Tesis Kinerja Keuangan: Pengaruh Merger & Akuisisi trhdp Kinerja Keuangan dgn Metode EVA

Judul Tesis : Analisis Pengaruh Merger & Akuisisi terhadap Kinerja Keuangan dan dengan Metode Economic Value Added (EVA) pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI pada Periode 2004-2008

 

A. Latar Belakang

Pertumbuhan ekonomi dan industri perdagangan saat ini telah menyebabkan tingginya persaingan dan munculnya berbagai produk dan jasa di pasar dalam negeri maupun luar negeri yang makin meramaikan persaingan bisnis (Kompas, November 2012). Didukung dengan perkembangan tehnologi yang begitu pesat semakin mendorong pemilik atau manajemen perusahaan untuk mengembangkan usahanya dengan strategi baik jangka pendek maupun jangka panjang. Untuk itu perusahaan perlu mengembangkan suatu strategi yang tepat agar perusahaan bisa mempertahankan eksistensinya dan memperbaiki kinerjanya. Salah satu langkah yaitu dengan pengabungan usaha (business combine) yang pada umumnya di lakukan dalam bentuk akuisisi, merger dan konsolidasi. Menurut Sudarsanam (1999) alasan perusahaan lebih tertarik memilih merger dan akuisisi sebagai strateginya daripada pertumbuhan internal (organic growth) adalah karena merger dan akuisisi dianggap langkah cepat untuk mewujudkan tujuan perusahaan di mana perusahaan tidak perlu memulai dari awal pada bisnis baru. Sesuai dengan peraturan pemerintah Republik Indonesia No.27 menyebutkan akuisisi sebagai pengambil alihan, merger sebagai penggabungan dan konsolidasi sebagai peleburan (Moin, 2004).

Di Indonesia akuisisi mulai berlangsung pada tahun 1970, di lakukan oleh bank-bank dengan harapan agar dapat memperkuat struktur modal dan memperoleh keringanan pajak. Hal ini didukung pemerintah dengan aturan-aturan hukumnya. Di Indonesia akuisisi lebih sering terjadi dibandingkan dengan merger, karena pemilik perusahaan lebih nyaman dengan kepemilikian asset dan saham secara pribadi dalam jumlah besar (Yudyatmoko dan Na’im, 2000).

 

B. Rumusan Masalah

  1. Apakah terdapat perbedaan kinerja perusahaan sebelum dan sesudah merger dan akuisisi yang dilakukan oleh perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI selama periode 2004-2008?
  2. Apakah terdapat perbedaan kinerja perusahaan pasca merger dan akuisisi antara akuisisi konglomerat dan non-konglomerat yang dilakukan oleh perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI selama periode 2004-2008?

 

C. Tinjauan Pustaka

Pengertian Penggabungan Usaha

Penggabungan usaha merupakan salah satu strategi untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan mengembangkan perusahaan. Ikatan Akuntan Indonesia dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Indonesia Nomor 12 (PSAK No.22) mendefinisikan penggabungan badan usaha sebagai:

“Bentuk penyatuan dua atau lebih perusahaan yang terpisah menjadi satu entitas ekonomi karena satu perusahaan menyatu dengan perusahaan lain ataupun memperoleh kendali atas aktiva dan operasi perusahaan lain (Ikatan Akuntan Indonesia, 1999).”

Macam Penggabungan Usaha

Menurut Ross (2005), ada berbagai macam bentuk penggabungan badan usaha yang dilaksanakan oleh perusahaan yaitu:

1. Merger

Merger merupakan penggabungan dua perusahaan atau lebih dimana perusahaan pelaku merger akan mengambil alih seluruh aset dan kewajiban perusahaan target.

2. Akuisisi

Akuisisi atau pengambilalihan yaitu perusahaan pengakuisisi mengambil alih kendali atas perusahaan targetnya. Perusahaan yang diakuisisi tidak perlu dibubarkan ataupun merubah operasional perusahaan, namun perusahaan akan kehilangan eksistensinya karena perubahan yang pasti terjadi adalah kepemilikan atas perusahaan yang diakuisisi.

3. Konsep Economic Value Added (EVA)

Economic Value Added (EVA) merupakan suatu sistem manajemen keuangan yang digunakan untuk mengukur laba ekonomi dalam suatu perusahaan, yang menyatakan bahwa kesejahteraan hanya dapat tercipta jika perusahaan  mampu memenuhi semua biaya operasi (operating cost) dan biaya modal (cost of capital).

 

D. Metodelogi Peneltian Tesis 

Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian karya akhir ini menggunakan uji deskripsi dan uji statistik.

Metode penelitian ini menggunakan rasio keuangan yang digunakan untuk membandingkan kinerja sebelum dan sudah terjadinya akuisisi sampai periode tahun 2011.

Penelitian ini menggunakan sampel perusahaan manufaktur go public yang melakukan akuisisi pada periode tahun 2004-2008.

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang bersifat kuantitatif mengenai laporan keuangan tahunan dan harga saham.

 

E. Kesimpulan

  1. Untuk uji perhitungan kinerja dengan menggunakan wilcoxon signed rank test, menghasilkan kesimpulan bahwa terdapat 3 parameter yang mengalami perubahan yang signifikan yaitu EVA, ROE, Total Asset Turnover antara 3 tahun sebelum dan sesudah melakukan merger dan akuisisi. Hal ini disebabkan karena pada umumnya pihak yang mendapatkan benefit dari proses akuisisi adalah perusahaan target, dimana kebanyakan perusahaan pengakuisisi memiliki nilai ekonomis yang lebih besar daripada perusahaan target.
  2. Hasil pengujian berikutnya dengan menggunakan T-test menunjukkan bahwa hanya beberapa rasio yang mengalami perubahan secara signifikan antara akuisisi konglomerat dan non-konglomerat yaitu Current ratio, Quick ratio, Debt to equity. Dengan kata lain terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik antara perusahaan multi segmen dan perusahaan yang memiliki segmen tunggal. Kinerja perusahaan yang melakukan diversifikasi terbukti lebih rendah daripada perusahaan yang fokus pada 1 bisnis. Hal ini berarti strategi diversifikasi perusahaan yang dilakukan oleh mayoritas perusahaan manufaktur belum memberikan hasil yang optimal terhadap kinerja.
  3. Untuk hasil perhitungan EVA didapatkan 10 perusahaan yang mengalami kenaikan pada EVA secara signifikan, dengan kenaikan terbesar yang dialami oleh PT Indofood Sukses Makmur. Sedangkan 7 perusahaan sisanya mengalami penurunan pada tingkat total EVA, dengan penurunan terbesar yang dialami oleh PT Barito Pacific Timber. Dapat disimpulkan bahwa, pada perusahaan manufaktur yang melakukan merger & akuisisi telah berhasil meningkatkan nilai ekonomis perusahaan.

