Tesis Integrasi Pasar: Analisa Integrasi Pasar dan Transmisi Harga Beras

Judul Tesis : Analisa Integrasi Pasar dan Transmisi Harga Beras Petani-Konsumen di Indonesia

A. Latar Belakang

Beras merupakan komoditas penting bagi penduduk Indonesia. Program diversifikasi pangan yang gagal dilakukan Pemerintah menyebabkan peran beras sebagai sumber karbohidrat utama belum tergantikan oleh jenis pangan lainnya. Tingginya tingkat ketergantungan penduduk Indonesia akan beras menjadikan Indonesia sebagai negara dengan tingkat konsumsi beras tertinggi di Asia Tenggara. Saat ini konsumsi beras di Indonesia mencapai 139 kilogram per kapita per tahun. Menurut Menteri Pertanian, tingkat konsumsi beras penduduk Indonesia sudah terlalu banyak, sementara konsumsi sumber karbohidrat lainnya masih relatif rendah. Contohnya umbi-umbian yang jumlah konsumsinya hanya 40 gram per kapita per hari , dari jumlah ideal 100 gram per kapita per hari.

Tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap beras, didukung dengan tidak adanya produk subtitusi, menyebabkan kurva permintaan beras di Indonesia bersifat inelastis. Dalam teori ekonomi mikro, produk dengan kurva permintaan inelastis memberikan keuntungan yang besar bagi produsen, atau dalam hal ini petani beras. Kondisi ini akan menyebabkan petani beras memiliki posisi tawar yang relatif lebih tinggi dibandingkan konsumen, sehingga produsen akan dengan mudah menaikan harga beras tanpa harus takut kehilangan konsumen.

 

B. Perumusan Masalah Penelitian  Tesis

Apabila kondisi tersebut tidak terjadi, maka selanjutnya akan dianalisa apakah terdapat faktor struktur pasar dan perilaku pedagang perantara yang menyebabkan fenomena Asymmetric Vertical Price Transmission tersebut.

 

C. Tinjauan Literatur

Teori Integrasi Pasar dan Transmisi Harga

Para ekonom neo-klasik percaya bahwa harga merupakan indikator utama yang dapat mencerminkan tingkat efisiensi suatu pasar. Transmisi harga dan tingkat integrasi pasat dapat dijadikan indikasi efisiensi yang terbentuk antar dua pasar yang saling berinteraksi, baik secara vertikal maupun spasial (Meyer & von Cramon-Taubadel, 2004).

Karakteristik Produk

Dalam penelitian yang dilakukan European Commision (EU-COM, 2009) disebutkan bahwa khusus untuk produk pertanian, karakteristik produk, seperti daya simpan dan musiman, merupakan faktor penting yang mempengaruhi tingkat integrasi pasar dan transmisi harga produk pertanian. Ward (1982) dalam Serra & Goodwin (2002) menyebutkan bahwa pada produk pertanian yang daya simpannya singkat, pola transmisi harga asimetris yang terjadi mengarah pada tipe negatif.

Kebijakan Pemerintah

Menurut Kinnucan dan Forker (1987), kebijakan pemerintah pun dapat menyebabkan transmisi harga asimetris yang terjadi antar level pemasaran. Perubahan harga di level petani yang relatif sering pada dasarnya akan menyebabkan ketidakpastian bagi pedagang perantara dalam menentukan harga jualnya, mengingat harga di level petani merupakan biaya input bagi pedagang perantara. Apabila perubahan biaya input tersebut bersifat sementara, maka tidak ada insentif bagi pedagang perantara untuk melakukan penyesuaian harga.

 

D. Metodelogi Penelitian

Data yang digunakan adalah data sekunder dari Badan Pusat Statistik periode 2000-2011.

Metode ini mengacu pada fenomena harga yang terjadi ketika harga di level hilir bereaksi terhadap perubahan (shock) harga di level hulu.

Kondisi transmisi harga vertikal yang tidak simetris terjadi apabila terdapat perbedaan respon harga di level hilir antara shock kenaikan dan shock penurunan yang terjadi pada harga di level hulu.

Analisa kualitatif dilakukan untuk menjelaskan faktor-faktor penyebab terjadinya transmisi harga vertikal yang tidak simetris antara harga beras petani dan konsumen di Indonesia, khususnya dikaitkan dengan faktor struktur pasar dan perilaku pedagang perantara.

 

E. Kesimpulan

  1. Dari hasil pengujian transmisi harga tidak simetris diketahui bahwa baik model asimetris sederhana maupun model asimetris kompleks menunjukkan hasil yang konsisten, dimana koefisien keseimbangan jangka panjang positif (ECT+ 31) dan koefisien keseimbangan jangka panjang negatif (ECT– 32) signifikan tidak identik secara statistik.
  2. Dengan memperhatikan karakteristik struktur dan perilaku industri beras di Indonesia, transmisi harga tidak simetris dalam jangka panjang yang terjadi disebabkan oleh 2 (dua) hal, yaitu (1) kebijakan intervensi harga yang dilakukan Pemerintah terhadap harga gabah di level petani, sementara harga beras konsumen dibiarkan bergerak tanpa batas, dan (2) market power yang dimiliki pedagang perantara.

Contoh Tesis Integrasi Pasar

  1. Analisis Pengaruh Konsentrasi Pasar Terhadap Integrasi Vertikal di Industri Manufaktur Indonesia (Pengujian Hipotesis Stigler)
  2. Analisa Integrasi Pasar dan Transmisi Harga Beras Petani Konsumen di Indonesia

Incoming search terms: