitas hidup baik 25 kali lebih besar daripada lansia dengan fungsi keluarga tidak sehat.

Identifikasi Perilaku Santri Pada Pengembangan Kompetensi Agribisnis

Latar Belakang Masalah Pengembangan Agribisnis

Santri sebagai petani atau pelaksana agribisnis, dalam pembentukan perilaku barunya selama belajar di Ponpes Al Ittifaq diduga mempunyai hubungan dengan pengembangan model perberdayaan santri dalam pembentukan perilaku baru tersebut yaitu berupa kompetensi agribisnis yang sedang ditekuninya di selasela kesibukan mempelajari ilmu agama.

Notoatmodjo, S. (2010) menyebutkan bahwa perilaku itu terbentuk di dalam diri seseorang dari dua faktor utama yakni : (1) stimulus merupakan faktor dari luar diri seseorang tersebut (faktor eksternal), dan (2) respon merupakan faktor dari dalam diri orang yang bersangkutan (faktor internal). Faktor eksternal atau stimulus adalah merupakan faktor lingkungan, baik lingkungan fisik dan non fisik dalam bentuk sosial, budaya, ekonomi, politik dan sebagainya. Dalam penelitian-penelitian yang ada, faktor eksternal yang paling besar perannya dalam pembentukan perilaku manusia adalah faktor sosial dan budaya di mana seseorang itu berada. Sedangkan faktor internal yang menentukan seseorang tersebut merespon stimulus dari luar adalah perhatian, pengamatan, sikap, motivasi, fantasi, sugesti dan sebagainya.

Rumusan Masalah

Atas dasar pernyataan latar belakang tersebut, masalah utama yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah:

  1. Bagaimana pengembangan model pemberdayaan santri melalui kegiatan agribisnis di Pondok Pesantren Al Ittifaq di Ciwidey-Bandung ?
  2. Bagaimana tingkat kompetensi agribisnis santri di Ponpes Al Ittifaq ?
  3. Faktor-faktor pendorong perilaku santri apa saja pada upaya pemberdayaan santri di pondok pesantren yang berhubungan positif dan signifikan dengan pembentukan kompetensi agribisnis santri di Pondok Pesantren Al Ittifaq ?

Landsan Teori

  1. perilaku individu

Kurt Lewin (1970) dalam Notoatmodjo S. (2010), menyatakan bahwa perilaku manusia adalah suatu keadaan yang seimbang antara kekuatan-kekuatan pendorong (driving forces) dan kekuatan-kekuatan penahan (restrining forces).

  1. Kompetensi

Kompetensi dapat didefinisikan sebagai keseluruhan pengetahuan, kemampuan, keterampilan dan sikap, yang diperlukan bagi seorang individu untuk bekerja secara efektif dalam lingkungan kerja tertentu.

  1. Argibisnis

agribisnis adalah usaha dalam bidang pertanian. Baik mulai dari produksi, pengolahan, pemasaran atau kegiatan lain yang berkaitan

Metode Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian kasus, sedangkan metodenya yaitu deskriptif-analisis.

Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel jenuh (sensus).

Alat pengumpul data penelitian ini berbentuk angket, dengan tingkat pengukuran interval. Tentang hal ini, ada beberapa cara yang dapat dilakukan, yaitu salah satunya dengan menggunakan Rating Scale.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasannya, dapat disimpulakan bahwa :

Deskripsi model pengembangan pemberdayaan santri di Ponpes Al Ittifaq Ciwidey Bandung, adalah;

  • pembentukan Pengurus Inti Unit Agribisnis, yaitu pendirian sebuah organisasi di luar kelembagaan Yayasan Ponpes Al Ittifaq yang berfungsi dan berperan sebagai pengelola usaha agribisnis.
  • melakukan pelatihan-pelatihan praktis langsung di lapangan/ladang (tempat usaha agribisnis) dan untuk memadukan keseimbangan penerapan antara teori dan praktek

Tingkat kompetensi agribinis yang dapat dicapai oleh sebagian besar (> 80 %) santri pelaksana usaha agribisnis di Ponpes Al Ittifaq Ciwidey Bandung, baru berada pada tahap kategori tinggi. Diantara kendala yang dihadapi dan menjadi penghambat pembentukan perilaku baru santri dalam mencapai kompetensi agribisnis yang lebih tinggi lagi, adalah curahan waktu yang terbatas (4-6 jam/hari) untuk mengelola agribisnisnya, dan prioritas proses pembelajaran di ponpes adalah pengetahuan agama.

Perilaku santri dapat berubah karena dipengaruhi oleh adanya beberapa stimulus berupa faktor pendorong (driving force). Hasil penelitian ini mengidentifikasi bahwa terdapat beberapa faktor pendorong (driving force) yang mempunyai hubungan positif dan signifikan mempengaruhi perubahan perilaku awal santri yang belum mempunyai kompetensi agribisnis,selanjutnya dapat berubah menjadi perilaku baru yaitu dengan terbentuknya kompetensi agribisnis pada diri santri. Faktor-faktor yang teridentifikasi dapat merubah perilaku santri tersebut yaitu terdiri dari faktor; a) pengetahuan, b) keterampilan, c) kepemimpinan, d) struktur organisasi, e) motivasi, f) belajar, dan g) sikap.

Hubungan Kadar Laktat Darah Dan Skor Pelod (Pediatric Logistic Organ Dysfunction)

Latar Belakang Masalah Penyakit Pada Pasien

Hanya satu skor yang dapat mendeskripsikan beratnya sindrom disfungsi multi organ pada anak yaitu skor PELOD. Skor PELOD dibuat berdasarkan pengalaman klinis intensivist anak, penelusuran kepustakaan medis dan skor lain yang digunakan di PICU melalui penelitian konsekutif prospektif di beberapa PICU. Seluruh variabel klinis dan biologis yang digunakan berdasarkan kriteria disfungsi organ pada anak dan dewasa, seluruh variabel skor prediktif (PRISM, PIM dll) (Lacroix dan Cotting,2005). Penelitian kohort multisenter dilakukan di 7 PICU (2 di Perancis, 3 di Kanada dan 2 di Swiss) dengan sampel 1806 pasien telah membuktikan bahwa skor PELOD mempunyai validitas yang baik untuk mengukur beratnya sindrom disfungsi multi organ di PICU (Leteurtre dkk,2003).

Tingginya kadar laktat darah pada awal pemeriksaan dan kadar yang tetap tinggi, berhubungan dengan outcome yang buruk. Duke dkk melakukan penelitian secara prospektif pada 31 anak sepsis berat di PICU, ia menemukan bahwa laktat darah adalah prediktor mortalitas paling awal yang diketahui saat pengukuran sedini dininya 12 jam setelah masuk perawatan intensif. Kadar laktat darah > 3 mmol/L pada 12 jam setelah masuk PICU mempunyai nilai duga positif untuk kematian sebesar 56% (Agraval,2004). Belum pernah dilakukan penelitian untuk mengetahui hubungan kadar laktat darah yang menilai beratnya keadaan awal pasien saat masuk perawatan intensif dengan skor PELOD yang menilai disfungsi organ secara keseluruhan terhadap mortalitas pasien di PICU.

Rumusan masalah

  1. Apakah ada hubungan kadar laktat darah dengan skor PELOD?
  2. Adakah hubungan kadar laktat darah dan skor PELOD dengan mortalitas pasien di PICU RSDM?

Tinjauan Pustaka

  1. Pengertian Hiperlaktatmia

Hiperlaktatemia merupakan peningkatan kadar laktat darah diatas nilai normal, biasanya ada pada kondisi perfusi jaringan yang terpelihara dan sistem bufer yang cukup, yang mengkompensasi turunnya pH.

  1. Skor PELOD (Pediatric Logistic Organ Dysfunction)

Saat ini telah dilakukan peninjauan tentang kriteria disfungsi organ pada anak dan sistem skor untuk mengukur disfungsi organ pada anak. Tujuan primer yaitu untuk mengetahui penilaian disfungsi organ yang dapat diulang kembali (reproducible) sesuai perubahan fungsi organ.