 

Contoh Tesis Kinerja Keuangan

  1. Analisis Pengaruh Kinerja Jasa Penyelenggaraan Diklat Terhadap Kepuasan Peserta Dan Perilaku Minat Pasca Diklat (Studi Kasus pada Pusat Pendidikan dan Pelatihan Anggaran, Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan)
  2. Analisis Pengaruh Kinerja Pengelolaan Lingkungan Perusahaan terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan
  3. Analisis Pengaruh Merger Dan Akuisisi terhadap Kinerja Keuangan dan Dengan Metode Economic Value Added (EVA) pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI
  4. Analisis dan Pengukuran Kinerja Keuangan untuk Meningkatkan Profitabilitas PDAM Dati II Kab. Tangerang
  5. Analisis Atas Sistem Pelaporan Keuangan Pertamina dan Dampaknya terhadap Penilaian Kinerja Perusahaan
  6. Analisa Pengaruh Eksternal terhadap Kinerja Keuangan Bank Syariah (Studi Kasus Bank Muamalat Indonesia)
  7. Analisa Kinerja Trafik Sentralisasi Proses Administrasi Lelang Menggunakan 3 Koneksi VPN (Virtual Private Network) pada Aplikasi E-Auction di DJPLN Departemen Keuangan RI
  8. Analisa Kinerja Keuangan Bank Syariah Ditinjau dari Pengaruh Eksternal (Studi Kasus Bank Syariah Mandiri Periode Januari 2001 – Juni 2003)
  9. Analisa Kinerja Keuangan Sebuah Perusahaan Kontrak Production Sharing Pertamina X

Tesis Manajemen: Analisis Kinerja Keuangan pd PDAM

Judul Tesis : Analisis Kinerja Keuangan pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Sukoharjo Tahun 2002 – 2005

 

A. Latar Belakang

Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Sukoharjo merupakan perusahaan daerah yang bertugas dalam pengelolaan air bersih di Kabupaten Sukoharjo. PDAM memerlukan pengelolaan keuangan yang baik agar kegiatan perusahaan dapat berjalan lancar.

Pengelolaan keuangan pada PDAM Kabupaten Sukoharjo sudah cukup baik, namun belum maksimal dari segi efisiensi penggunaan dana PDAM Kabupaten Sukoharjo merupakan badan usaha yang menjalankan dua fungsi yaitu sebagai Social Oriented (Pelayanan yang baik terhadap masyarakat dalam penyediaan air bersih) dan Profit Oriented (Bertujuan untuk menghasilkan laba sebagai dana untuk beroperasi dan sumber penerimaan daerah). Adanya kedua fungsi tersebut, mengakibatkan perusahaan harus memantau tingkat kesehatan dengan mengadakan analisis terhadap data keuangan yang tercermin dalam laporan keuangan.

 

B. Rumusan Masalah

Bagaimanakah perkembangan kinerja keuangan PDAM selama empat tahun terakhir (2002-2005) berdasarkan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri No 47 Tahun 1999 ?

 

C. Landasan Teori Tesis

Laporan Keuangan

Menurut Gede Edy Prasetya (2005: 5) “Laporan keuangan adalah produk manajemen dalam mempertanggungjawabkan (stewardship) penggunaan sumber daya dan sumber dana yang dipercayakan kapadanya”. Sedangkan Agnes Sawir (2005: 2) menyatakan bahwa “Laporan keuangan adalah hasil akhir proses akuntansi” . Setiap transaksi yang dapat diukur dengan nilai uang, dicatat, dan diolah sedemikian rupa. Laporan akhir pun disajikan dalam nilai uang. Darsono dan Ashari (2005: 13) menyatakan bahwa “Laporan keuangan adalah informasi tentang posisi keuangan, hasil usaha, perubahan ekuitas, dan arus kas perusahaan”. Menurut Sutrisno (2003: 9) “Laporan keuangan merupakan hasil akhir dari proses akuntansi yang meliputi dua laporan utama yakni 1) Neraca dan 2) Laporan Rugi-Laba”.

Analisis Rasio Keuangan

Mohamad Muslich (2003: 44) mengemukakan pendapatnya mengenai analisis rasio keuangan sebagai berikut : “Analisis rasio keuangan merupakan alat utama dalam analisis keuangan, karena analisis ini dapat digunakan untuk menjawab berbagai pertanyaan tentang keadaan keuangan perusahaan”. Sedangkan Agnes Sawir (2005: 6) mengemukakan “Analisis rasio keuangan, yang menghubungkan unsur-unsur neraca dan perhitungan laba-rugi satu sama lainnya, dapat memberikan gambaran tentang sejarah perusahaan dan penilaian posisinya pada saat ini”. Gede Edy Prasetya (2005: 47) menyatakan bahwa “Analisis rasio merupakan teknik analisis yang dilakukan dengan membandingkan suatu perkiraan dengan perkiraan yang lain dalam laporan keuangan yang sama”.

Cara Pembandingan dalam Analisis Rasio Keuangan

Bambang Riyanto (2001: 329) menyatakan bahwa dalam mengadakan analisis rasio keuangan dapat dilakukan dengan dua macam cara pembandingan, yaitu :

  • Membandingkan rasio sekarang (present ratio) dengan rasio-rasio dari waktu-waktu yang lalu (ratio histories) atau dengan rasio-rasio yang diperkirakan untuk waktu-waktu yang akan datang dari perusahaan yang sama. Dengan cara pembandingan ini akan dapat diketahui perubahan-perubahan dari rasio tersebut dari tahun ke tahun.
  • Membandingkan rasio-rasio dari suatu perusahaan (rasio perusahaan/company ratio) dengan rasio-rasio semacam dari perusahaan lain yang sejenis atau industri (rasio industri/rasio rata-rata/ratio standard) untuk waktu yang sama. Dengan membandingkan rasio perusahaan dengan rasio industri akan dapat diketahui apakah perusahaan yang bersangkutan itu dalam aspek finansiil tertentu berada di atas rata-rata. industri (above average), berada pada rata-rata (average) atau terletak di bawah rata-rata (below average).

 

D. Metode Penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti mengambil lokasi di Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Sukoharjo.

Waktu penelitian mulai bulan Juni 2006 sampai selesai yang meliputi persiapan penelitian sampai penyusunan laporan penelitian.

penelitian ini termasuk penelitian deskriptif.

Dalam penelitian ini yang akan digunakan sebagai populasi adalah laporan keuangan Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Sukoharjo tahun 2002-2005.

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini digunakan teknik pengumpulan data dokumentasi.

 

E. Kesimpulan

  1. Kinerja keuangan dari tahun 2002-2005 adalah cukup. Kinerja keuangan dengan nilai tertinggi (41) berada di tahun 2005sedangkan tahun 2002-2004 nilai kinerja keuangan berkisar antara 28 dan 29.
  2. Secara keseluruhan dari 10 (sepuluh) indikator ada 5 (lima) indikator yang sudah baik kinerjanya yaitu : rasio utang jangka panjang terhadap ekuitas rasio total aktiva terhadap total utang, rasio aktiva produktif terhadap penjualan air, jangka waktu penagihan piutang, dan efektivitas penagihan.
  3. Sedangkan indikator kinerja keuangan yang belum maksimal nilainya adalah: Rasio laba terhadap aktiva produktif, rasio laba terhadap penjualan, rasio aktiva lancar terhadap utang lancar, rasio biaya operasi terhadap pendapatan operasi, dan rasio laba operasi sebelum biaya penyusutan terhadap angsuran pokok dan bunga jatuh tempo.

