Tesis Analisa Kelayakan: Kelayakan Debitur dlm Pengajuan Kredit UMKM

Judul Tesis : Analisa Kelayakan Debitur dalam Pengajuan Kredit UMKM pada PT. BPR Indra Candra dengan Credit Scoring Model

A. Latar Belakang Tesis 

Salah satu jenis bank yang dikenal melayani golongan pengusaha mikro, kecil, dan menengah, adalah Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Berdasarkan Undang-Undang No. 7 tahun 1992 tentang Perbankan dan sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang No. 10 tahun 1998, Bank Perkreditan Rakyat adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan Prinsip Syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Usaha BPR antara lain menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa deposito berjangka, tabungan, dan/atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu dan memberikan kredit. Jenis kredit yang disediakan oleh BPR antara lain kredit konsumsi, kredit modal kerja, dan kredit investasi.

Menurut Hasil Kajian Kredit Konsumsi Mikro Kecil Dan Menengah Untuk Kegiatan Produktif (2009), yang dimaksud dengan kredit konsumsi adalah pemberian kredit untuk keperluan konsumsi dengan cara membeli, menyewa, atau dengan cara lain. Kredit modal kerja adalah kredit jangka pendek yang diberikan untuk membiayai keperluan modal kerja debitur. Sedangkan kredit investasi adalah kredit jangka menengah/panjang untuk pembelian barang-barang modal dan jasa yang diperlukan guna rehabilitasi, modernisasi, ekspansi dan relokasi proyek dan atau pendirian usaha baru.

 

B. Rumusan Masalah

  1. Bagaimana cara BPR Indra Candra menilai kelayakan kredit seorang debitur dengan lebih akurat sehingga dapat mengurangi risiko gagal bayar?
  2. Apakah ada perbedaan yang jelas antara ketiga hasil keputusan pengajuan kredit di BPR Indra Candra?
  3. Variabel mana yang paling mendiskriminankan hasil keputusan pengajuan kredit di BPR Indra Candra?

 

C. Tinjauan Pustaka

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah

Berdasarkan Undang-Undang No. 20/2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Kecil atau Usaha Besar dengan jumlah kekayaan bersih lebih dari Rp500.000.000,00 sampai dengan paling banyak Rp10.000.000.000,00 tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp2.500.000.000,00 sampai dengan paling banyak Rp50.000.000.000,00.

Microfinance

Menurut Sami (2010), microfinance didefinisikan sebagai aktifitas yang menyediakan jasa keuangan seperti kredit, tabungan, asuransi dan lainnya, untuk masyarakat dengan skala ekonomi rendah atau masyarakat yang tidak memenuhi syarat untuk mengajukan pinjaman ke bank.Program microfinance di Malaysia membantu usaha-usaha mikro untuk memperluas kegiatan ekonomi saat ini dan secara terus menerus meningkatkan pendapatan (Nawai & Shariff, 2011).

Bank Perkreditan Rakyat

Bank Perkreditan Rakyat (BPR) adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan Prinsip Syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. BPR sudah dikenal oleh masyarakat sejak abad ke-19, dengan nama Lumbung Desa, Bank Desa, Bank Tani, atau Bank Dagang Desa. Berdasarkan Undang-Undang No.7 Tahun 1992, BPR diberikan landasan hukum yang jelas sebagai salah satu lembaga keuangan resmi selain Bank Umum.

 

D. Metodelogi Penelitian

Penelitian ini menggunakan 3 tahap, di mana tahap pertama dilakukan wawancara dengan komisaris BPR Indra Candra sebagai pemegang keputusan kelayakan permohonan kredit dan menganalisa hasil wawancara, mulai dari asumsi yang digunakan dan variable/parameter serta karakteristik yang digunakan.

Tahap kedua, membangun model credit scoring dengan pendekatan model statistik discriminant analysis, didukung oleh data yang dihasilkan pada tahap pertama.

Tahap ketiga, akan dilakukan pengujian terhadap model credit scoring yang terbentuk, apakah fungsi diskiminan yang terbentuk dapat menggolongkan ketiga hasil keputusan pengajuan kredit di BPR Indra Candra.

 

E. Kesimpulan

1. Hasil credit scoring modelyang direpresentasikan oleh fungsi diskriminan dalam penelitian ini dapat digunakan oleh BPR Indra Candra untuk menentukan hasil keputusan pengajuan kredit, sehingga BPR Indra Candra dapat menilai kelayakan seorang debitur dalam pengajuan kredit dengan lebih akurat.

2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang jelas antara hasil keputusan pengajuan kredit yang ditolak, dengan hasil keputusan pengajuan kredit yang disetujui di BPR Indra Candra. Hal ini dibutkikan pada analisis Wilk’s Lambda.

3. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada variabel yang mendiskriminankan hasil keputusan pengajuan kredit di BPR Indra Candra. Karena keenam variabel yang digunakan, yaitu collateral, character, capacity, capital, condition dan cash flow memiliki pengaruh yang sama terhadap hasil keputusan pengajuan kredit di BPR Indra Candra.

Contoh Tesis Analisa Kelayakan

  1. Analisa Kelayakan Spin Off Plexi dari Organisasi Internal Telkom
  2. Analisa Kelayakan Investasi Bis Transjakarta Menggunakan Metode Penganggaran Modal Studi Kasus – PT Jakarta Express Trans
  3. Analisa Kelayakan dan Strategi Analisa Fixed Mobile CDMA pada Produk Flexi
  4. Analisa Kelayakan Debitur dalam Pengajuan Kredit UMKM pada PT. BPR Indra Candra dengan Credit Scoring Model
  5. Analisa Kelayakan Inventasi Bisnis ISP (Internet Service Provider) dengan Menggunakan Wireless
  6. Analisa Kelayakan Pengembangan Diabetic Centre RSPP
  7. Analisa Kelayakan Tekno-Ekonomi Pemanfaatan Co2 Natuna Menjadi Bahan Bakar Sintetik (Bensin Dan DME)
  8. Analisa Efisiensi dan Kelayakan Investasi Penerapan E-Procurement di PT.Telekomunikasi Indonesia Tbk
  9. Analisa Aspek Finansial Kelayakan Investasi dan Skenario Pembiayaan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (Studi Kasus PLTN AP600)