Metodologi Penelitian

Penelitian kohort di PICU RSUD Dr. Moewardi Surakarta pada bulan April-Juni 2009 dan Oktober-Desember 2009 dengan 90 sampel.

Pada 6 jam pertama pasien menjalani pemeriksaan kadar laktat darah dan 10 macam pemeriksaan yang tercakup dalam skor PELOD.

Pasien mendapat perawatan sesuai standar pelayanan di PICU, kemudian dicatat keadaan saat keluar (hidup atau meninggal).

Hubungan antara kadar laktat darah, skor PELOD dan mortalitas dianalisis dengan regresi logistik berganda.

Kesimpulan

Dari penelitian ini terdapat 90 subyek penelitian dengan 42 pasien dengan kadar laktat darah > 3,2 mmol/L, diantaranya 28 pasien meninggal dunia dan 14 pasien hidup. Kadar laktat darah > 3,2 memiliki hubungan yang bermakna secara statistik dengan mortalitas (X2=21,24; p < 0,001). Dari 90 pasien yang masuk dalam penelitian, 37 pasien memiliki skor PELOD > 0, diantaranya 33 pasien meninggal dan hanya 4 pasien yang hidup. Skor PELOD > 0 memiliki hubungan yang bermakna secara statistik dengan mortalitas (X2=59,98; p < 0,001).

Analisis regresi linier kadar laktat darah dan skor PELOD menghasilkan garis yang mendekati nilai nol, R2 = 0,32, sehingga secara statitik didapatkan hubungan yang lemah.

Analisis regresi logistik berganda antara kadar laktat darah, skor PELOD dan mortalitas didapatkan hasil kadar laktat darah > 3,2 mmol/L memiliki risiko terjadinya mortalitas 1,62 kali dibandingkan kadar laktat darah ≤ 3,2 mmol/L secara statistik tidak signifikan (p = 0,433). Skor PELOD > 0 memiliki risiko terjadinya mortalitas sebesar 19,34 kali dibandingkan skor PELOD ≤ 0 secara statistik signifikan (p < 0,001).

Incoming search terms:

Logoterapi Untuk Menurunkan Depresi dan Meningkatkan kualitas Hidup

Latar Belakang Masalah Penurunan Depresi

Kualitas hidup pasien seharusnya menjadi perhatian penting bagi para profesional kesehatan karena dapat menjadi acuan keberhasilan dari suatu tindakan/intervensi atau terapi. Di samping itu, data tentang kualitas hidup juga dapat merupakan data awal untuk pertimbangan merumuskan tindakan/intervensi yang tepat bagi pasien. Kualitas hidup pada dasarnya bersifat istimewa pada masing-masing individu. Kualitas hidup ini dapat mencerminkan perspektif biopsikososial pasien terhadap penyakit mereka dan juga berhubungan secara paralel terhadap intervensi multidisiplin yang dilakukan dalam sebuah pengobatan (Burckhardt dan Anderson, 2003; Gee et al., 2003).

Logoterapi dan Meningkatkan kualitas Hidup
Logoterapi dan Meningkatkan kualitas Hidup

Penerapan metode logoterapi pada pasien lanjut usia, terutama ditujukan untuk membantu para lanjut usia yang mengalami kehilangan makna hidup dan menurunnya kualitas hidup. Psikoterpi logoterapi adalah salah satu bentuk terapi non farmakologik yang diperkenalkan oleh Victor Frankl. Prinsip utama yang terdapat dalam logoterapi mengenai makna hidup manusia dan pengembangan spiritual pada individu ini sesuai untuk diterapkan pada pasien-pasien lanjut usia yang mengalami gangguan somatik maupun psikis, misalnya depresi pasca amputasi (Boschemeyer, 1982; Guttmann, 1996; Bastaman, 2007).

Permasalahan

Apakah logoterapi efektif untuk menurunkan derajat depresi dan meningkatkan kualitas hidup pasien geriatri?