 

Contoh Tesis Manajemen

  1. Pengaruh Kebijakan Moneter terhadap Pertumbuhan Ekonomi Pasca Krisis di Indonesia
  2. Analisis Hubungan Gaya Kepemimpinan Transformasional, Fungsi Mentoring, dan Stres Kerja (Studi pada PT. Danliris Sukoharjo)
  3. Penerapan Bauran Promosi ( Promotional Mix ) Dalam Usaha Meningkatkan Jumlah Pelanggan Kartu Flexi pada PT. Telkom Kandatel Solo
  4. Strategi Promosi PT. Telkom Kandatel Solo Dalam Meningkatkan Volume
  5. Peranan Public Relations dalam Memberikan Pelayanan Prima di Pt. Telkom

 

Incoming search terms:

Tesis Manajemen: Analisis Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah Tingkat II

Judul Tesis : Analisis Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah Tingkat II Sebelum dan Sesudah Terjadinya Fiscal Stress

 

A. Latar Belakang

Krisis moneter yang terjadi sejak pertengahan tahun 1997 di negara-negara ASEAN termasuk Indonesia telah menghantam hampir seluruh sektor perekonomian. Pengaruh krisis tersebut pertama kali menghantam sektor keuangan, selanjutnya hampir kesemua aspek kehidupan masyarakat. Dampak tersebut menimpa tidak hanya sektor privat seperti modal, tetapi juga sektor publik pemerintah pusat atau pemerintah daerah. Walaupun dampak tersebut juga ada yang menguntungkan seperti meningkatnya nilai ekspor beberapa komoditi, namun lebih banyak dampak yang dirasakan bersifat negatif seperti meningkatnya pengangguran dan kemiskinan.

Dampak krisis tersebut terjadi pula pada sektor Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yaitu menjadi labilnya sektor pendapatan pemerintah pusat yang pada akhirnya juga membawa pengaruh kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) baik tingkat propinsi maupun tingkat kabupaten/kota, karena alokasi dana untuk pemerintah daerah menjadi labil pula. Dalam kondisi seperti ini, faktor ketidakpastian penerimaan pendapatan daerah dari pemerintah pusat menjadi lebih tinggi, sehingga Pendapatan Asli Daerah (PAD) menjadi andalan penerimaan dalam APBD. Jika sebelumnya penerimaan PAD-nya rendah, maka keadaan itu akan semakin sulit.

 

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang yang telah diuraikan di atas maka masalah yang muncul adalah apakah benar-benar terdapat perbedaan tingkat kinerja keuangan Pemda Tingkat II pada periode sebelum dan sesudah adanya fiscal stress dalam bentuk krisis ekonomi dan pemberlakuan UU PDRD ?

 

C. Landasan Teori

Konsep Penganggaran Sektor Publik

Anggaran sektor publik berisi rencana kegiatan yang direpresentasikan dalam bentuk rencana perolehan pendapatan dan belanja dalam satuan moneter. Bentuk sederhananya adalah suatu dokumen yang menggambarkan kondisi keuangan dari suatu organisasi yang meliputi informasi mengenai pendapatan, belanja, dan aktivitas.

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara/Daerah

APBN/APBD pada dasarnya merupakan penjabaran rencana kerja penyelenggara pemerintahan untuk kurun waktu 12 bulan. Menurut UU No. 22 /1999 APBD merupakan rencana keuangan tahunan daerah yang ditetapkan berdasarkan Peraturan Daerah tentang Anggaran Pendapatn dan Belanja Daerah. Periode APBN/APBD berlaku mulai 1 April smpai dengan 31 Maret tahun berikutnya. Pada tahun 2000 periode tersebut disesuaikan dengan tahun takwim, yaitu mulai 1 Januari sampai dengan 31 Desember tahun yang sama. Pada tahun 2000 tersebut hanya 9 bulan, karena pada masa itu merupakan masa transisi.

Fiscal Stress dan Penyebabnya

Fiscal stress adalah ketidakmampuan sebuah pemerintah untuk memenuhi anggarannya (Halim, 2001). Spicer and Bingham dalam Haryadi (2002), mengemukakan bahwa ketika perubahan faktor-faktor ekonomi, demografi, dan politik membatasi pertumbuhan pendapatan, maka tingkat defisit yang terjadi menjadi lebih sulit, dan tekanan keuangan mungkin akan terjadi.

 

D. Metode Penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Pemda Tingkat II yang ada di Indonesia.

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari buku Statistik Keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik Jakarta.

 

E. Kesimpulan

  1. Dengan menggunakan pengujian dua tahun sebelum dan sesudah fiscal stress baik dengan alat uji parametrik maupun nonparametrik menunjukkan bahwa.
    1. Bila tingkat kinerja keuangan Pemda Tingkat II dilihat dari segi tingkat ketergantungan terhadap pemerintah pusat, maka pada periode sebelum dan sesudah terjadi fiscal stress terjadi perbedaan yang signifikan.
    2. Dari segi tingkat kemandirian pembiayaan, maka hasil pengujian ini juga menunjukkan adanya tingkat perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah fiscal stress.
    3. Untuk tingkat desentralisasi fiskal, hasil pengujian ini juga menunjukkan tingkat perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah fiscal stress.
  2. Secara keseluruhan, fiscal stress di Indonesia yang ditandai dengan adanya krisis moneter dan pemberlakuan UU PDRD telah membawa perubahan kinerja keuangan Pemda Tingkat II.

 

Contoh Tesis Manajemen

  1. Analisis Keputusan Pembelian Kain pada Toko Textile MAC Mohan Surakarta
  2. Analisis Pengaruh Pergerakan Pesawat Komersial terhadap Pergerakan Penumpang
  3. Analisis Pengaruh Return On Assets, Volume Perdagangan, Earning Per Share
  4. Analisis Perencanaan dan Penentuan Kombinasi Produk Optimal Untuk Memaksimalkan Laba dalam Pembangunan Perumahan Puri Pudak Payung Asri (P4a) di Semarang
  5. Analisis Pert dan CPM untuk Pesanan Khusus pada Cv. Batik Surya Kencana

 

Incoming search terms:

Skripsi Manajemen: Dampak Merger & Akuisisi trhdp Kinerja Keuangan Perusahaan Pengakusisi & Diakuisisi

Judul: Analisis Dampak Jangka Panjang Merger dan Akuisisi terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Pengakusisi dan Perusahaan Diakuisisi di Bursa Efek Jakarta (BEJ)

A. Latar Belakang

Di Amerika Serikat, aktivitas merger dan akuisisi merupakan hal biasa terjadi. Bahkan di era 1980an telah terjadi kira-kira 55.000 aktivitas sehingga tahun 1980an sering disebut sebagai dekade merger mania (Hitt, 2002). Sementara di Indonesia aktivitas merger dan akuisisi mulai marak dilakukan seiring dengan majunya pasar modal di Indonesia. Beberapa contoh perusahaan di Bursa Efek Jakarta (BEJ) yang melakukan merger dan akuisisi diantaranya adalah PT Semen Gresik yang mengakuisisi PT Semen Padang, PT Gudang Garam merger dengan PT Surya Pamenang dan PT Nutricia yang mengakuisisi PT Sari Husada.

Atas pertimbangan berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya, peneliti tertarik untuk meneliti pengaruh merger dan akuisisi dengan membandingkan pengaruhnya terhadap pengakuisisi dan yang diakuisisi. Disamping itu mengenai pengaruh merger dan akuisisi terhadap kinerja keuangan dalam jangka panjang, baik dari rasio-rasio keuangan maupun return saham dengan pertimbangan bahwa sinergi yang diharapkan terjadi dalam jangka panjang. Dari pertimbangan-pertimbangan tersebut, maka peneliti bermaksud untuk melakukan penelitian dengan judul skripsi: “Analisis Dampak Jangka Panjang Merger dan Akuisisi terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Pengakuisisi dan Perusahaan Diakuisisi di Bursa Efek Jakarta (BEJ)”.

 

B. Rumusan Masalah

  1. Bagaimana pengaruh merger dan akuisisi terhadap kinerja keuangan perusahaan pengakuisisi dalam jangka panjang ?
  2. Bagaimana pengaruh merger dan akuisisi terhadap kinerja keuangan perusahaan diakuisisi dalam jangka panjang ?

 

C. Landasan Teori

Pengertian Merger dan Akuisisi

Merger didefinisikan sebagai penggabungan dua atau perusahaan yang kemudian hanya ada satu perusahaan yang tetap hidup sebagai badan hukum, sementara yang lainnya menghentikan aktivitasnya atau bubar.

Akuisisi dalam teminologi bisnis diartikan sebagai pengambilalihan kepemilikan atau pengendalian atas saham atau aset suatu perusahaan oleh perusaahaan lain, dan dalam peristiwa baik perusahaan pengambilalih atau yang diambil alih tetap eksis sebagai badan hukum yang terpisah (Moin,2003).

 

Keunggulan dan Kelemahan Aktivitas Merger dan Akuisisi.

Secara spesifik, antara lain adalah: (Moin, 2003)

  1. Mendapatkan cashflow dengan cepat karena produk dan pasar sudah jelas.
  2. Memperoleh kemudahan dana/pembiayaan karena kredititor lebih percaya dengan perusahaan yang telah berdiri dan mapan.
  3. Memperoleh karyawan yang telah berpengalaman.
  4. Mendapatkan pelanggan yang telah mapan tanpa harus merintis dari awal.
  5. Memperoleh sistem operasional dan administratif yang mapan.
  6. Mengurangi resiko kegagalan bisnis karena tidak harus mencari konsumen baru.
  7. Menghemat waktu untuk memasuki untuk memasuki bisnis baru.
  8. Memperoleh infrastruktur untuk mencapai pertumbuhan yang lebih cepat.

Disamping memiliki keunggulan, merger dan akuisisi juga memiliki kelemahan sebagai berikut:

  1. Proses integrasi yang tidak mudah.
  2. Kesulitan menentukan nilai perusahaan target secara akurat.
  3. Biaya konsultan yang mahal.
  4. Meningkatnya kompleksitas birokrasi.

 

D. Metode Penelitian

Kinerja keuangan pada penelitian ini diukur dengan menggunakan rasio keuangan yang terdiri dari rasio likuiditas, rasio aktivitas, rasio leverage dan rasio profitabilitas dan return saham dengan jangka waktu satu tahun sebelum, satu dan dua tahun sesudah merger dan akuisisi.

Sampel pada penelitian ini terdiri dari 14 perusahaan pengakuisisi dan 12 perusahaan yang diakuisisi

 

E. Kesimpulan

Pada perusahaan pengakuisisi current ratio, quick ratio, debt to equity ratio dan net profit margin mengalami penurunan pada satu tahun sesudah merger dan akuisisi dan mengalami peningkatan pada tahun kedua sesudah merger dan akuisisi. Pada fixed asset turnover, total asset turnover, debt to total asset mengalami peningkatan pada masa sesudah merger dan akuisisi dan pada operating profit dan return on investment mengalami penurunan pada masa sesudah merger dan akuisisi. Sementara return on equity mengalami peningkatan pada tahun pertama merger dan akuisisi, namun menurun pada tahun kedua sesudah merger dan akuisisi.

Pada perusahaan diakuisisi current ratio, quick ratio, fixed asset turnover dan return on equity mengalami peningkatan pada masa sesudah merger dan akuisisi. Sementara pada total asset turnover, net profit margin dan return on investment meningkat pada satu tahun sesudah merger dan akuisisi, namun menurun pada tahun kedua setelah merger dan akuisisi. Pada debt to total asset dan debt to equity ratio mengalami penurunan pada tahun pertama sesudah merger dan akuisisi dan meningkat pada tahun kedua sesudah merger dan akuisisi. Sedangkan operating profit mengalami penurunan pada masa sesudah merger dan akuisisi.

Peningkatan dan penurunan yang terjadi pada rasio-rasio keuangan tidak cukup kuat untuk menunjukkan adanya pengaruh merger dan akuisisi terhadap rasio keuangan, baik perusahaan pengakuisisi maupun perusahaan yang diakuisisi. Hal ini dibuktikan dengan tidak perbedaan secara signifikan antara satu tahun sebelum dengan satu tahun sesudah merger dan akuisisi dan satu tahun sebelum dengan dua tahu sesudah merger dan akuisisi.

Pada hasil pengujian terhadap Average Abnormal Return (AAR) menunjukkan terjadi penurunan AAR pada perusahaan pengakuisisi disekitar peristiwa merger dan akuisisi. Sementara pada perusahaan yang diakuisisi menunjukkan AAR perusahaan yang diakuisisi pada bulan-bulan tertentu mengalami signifikan AAR yang negatif.

Dari kedua hasil pengujian tersebut disimpulkan tidak ada perbedaan antara kinerja keuangan sebelum dengan sesudah merger dan akuisisi yang menolak hipotesis yang diajukan sebelumnya. Dengan kata lain bahwa merger dan akuisisi berpengaruh terhadap kinerja keuangan. Hal ini diduga karena merger dan akuisisi tidak menimbulkan sinergi bagi perusahaan baik perusahaan pengakuisisi maupun perusahaan yang diakuisisi yang kemungkinan disebabkan lemahnya strategi yang dilakukan, pemilihan perusahaan target yang kurang tepat, perusahaan pengakuisisi kurang pengalaman dalam melakukan merger dan akuisisi dan adanya faktor non ekonomis yaitu untuk menyelamatkan perusahaan dari kebangkrutan.

 

Contoh Skripsi Manajemen

  1. Analisis Dampak Jangka Panjang Merger dan Akuisisi terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Pengakusisi dan Perusahaan Diakuisisi di Bursa Efek Jakarta (BEJ)
  2. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Struktur Modal pada Perusahaan Otomotif yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta
  3. Analisis Perpindahan Konsumen pada Penyedia Jasa Telepon Selular dari Provider Lain Menuju Exelcomindo
  4. Analisis Sikap Konsumen terhadap Produk Distribution Outlet di Kota Yogyakarta
  5. Daya Tarik Iklan Produk Rokok Gudang Garam Merah di Media Televisi

Tesis Akuntansi: Analisis Rasio Keuangan utk Memprediksi Potensi Kebangkrutan

Judul Tesis: Analisis Rasio Keuangan Untuk Memprediksi Potensi Kebangkrutan pada Perusahaan Perbankan Go Public di Indonesia

 

A. Latar Belakang

Kondisi perbankan yang sehat merupakan kepentingan semua pihak yang terkait, baik pemilik dan pengelola bank, masyarakat pengguna jasa bank maupun BI selaku Pembina dan pengawas bank. Pada masa sebelum deregulasi perbankan di Indonesia 27 Oktober 1988, penilaian tingkat kesehatan bank di Indonesia didasarkan SK BI No. 10/63/KEP/DIR/UPPB dan SE BI No.10/5/UPPB tanggal 31 Agustus 1977. Sejalan dengan perkembangan deregulasi perbankan, BI telah menyempurnakan Tata Cara Penilaian Tingkat Kesehatan Bank melalui SK BI N0.23/81/KEP/DIR dan SE BI No.23/21/BPPP tanggal 28 Februari 1991, disempurnakan lagi dengan SK BI No.26/2/KEP/DIR dan SE BI No.26/5/BPPP tanggal 29 Mei 1993, serta disempurnakan lagi dengan Peraturan Bank Indonesia No. 6/10/PBI/2004tanggal 12 April 2004 dan Surat Edaran Bank Indonesia No. 6/23/DPNP/2004tanggal 31 Mei 2004.