Landasan Teori

Di Indonesia batasan lanjut usia yang tercantum dalam Undang-undang No.13/1998 tentang Kesejahteraan adalah sebagai berikut : Lanjut usia adalah seorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas (Lembaran Negara Republik Indonesia, 1998).

  1. Siklus kehidupan lanjut usia

Masa dewasa akhir dapat merupakan suatu periode kesenangan–suatu waktu untuk bersenang-senang dengan cucu-cucu, untuk mengingat usaha besar seseorang dan kemungkinan untuk melihat buah yang dihasilkan seseorang digunakan secara baik oleh generasi yang lebih muda.

  • Populasi lanjut usia
  • Geriatri dan Psikososial Penuaan
  • Depresi

Gangguan ini sangat dikenal di masyarakat umum dan merupakan salah satu penyebab penyakit global. Word Health Organisation (WHO) memperkirakan bahwa pada tahun 2020 depresi akan naik dari urutan keempat menjadi urutan kedua di bawah penyakit jantung iskemik sebagai penyebab disabilitas.

Wanita memiliki risiko menjadi depresi lebih tinggi dari pada pria. Angka depresi per tahun paling rendah pada mereka yang telah menikah yaitu sebesar 1,5%. Sedangkan mereka yang tidak pernah menikah memiliki angka depresi sebesar 2,4%.

Metode Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian Quasi Eksperimental dengan rancangan randomized control trial double blind. Tiga puluh empat pasien geriatri diambil secara acak dibagi dalam kelompok perlakuan dan kontrol secara merata (n =17) dengan diberi psikoterapi Logoterapi pada kelompok perlakuan sebanyak enam sesi. Penilaian derajat depresi dengan instrumen GDS dan tingkat kualitas hidup dinilai dengan instrumen WHOQOLBREF.

Analisis statistik yang digunakan untuk mengukur keefektifan logoterapi untuk menurunkan derajat depresi dan meningkatkan kualitas hidup pasien geriatri adalah Uji t dan Uji Korelasi Pearson.

Simpulan

  1. Dari hasil penelitian ini didapatkan penurunan derajat depresi yang signifikan pada kelompok perlakuan dengan Logoterapi dibandingkan kelompok kontrol.
  2. Ditemukan perbedaan yang bermakna dalam hal perbaikan kualitas hidup secara umum antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol.
  3. Ditemukan perbedaan yang bermakna pada perbaikan kualitas hidup pada domain 1 (fisik), domain 2 (psikologis) dan domain 3 (relasi sosial) pada kelompok perlakuan dibandingkan kelompok kontrol.
  4. Penurunan derajat depresi berkorelasi langsung dengan peningkatan kualitas hidup pasien lanjut usia.

Dengan hasil tersebut maka hipotesis di atas diterima, yaitu; Logoterapi efektif menurunkan derajat depresi dan meningkatkan kualitas hidup pasien geriatri.

Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Kerja Pegawai BKD Madiun

Latar Belakang Masalah Prestasi Kerja Pegawai

Studi mengenai prestasi kerja pegawai telah banyak dilakukan diantaranya oleh Prawesti (2010) dan Astuti (2010). Prawesti menjelaskan bahwa :

  1. pengukuran kinerja terbukti tidak berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai,
  2. budaya organisasi suportif lebih dominan daripada tipe budaya birokratis dan inovatif dan
  3. dukungan organisasional terbukti tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja pegawai,
Penilaian Prestasi Kerja PNS
Penilaian Prestasi Kerja PNS

 

Sementara Astuti menjelaskan bahwa disiplin, motivasi serta pendidikan pelatihan secara parsial dan bersama-sama berpengaruh terhadap prestasi kerja pegawai Badan Diklat dan Litbang Kabupaten Sragen.

Variabel motivasi memiliki pengaruh yang dominan dibandingkan variabel disiplin serta pendidikan pelatihan. Sebagaimana telah disampaikan, bahwa sumber daya manusia yaitu pegawai memiliki peran yang penting dan strategis untuk mencapai tujuan institusi. Baik buruknya prestasi organisasi secara langsung ditentukan oleh prestasi kerja pegawainya. Berdasarkan uraian diatas maka penelitian ini berjudul ”Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Kerja Pegawai Badan Kepegawaian Daerah Kota Madiun”.

Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian tersebut diatas, masalah yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Apakah terdapat pengaruh antara disiplin terhadap prestasi kerja pegawai Badan Kepegawaian Daerah Kota Madiun ?
  2. Apakah terdapat pengaruh antara motivasi terhadap prestasi kerja pegawai Badan Kepegawaian Daerah Kota Madiun ?
  3. Apakah terdapat pengaruh antara pendidikan dan pelatihan terhadap prestasi kerja pegawai Badan Kepegawaian Daerah Kota Madiun ?

Tujuan Penelitian

Sesuai dengan perumusan masalah, maka tujuan penelitian akan dijelaskan

sebagai berikut :

  1. Untuk mengetahui pengaruh antara disiplin terhadap prestasi kerja pegawai Badan Kepegawaian Daerah Kota Madiun.
  2. Untuk mengetahui pengaruh antara motivasi terhadap prestasi kerja pegawai Badan Kepegawaian Daerah Kota Madiun.
  3. Untuk mengetahui pengaruh antara pendidikan dan pelatihan terhadap prestasi kerja pegawai Badan Kepegawaian Daerah Kota Madiun.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan hasil analisa data, maka dapat diambilbeberapa kesimpulan sebagai berikut :

  1. Disiplin berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap prestasi kerja pegawai Badan Kepegawaian Daerah Kota Madiun. Artinya apabila disiplin naik maka prestasi kerja akan naik dan sebaliknya jika disiplin turun maka prestasi kerja juga akan turun.
  2. Motivasi berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap prestasi kerja pegawai Badan Kepegawaian Daerah Kota Madiun. Artinya apabila motivasi naik maka prestasi kerja akan naik dan sebaliknya jika motivasi turun maka prestasi kerja juga akan turun.
  3. Pendidikan dan pelatihan berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap prestasi kerja pegawai Badan Kepegawaian Daerah Kota Madiun. Artinya apabila pendidikan dan pelatihan naik maka prestasi kerja akan naik dan sebaliknya jika pendidikan dan pelatihan turun maka prestasi kerja juga akan turun.

Saran

Sesuai dengan kesimpulan diatas, maka peneliti dapat memberikan saran sebagai berikut :

  1. Untuk instansi
  • Peningkatan prestasi kerja dapat diwujudkan dengan meningkatkan motivasi pegawai, misalnya dengan menciptakan lingkungan kerja yang baik dan menyenangkan seperti peningkatan sarana dan prasarana dalam bekerja, menciptakan hubungan yang baik dan tidak kaku antara atasan dengan bawahan namun tetap saling menghormati, memberikan semangat dalam bekerja agar memperoleh kebanggaan dan prestasi demi kemajuan karir dan kemajuan Badan Kepegawaian Daerah Kota Madiun di masa mendatang.
  • Peningkatan prestasi kerja dapat diwujudkan dengan meningkatkan pendidikan dan pelatihan pegawai, misalnya dengan mengirim pegawai secara berkelanjutan untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya masing-masing dalam rangka peningkatan kemampuan dan ketrampilan, mengevaluasi hasil daripelaksanaan pendidikan dan pelatihan dengan cara selalu mempresentasikan hasil pendidikan dan pelatihan di hadapan atasan sehingga kemampuan dan ketrampilan yang diperoleh bisa diaplikasikan secara nyata.

2. Untuk peneliti selanjutnya

  • Untuk penelitian selanjutnya diharapkan agar dapat meneliti faktorfaktorlain yang mungkin berpengaruh terhadap prestasi kerja dikarenakan keterbatasan pengetahuan dan referensi penulis. Diharapkan konteks yang tidak didalami oleh penulis dapat dikaji dengan waktu yang lebih lama dan tempat yang berbeda sehingga dapat menyempurnakan penelitian selanjutnya.