Kondisi yang membuat para investor dan kreditur merasa khawatir jika perusahaan mengalami kesulitan keuangan (financial distress) yang bisa mengarah kebangkrutan. Tingkat kekhawatiran investor ini makin bertambah dengan munculnya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) No. 1 Tahun 1998 yang mengatur kepailitan. Menurut Perpu No. 1, debitur yang terkena default (gagal bayar) dapat dipetisikan bangkrut oleh dua kreditur saja.

 

B. Rumusan Masalah

  1. Apakah terdapat perbedaan yang signifikan tingkat kesehatan bank yang diproksikan menurut rasio CAMELS antara bank yang sehat dengan bank yang gagal pada perusahaan perbankan go public di Indonesia?
  2. Proksi rasio keuangan manakah yang dominan mempengaruhi kegagalan dan keberhasilan bank pada perusahaan perbankan go public di Indonesia?
  3. Bagaimana tingkat ketepatan prediksi yang dihasilkan oleh persamaan diskriminan dalam melihat kegagalan dan keberhasilan bank pada perusahaan perbankan go public di Indonesia?

 

C. Landasan Teori

Pengukuran Kinerja Keuangan

Kinerja perusahaan dapat dinilai melalui berbagai macam indikator. Sumber utama indikator yang dijadikan dasar penilaian adalah laporan keuangan perusahaan yang bersangkutan. Berdasarkan laporan ini dapat dihitung sejumlah rasio keuangan yang lazim dijadikan dasar penilaian kinerja perusahaan (Payamta dan Machfoedz, 1999).

Pengetian Laporan Keuangan

Laporan keuangan merupakan laporan peristiwa masa lalu yang berkelanjutan dari sumber, kewajiban, dan aktivitas ekonomi perusahaan (yang mengubah sumber dan kewajiban tersebut), serta dikuantitaskan dalam satuan uang, yang hasil akhir dari proses akuntansi meliputi neraca, laporan rugi-laba, dan laporan perubahan posisi keuangan.

Laporan Keuangan Bank

Laporan keuangan perbankan merupakan salah satu sumber informasi keuangan yang dikeluarkan oleh bank. Laporan keuangan yang baik harus memiliki daya prediksi sesuai dengan karakteristik dari laporan keuangan. Laporan keuangan bank yang dikeluarkan secara rutin seharusnya dapat menjadi alat dalam memperkirakan akan adanya kesulitan keuangan yang dialami oleh bank yaitu melalui rasio-rasio keuangan yang dimilikinya.

 

D. Metode Penelitian

Dalam penelitian ini, populasi yang digunakan adalah perusahaan perbankan go public di Indonesia yang terkena likuidasi maupun yang tidak terlikuidasi pada tahun 2000.

Dalam penelitian ini, sampel yang diambil secara purposive untuk perusahaan.

Data yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari data sekunder yang berupa laporan keuangan tahunan (neraca, laporan rugi laba, dan perkiraan administratif bank).

 

E. Kesimpulan

  1. Hasil pengujian univariat dengan uji-t menunjukkan bahwa dari 12 (dua belas) rasio keuangan yang diteliti, yaitu pada periode 1996 tidak terdapat satu rasiopun yang signifikan membedakan dalam memprediksi potensi kebangkrutan antara perusahaan bank yang sehat dengan perusahaan bank yang gagal. Pada periode 1997 terdapat enam rasio yang signifikan membedakan dalam memprediksi potensi kebangkrutan antara perusahaan bank yang sehat dengan perusahaan bank yang gagal yaitu rasio CAR, RORA, NPM, OPM, ROA, dan, BOPO. Pada periode 1998 terdapat tiga rasio yang signifikan membedakan dalam memprediksi potensi kebangkrutan antara perusahaan bank yang sehat dengan perusahaan bank yang gagal yaitu rasio RORA, ROA, dan IRRR.
  2. Hasil pengujian multivariat dengan multiple discriminant analysis menunjukkan bahwa dari 12 (dua belas) rasio keuangan yang diteliti selama periode 1996-1998 yaitu pada periode 1996 tidak terdapat satu rasiopun yang dominan mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan bank Pada periode 1997 terdapat dua rasio yang dominant mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan bank yaitu rasio OPM dan BOPO. Pada periode 1998 terdapat satu rasio yang dominan mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan bank yaitu rasio RORA. Pada periode 1996-1998 terdapat satu rasio yang dominan mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan bank yaitu rasio CAR. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat empat rasio yang dominan mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan bank yaitu rasio CAR, RORA, OPM, dan BOPO.
  3. Persamaan fungsi diskriminan yang dihasilkan untuk melihat kegagalan dan keberhasilan suatu bank selama periode 1996-1998 yaitu pada periode 1996 tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan mengenai rasio keuangan yang dapat mendominasi kondisi suatu bank atau dengan kata lain semua rasio relatif sama dalam mempengaruhi kegagalan dan keberhasilan bank. Hal tersebut mungkin terjadi karena pengaruh permainan window dressing pada laporan keungan yang disajikan.

 

Contoh Tesis Akutansi

  1. Evaluasi Sistem Akuntansi Pembelian Barang Dagangan pada Supermarket Asia Makmur Boyolali
  2. Evaluasi Sistem Informasi Akuntansi Penerimaan dan Pengeluaran Kas
  3. Evaluasi Ketepatan Penentuan Tarif Sewa Bed Per Hari Pada Rumah Sakit Nirmala Suri Sukoharjo
  4. Analisis Rasio Keuangan untuk Memprediksi Potensi Kebangkrutan pada Perusahaan

 

 

Tesis Akutansi: Analisis Pengaruh Roce & CSE trhdp Residual Earnings

Judul Tesis : Analisis Pengaruh Roce dan CSE terhadap Residual Earnings (Studi Kasus pada Perusahaan Manufaktur Food And Beverage di BEI)

 

A. Latar Belakang

Tingkat pertumbuhan dan kemampuan perusahaan diperkirakan untuk mengambil keputusan dalam melangkah, dan memperluas usaha. Analisis berguna untuk melihat perusahaan dari aspek-aspek tertentu yang menjadi landasan bagi kebijakan / keputusan yang diambil. Keputusan yang dibentuk berdasarkan analisis, digunakan untuk menilai / memperbaiki kinerja perusahaan.

Analisis yang ada berguna bagi semua pihak berkaitan dengan kepentingan masing-masing. Pihak yang berkepentingan berasal dari internal maupun eksternal perusahaan. Analisis yang digunakan oleh masing-masing pihak terkait tidak selalu sama. Hal ini dikarenakan berbagai pihak memiliki kepentingan masing-masing dan kebutuhan informasi yang diperlukan tidak selalu sama. Oleh karena itu, analisis yang digunakan seringkali berbeda berdasarkan kebutuhan masing-masing.

 

B. Rumusan Masalah

  1. Adakah pengaruh antara margin keuntungan penjualan(PM) dengan residual earnings di industri barang konsumsi?
  2. Adakah pengaruh antara perputaran aset(ATO) dengan residual earnings di industri barang konsumsi?
  3. Adakah pengaruh antara other items / NOA dengan residual earnings di industri barang konsumsi

 

C. Landasan Teori

Laporan Keuangan

Laporan keuangan menurut Riyanto (1997:327) adalah ikhtisar mengenai keadaan finansial suatu perusahaan dimana neraca (balance sheet) mencerminkan suatu aktiva, hutang ,dan modal sendiri pada saat tertentu, dan laporan rugi/laba(income statement) mencerminkan hasil-hasil yang dicapai selama periode tertentu, biasanya meliputi periode suatu tahunan.

Kinerja Keuangan

Menurut Helfert (1996) kinerja adalah “hasil dari banyak keputusan individual yang dibuat terus-menerus oleh manajemen”. Untuk menilai kinerja, perusahaan perlu melibatkan analisis dampak keuangan kumulatif, dan ekonomi serta mempertimbangkan ukuran komparatif.

Analisis Laporan Keuangan

Menurut Djarwanto (1984:51) Analisis laporan keuangan meliputi tata hubungan dan kecenderungan / trend untuk mengetahui apakah keadaan keuangan, hasil usaha dan kemajuan keuangan perusahaan memuaskan / tidak memuaskan. Analisis dilakukan dengan mengukur hubungan antara unsur-unsur itu dari tahun ke tahun untuk mengetahui arah perkembangannya.

 

D. Metode Penelitian

Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini bersifat survei. Penelitian ini merupakan penelitian studi empiris.

Populasi adalah keseluruhan kelompok indifidu.

Pemilihan sampel dengan metode purposive sampling.

 

E. Kesimpulan

  1. Dari perusahaan manufaktur yang bergerak di bidang food and beverage di BEI, berdasarkan kriteria yang ada, diperoleh 18 perusahaan yang terpilih sebagai sampelnya.
  2. Dari 8 rasio variabel independen, setelah diuji dengan asumsi klasik, dinyatakan bahwa rasio tersebut memenuhi syarat untuk dianalisis dengan analisis regresi berganda.

 

Contoh Tesis Akutansi

  1. Evaluasi Sistem Akuntansi Pembelian Bahan Pembantu Chemical Pada Pt.Kusumahadi Santosa Surakarta
  2. Intellectual Capital Disclosure: Studi Empiris Pada Perusahaan-Perusahaan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia
  3. Pengaruh Dana Alokasi Khusus (Dak) Dan Pendapatan Asli Daerah (Pad) Terhadap Belanja Daerah Bidang Pendidikan Pada Kabupaten/Kota Di Sulawesi
  4. Hubungan Antara Kinerja Sosial Dan Lingkungan Terhadap Kinerja Keuangan Ukuran Perusahaan
  5. Analisis Pengaruh Roce Dan Cse Terhadap Residual Earnings (Studi Kasus Pada Perusahaan Manufaktur Food And Beverage Di Bei)

 

 

Skripsi Ekonomi: Analisis Kinerja Keuangan dan Kinerja Saham Perusahaan Bersertifikat ISO

Judul Skripsi : Analisis Kinerja Keuangan dan Kinerja Saham Perusahaan Bersertifikat ISO (Studi Empiris pada Perusahaan di Bursa Efek Indonesia)

 

A. Latar Belakang Skripsi

Semakin kritis konsumen, maka semakin banyak pula tuntutan kualitas akan suatu produk, diantaranya ada yang mensyaratkan sertifikat ISO bagi produk yang akan dibelinya. Konsumen akan merasa yakin untuk membeli produk yang bersertifikat ISO karena hal itu menunjukkan jaminan perusahaan untuk menghasilkan produk yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Semakin banyak perusahaan yang menerapkan sistem manajemen kualitas dengan tujuan untuk mendapatkan sertifikat ISO. Disamping karena permintaan konsumen, alasan lain suatu organisasi berusaha mendapatkan sertikat ISO adalah keuntungan yang didapat dari implementasi tersebut, diantaranya adalah peningkatan efisiensi, produktivitas, dan kualitas.

Sistem manajemen kualitas merupakan sekumpulan prosedur terdokumentasi dan praktek-praktek standar untuk sistem manajemen mutu yang bertujuan menjamin kesesuaian dari suatu proses dan produk terhadap kebutuhan atau persyaratan yang ditetapkan oleh pelanggan dan organisasi atau perusahaan. Isu mengenai lingkungan juga menjadi hal yang penting dari kegiatan bisnis saat ini. Meningkatnya pembicaraan mengenai lingkungan dalam agenda politik dan sosial, khususnya masalah pencemaran lingkungan dan penurunan kualitas lingkungan hidup menjadi pertanda mengenai pentingnya isu lingkungan. Dalam dua dekade terakhir ini memang kerap muncul keprihatinan global terhadap dampak negatif akibat tingginya pertumbuhan agro industri maupun industri manufaktur yang mengakibatkan tercemarnya lingkungan. Itulah sebabnya, keberadaan suatu system standardisasi kian dirasakan urgensinya. Hal ini pulalah yang mendorong organisasi ISO mendirikan Strategic Advisory Group on Environment (SAGE) yang bertugas meneliti kemungkinan mengembangkan sistem standar di bidang lingkungan.

 

B. Rumusan Masalah

  1. Apakah terdapat perbedaan kinerja keuangan pada perusahaan sebelum dan sesudah bersertifikat ISO?
  2. Apakah kinerja keuangan perusahaan yang bersertifikat ISO berbeda dengan perusahaan non-sertifikat ISO?

 

C. Landasan Teori

Manajemen Kualitas

Garvin (1988) berpendapat bahwa kualitas adalah suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, manusia/tenaga kerja, proses dan tugas, serta lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan pelanggan atau konsumen. Selera atau harapan konsumen pada suatu produk selalu berubah sehingga kualitas produk juga harus berubah atau disesuaikan. Dengan perubahan kualitas produk tersebut, diperlukan perubahan atau peningkatan keterampilan tenaga kerja, perubahan proses produksi dan tugas, serta perubahan lingkungan perusahaan agar produk dapat memenuhi atau melebihi harapan konsumen.

ISO Standard

ISO (International Organization for Standardization) adalah organisasi internasional yang berkedudukan di Genewa, Swiss. Organisasi ini merupakan organisasi non-pemerintah yang didirikan pada tahun 1974. Organisasi ini mengeluarkan standar yang berlaku global adalah ISO 9000 yaitu standar mutu dan ISO 14000 yaitu standar manajemen lingkungan (Rothery, 1996).

Kinerja Perusahaan

Menurut Parker dalam Trinugroho (2005), kinerja (performance) merupakan gabungan dari kemampuan untuk melakukan pekerjaan dan memotivasi untuk berprestasi. Motivasi berprestasi merupakan gabungan dari kemungkinan bahwa usaha tersebut akan mendapat penghargaan dan nilai penghargaan tersebut bagi individu.

 

D. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan data sekunder.

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang memperoleh sertifikasi ISO seri 9000 dan 14000.

Teknik pengambilan sampel dilakukan pada penelitian ini menggunakan purposive sampling.

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang bersumber dari pihak eksternal.

Metode analisis data dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif, dengan menggunakan alat statistik deskriptif dan pengujian hipotesis.

 

E. Kesimpulan

Tidak ada perbedaan kinerja perusahaan yang mendapat sertifikasi ISO, dimungkinkan oleh beberapa hal yaitu: 1) Terlalu pendeknya jangka waktu penelitian. Kemungkinan dalam beberapa tahun kedepan hasil proses manajemen kualitas tersebut baru akan terlihat, sementara peneliti hanya menggunakan periode penelitian dua tahun sebelum dan dua tahun sesudah perolehan sertifikasi, 2) Sebelum perusahaan-perusahaan tersebut memperoleh sertifikasi ISO, mereka telah memiliki manajemen pemasaran yang baik, sehingga sertifikasi ISO tidak membawa pengaruh yang berarti, 3) Perusahaan yang melakukan sertifikasi ISO tersebut memperoleh sertifikat hanya untuk memenuhi tuntutan bisnis saja, tanpa disertai dengan penerapan lebih lanjut pada sistem manajemennya.

 

Contoh Skripsi Ekonomi

  1. Analisis Pola Konsumsi Masyarakat Pasca Bencana Gempa Bumi dan Strategi-Strategi Yang Diterapkan
  2. Analisis Pola Konsumsi Masyarakat Pasca Bencana Gempa Bumi Dan Strategi-Strategi Yang Diterapkan
  3. Analisis Rasio Camel terhadap Ekspansi Kredit Bank Umum Swasta Nasional Devisa dan Bank Umum
  4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Permintaan Jagung di Pasar Domestik Tahun 1984-2008
  5. Evaluasi Sistem Akuntansi Pengeluaran Barang pada PT Amalia Surya Cemerlang Klaten

Skripsi Ekonomi: Analisis Kinerja Keuangan dan Kinerja Saham Perusahaan Bersertifikat ISO

Judul Skripsi : Analisis Kinerja Keuangan dan Kinerja Saham Perusahaan Bersertifikat ISO (Studi Empiris pada Perusahaan di Bursa Efek Indonesia)

 

A. Latar Belakang

Semakin kritis konsumen, maka semakin banyak pula tuntutan kualitas akan suatu produk, diantaranya ada yang mensyaratkan sertifikat ISO bagi produk yang akan dibelinya. Konsumen akan merasa yakin untuk membeli produk yang bersertifikat ISO karena hal itu menunjukkan jaminan perusahaan untuk menghasilkan produk yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Semakin banyak perusahaan yang menerapkan sistem manajemen kualitas dengan tujuan untuk mendapatkan sertifikat ISO. Disamping karena permintaan konsumen, alasan lain suatu organisasi berusaha mendapatkan sertikat ISO adalah keuntungan yang didapat dari implementasi tersebut, diantaranya adalah peningkatan efisiensi, produktivitas, dan kualitas.

Sistem manajemen kualitas merupakan sekumpulan prosedur terdokumentasi dan praktek-praktek standar untuk sistem manajemen mutu yang bertujuan menjamin kesesuaian dari suatu proses dan produk terhadap kebutuhan atau persyaratan yang ditetapkan oleh pelanggan dan organisasi atau perusahaan. Isu mengenai lingkungan juga menjadi hal yang penting dari kegiatan bisnis saat ini. Meningkatnya pembicaraan mengenai lingkungan dalam agenda politik dan sosial, khususnya masalah pencemaran lingkungan dan penurunan kualitas lingkungan hidup menjadi pertanda mengenai pentingnya isu lingkungan. Dalam dua dekade terakhir ini memang kerap muncul keprihatinan global terhadap dampak negatif akibat tingginya pertumbuhan agro industri maupun industri manufaktur yang mengakibatkan tercemarnya lingkungan. Itulah sebabnya, keberadaan suatu system standardisasi kian dirasakan urgensinya. Hal ini pulalah yang mendorong organisasi ISO mendirikan Strategic Advisory Group on Environment (SAGE) yang bertugas meneliti kemungkinan mengembangkan sistem standar di bidang lingkungan.

 

B. Rumusan Masalah

  1. Apakah terdapat perbedaan kinerja keuangan pada perusahaan sebelum dan sesudah bersertifikat ISO?
  2. Apakah kinerja keuangan perusahaan yang bersertifikat ISO berbeda dengan perusahaan non-sertifikat ISO?

 

C. Landasan Teori Skripsi

Manajemen Kualitas

Garvin (1988) berpendapat bahwa kualitas adalah suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, manusia/tenaga kerja, proses dan tugas, serta lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan pelanggan atau konsumen. Selera atau harapan konsumen pada suatu produk selalu berubah sehingga kualitas produk juga harus berubah atau disesuaikan. Dengan perubahan kualitas produk tersebut, diperlukan perubahan atau peningkatan keterampilan tenaga kerja, perubahan proses produksi dan tugas, serta perubahan lingkungan perusahaan agar produk dapat memenuhi atau melebihi harapan konsumen.

ISO Standard

ISO (International Organization for Standardization) adalah organisasi internasional yang berkedudukan di Genewa, Swiss. Organisasi ini merupakan organisasi non-pemerintah yang didirikan pada tahun 1974. Organisasi ini mengeluarkan standar yang berlaku global adalah ISO 9000 yaitu standar mutu dan ISO 14000 yaitu standar manajemen lingkungan (Rothery, 1996).

Kinerja Perusahaan

Menurut Parker dalam Trinugroho (2005), kinerja (performance) merupakan gabungan dari kemampuan untuk melakukan pekerjaan dan memotivasi untuk berprestasi. Motivasi berprestasi merupakan gabungan dari kemungkinan bahwa usaha tersebut akan mendapat penghargaan dan nilai penghargaan tersebut bagi individu.

 

D. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan data sekunder.

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang memperoleh sertifikasi ISO seri 9000 dan 14000.

Teknik pengambilan sampel dilakukan pada penelitian ini menggunakan purposive sampling.

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang bersumber dari pihak eksternal.

Metode analisis data dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif, dengan menggunakan alat statistik deskriptif dan pengujian hipotesis.

 

E. Kesimpulan

Tidak ada perbedaan kinerja perusahaan yang mendapat sertifikasi ISO, dimungkinkan oleh beberapa hal yaitu: 1) Terlalu pendeknya jangka waktu penelitian. Kemungkinan dalam beberapa tahun kedepan hasil proses manajemen kualitas tersebut baru akan terlihat, sementara peneliti hanya menggunakan periode penelitian dua tahun sebelum dan dua tahun sesudah perolehan sertifikasi, 2) Sebelum perusahaan-perusahaan tersebut memperoleh sertifikasi ISO, mereka telah memiliki manajemen pemasaran yang baik, sehingga sertifikasi ISO tidak membawa pengaruh yang berarti, 3) Perusahaan yang melakukan sertifikasi ISO tersebut memperoleh sertifikat hanya untuk memenuhi tuntutan bisnis saja, tanpa disertai dengan penerapan lebih lanjut pada sistem manajemennya.

 

Contoh Skripsi Ekonomi

  1. Analisis Pola Konsumsi Masyarakat Pasca Bencana Gempa Bumi dan Strategi-Strategi Yang Diterapkan
  2. Analisis Pola Konsumsi Masyarakat Pasca Bencana Gempa Bumi Dan Strategi-Strategi Yang Diterapkan
  3. Analisis Rasio Camel terhadap Ekspansi Kredit Bank Umum Swasta Nasional Devisa dan Bank Umum
  4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Permintaan Jagung di Pasar Domestik Tahun 1984-2008
  5. Evaluasi Sistem Akuntansi Pengeluaran Barang pada PT Amalia Surya Cemerlang Klaten

Skripsi Manajemen: Dampak Jangka Panjang Merger dan Akuisisi trhdp Kinerja Keuangan

Judul Skripsi : Analisis Dampak Jangka Panjang Merger dan Akuisisi terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Pengakusisi dan Perusahaan Diakuisisi di Bursa Efek Jakarta (BEJ)

 

A. Latar Belakang Skripsi

Penelitian yang membandingkan antara akuisitor dan non akuisitor dilakukan Wibowo dan Pakereng (2001) yang meneliti return saham perusahaan akuisitor dan non akuisitor, hasilnya menunjukkan bahwa baik akuisitor dan non akuisitor sama-sama memperoleh abnormal return yang negatif di seputar pengumuman merger dan akuisisi. Penelitian lainnya dilakukan Sutrisno dan Sumarsih (2004) yang meneliti return saham perusahaan yang melakukan merger dan akuisisi dalam jangka panjang yaitu dengan jangka waktu pengamatan satu tahun sebelum dan dua tahun sesudah merger dan akuisisi, menunjukkan hasilnya bahwa merger dan akuisisi memberi pengaruh pada return saham yang bias bernilai positif dan negatif walaupun tidak signifikan secara statistik.

Atas pertimbangan berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya, peneliti tertarik untuk meneliti pengaruh merger dan akuisisi dengan membandingkan pengaruhnya terhadap pengakuisisi dan yang diakuisisi. Disamping itu mengenai pengaruh merger dan akuisisi terhadap kinerja keuangan dalam jangka panjang, baik dari rasio-rasio keuangan maupun return saham dengan pertimbangan bahwa sinergi yang diharapkan terjadi dalam jangka panjang. Dari pertimbangan-pertimbangan tersebut, maka peneliti bermaksud untuk melakukan penelitian dengan judul skripsi: “Analisis Dampak Jangka Panjang Merger dan Akuisisi terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Pengakuisisi dan Perusahaan Diakuisisi di Bursa Efek Jakarta (BEJ)”.

 

B. Rumusan Masalah

  1. Bagaimana pengaruh merger dan akuisisi terhadap kinerja keuangan perusahaan pengakuisisi dalam jangka panjang ?
  2. Bagaimana pengaruh merger dan akuisisi terhadap kinerja keuangan perusahaan diakuisisi dalam jangka panjang ?

 

 

C. Landasan Teori

Pengertian Merger

Merger merupakan salah satu strategi yang diambil perusahaan untuk mengembangkan dan menumbuhkan perusahaan. Merger berasal dari kata “mergere” (Latin) yang artinya (1) bergabung bersama, menyatu, berkombinasi (2) menyebabkan hilangnya identitas karena terserap atau tertelan sesuatu. Merger didefinisikan sebagai penggabungan dua atau perusahaan yang kemudian hanya ada satu perusahaan yang tetap hidup sebagai badan hukum, sementara yang lainnya menghentikan aktivitasnya atau bubar.

Faktor-Faktor Kegagalan Merger dan Akuisisi.

Keberhasilan atau kegagalan suatu merger dan akuisisi dapat dilihat pada saat proses perencanaan. Pada saat proses ini biasanya terjadi sudut pandang yang berbeda-beda antara fungsi organisasi dalam menanggapi pengambilan keputusan merger dan akuisisi seiring dengan meningkatnya momentum, selanjutnya terjadi rancunya pengharapan dimana terjadi perbedaan-perbedaan harapan di pihak manajemen. Dari proses tersebut dapat memunculkan faktor-faktor yang yang memicu kegagalan merger dan akuisisi yaitu:

  1. Perusahaan target memiliki kesesuaian strategi yang rendah dengan perusahaan pengambilalih.
  2. Hanya mengandalkan analisis strategik yang baik tidaklah cukup untuk mencapai keberhasilan merger dan akuisisi.
  3. Tidak adanya kejelasan mengenai nilai yang tercipta dari setiap program merger dan akuisisi.

 

Formulasi Hipotesis

Atas dasar pertimbangan dari teori pengaruh merger dan akuisisi terhadap kinerja keuangan dimana setelah merger dan akuisisi ukuran perusahaan dengan sendirinya bertambah besar karena aset, kewajiban, dan ekuitas perusahaan digabung bersama. Dasar logik dari pengukuran berdasarkan akuntansi adalah Sedangkan operating profit mengalami penurunan pada masa sesudah merger dan akuisisi. Peningkatan dan penurunan yang terjadi pada rasio-rasio keuangan tidak cukup kuat untuk menunjukkan adanya pengaruh merger dan akuisisi terhadap rasio keuangan, baik perusahaan pengakuisisi maupun perusahaan yang diakuisisi. Hal ini dibuktikan dengan tidak perbedaan secara signifikan antara satu tahun sebelum dengan satu tahun sesudah merger dan akuisisi dan satu tahun sebelum dengan dua tahu sesudah merger dan akuisisi. bahwa jika ukuran bertambah besar ditambah dengan sinergi yang dihasilkan dari gabungan aktivitas-aktivitas yang simultan maka laba perusahaan juga semakin meningkat. Oleh karena itu kinerja pasca merger dan akuisisi seharusnya semakin baik dibandingkan dengan sebelum merger dan akuisisi.

 

D. Metode Penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ) dengan rentang waktu antara tahun 2000- 2004.

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder.

Rasio keuangan dan return saham merupakan variabel yang diteliti dalam penelitian ini sebagai cerminan kinerja keuangan perusahaan.

Teknik analisis yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah Analisis Deskriptif dan Analisis Statistika.

 

E. Kesimpulan

Pada perusahaan diakuisisi current ratio, quick ratio, fixed asset turnover dan return on equity mengalami peningkatan pada masa sesudah merger dan akuisisi. Sementara pada total asset turnover, net profit margin dan return on investment meningkat pada satu tahun sesudah merger dan akuisisi, namun menurun pada tahun kedua setelah merger dan akuisisi. Pada debt to total asset dan debt to equity ratio mengalami penurunan pada tahun pertama sesudah merger dan akuisisi dan meningkat pada tahun kedua sesudah merger dan akuisisi.

 

Contoh Skripsi Manajemen

  1. Analisis Dampak Jangka Panjang Merger dan Akuisisi Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan
  2. Analisis Hubungan Display dengan Minat Beli Konsumen di Mini Market ‘X’ Tahun 1997
  3. Analisis Hubungan Sistem Penilaian Prestasi Kerja dengan Motivasi Kerja Karyawan Non Manajer
  4. Peranan Saluran Pemasaran dalam Meningkatkan Penjualan pada PT. Asuransi Bintang, Kantor Cabang Bandung
  5. Analisis Perpindahan Konsumen Pada Penyedia Jasa Telepon Selular dari Provider Lain Menuju Exelcomindo

Incoming search terms: