Novel Perempuan Berkalung Sorban Karya Abidah El Khalieqy dan Pintu Karya Fira Basuki (Kajian Intertekstualitas dan Nilai Pendidikan)

Latar Belakang Masalah Kajian Dua Novel

Dasar intertekstualitas adalah analisis struktur karya sastra dari unsur intrinsik dan ekstrinsiknya, kemudian menganalisis hubungan struktur karya sastra untuk menemukan persamaan dan perbedaan yang dijumpai di dalam kedua novel di atas. Analisis unsur ekstrinsik berupa nilai-nilai pesan antara lain nilai moral, nilai sosial budaya, nilai religi dan nilai falsafi yang disampaikan oleh pengarangnya (Jakob Sumardjo, 1999: 9).

Pendekatan intertekstualitas dalam penelitian ini untuk memperjelas pemahaman terhadap novel PBS karya Abidah El Khalieqy dan PT karya Fira Basuki yang di dalamnya sarat akan simbolisasi. Sehingga akan memberikan jawaban akan permasalahan-permasalahan yang ada pada kedua novel tersebut.

Rumusan Masalah

  1. Bagaimanakah struktur naratif novel PBS karya Abidah El Khalieqy dan PT karya Fira Basuki?
  2. Bagaimana unsur-unsur pembentuk struktur novel PBS karya Abidah El Khalieqy dan PT karya Fira Basuki?
  3. Apakah persamaan dan perbedaan unsur-unsur struktur novel PBS karya Abidah El Khalieqy dan PT karya Fira Basuki?

Kajian Teori, Penelitian Yang Relevan, Dan Kerangka Berpikir

  • Pendekatan Kajian Sastra

Pendekatan kajian yang dapat digunakan untuk menelaah novel sangat beragam, namun berikut ini disampaikan beberapa pendekatan kajian sastra. Hal ini dikandung maksud sebagai dasar kajian perlu mengetahui asumsi karya sastra sesuai pendekatan yang digunakan dalam mengkaji karya sastra.

  1. Pendekatan Struktural
  2. Pendekatan Intertekstualitas
  • Nilai Pendidikan dalam Novel
  1. Pengertian Nilai

Pada dasarnya yang maksud dengan nilai adalah sifat-sifat, hal-hal yang penting dan berguna bagi kemanusiaan. Dengan kata lain, nilai adalah aturan yang menentukan sesuatu benda atau perbuatan lebih tinggi, dikehendaki dari yang lain (Atar Semi, 1988:54).

  1. Pengertian Pendidikan

Dalam Undang-Undang Nomor 2 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I ketentuan umum pasal 1 disebutkan bahwa: ”Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara” (dalam Soedomo Hadi: 2003: 108). Dari beberapa pendapat tentang nilai pendidikan yang terdapat dalam karya sastra dapat disimpulkan bahwa ada beberapa nilai pendidikan yang bisa diperoleh dari sebuah cerita (dalam hal ini novel). Nilai pendidikan itu diantaranya adalah yang berhubungan dengan sosial, budaya, kemanusiaan, religi/agama, dan moral.

Metodelogi Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif–deskriptif.

Teknik pengumpulan data yang digunakan: teknik interaktif meliputi observasi berperan dan focus group discussion. Teknik noninteraktif meliputi mencatat dokumen atau arsip (content analysis), observasi tak berperan, teknik simak dan catat, dan teknik riset pustaka.

Dalam melakukan pengumpulan data, peneliti menyadari bahwa posisi dan peran utamanya adalah sebagai alat pengumpul data (human instrument), sehingga kualitas data yang diperoleh akan bergantung dari kualitas penelitinya.

Data yang sudah terkumpul dianalisis dengan teknik analisis model analisis interaktif dengan tiga alur kegiatan: (1) reduksi data; (2) penyajian data, dan (3) penarikan kesimpulan atau verifikasi.

Simpulan

  1. Struktur Naratif Novel PBS dan Pintu

Struktur naratif PBS mengisahkan kehidupan Annisa. Kisah ini didasarkan pada novel karya Abidah El Khalieqy, Kisah pengorbanan seorang perempuan, anak kyai salafiah sekaligus seorang ibu dan isteri. Annisa (23 tahun), seorang perempuan dengan pendirian kuat, cantik dan cerdas. Annisa hidup dalam lingkungan keluarga kiai di pesantren yang kolot. Struktur naratif Pintu dimulai dari pernikahan tokoh aku (Bowo) dengan Aida mantan kekasihnya.

  1. Unsur-unsur Struktur Pembentuk Novel PBS dan Pintu

Tema dalam novel PBS secara umum pengarang ingin mengungkapkan bahwa perlunya pengakuan eksistensi perempauan. Sedangkan Tema novel Pintu,  menceritakan tentang kehidupan sosial tokoh utama dari masa sekolah dan para wanitanya. Budaya Jawa dalam novel ini sangat kental. Dengan demikian, tema sentral dalam novel ini adalah keluhuran budi pekerti seseorang yang tercabut dari akar budayanya. Alur novel PBS dan Pintu bila dikaji secara cermat menggunakan model alur yang sama, yaitu alur konvensional yang sama. Penokohan tokoh utama dalam novel PBS adalah Annisa Nuhaiyyah. Setting waktu novel PBS dan Pintu tidak ada persamaan, kecuali yang terkait dengan perubahan suasana misalnya penggambaran suasana pagi, siang, dan malam. Dalam novel PBS tidak secara tersirat maupun tersurat dijelaskan kapan peristiwa itu terjadi. Namun novel Pintu secara gamblang disebutkan waktunya. Sehingga dalam Pintu secara terperinci dapat dicermati dengan detail.

  1. Nilai Pendidikan dalam Novel PBS dan Pintu

Nilai pendidikan sosial dalam novel PBS, bahwa pendidikan sosial sebaiknya dan seharusnya ditanamkan sejak kecil seperti yang dilakukan oleh orang tua Nisa. Nilai pendidikan sosial dalam novel Pintu, bahwa pendidikan sosial sebaiknya ditanamkan sejak kecil seperti yang dilakukan oleh Papa-Mama Bowo. Dengan demikian, kedua novel tersebut selalau mengingatkan kepada manusia untuk selalu memiliki jiwa sosial, ingat kepada orang sekeliling kita.

 

Hubungan kreativitas dan Peluang Kerja dengan Minat Berwirausaha

Tesis Pendidikan Kewirausahaan – Tesis Hubungan antara kreativitas dan persepsi peluang kerja dengan minat berwirausaha pada siswa kelas XI SMK tahun  diklat 2006/2007

Ide Berwirausaha

BAB I   PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah

Pendidikan   merupakan   wahana   untuk   mencerdaskan   kehidupan bangsa. Dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, pemerintah telah berupaya membangun sektor pendidikan secara terarah, bertahap, dan terpadu dengan keseluruhan pembangunan kehidupan bangsa, baik dalam bidang ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi, sosial, budaya maupun pertahanan dan keamanan.

Tujuan   pendidikan   menurut   Undang-Undang   Sistem   Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 Pasal 3 adalah sebagai berikut:

“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang  bermartabat  dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

 Peranan pendidikan dalam pembangunan adalah mengembangkan pribadi-pribadi yang dibutuhkan oleh negara yang sedang membangun, yang pada gilirannya pribadi tersebut bisa mengubah masyarakat. Pribadi-pribadi yang  dibutuhkan  oleh  pembangunan  adalah  pribadi-pribadi  yang  berjiwa kritis,   jujur,   bertanggung   jawab,   memiliki   motivasi   yang   kuat   untuk berprestasi, memiliki keterampilan, profesional, serta berwawasan luas dan mendalam.  Pendidikan  merupakan  salah  satu  bidang  yang  memberikan  sumbangan yang sangat besar terhadap pembangunan sarana kehidupan, sehingga kehidupan manusia dari waktu kewaktu semakin baik.

Penyelenggaraan  pendidikan  di  Indonesia  dilakukan  melalui pendidikan informal, formal, dan nonformal. Pendidikan informal   adalah pendidikan  yang  diperoleh  seseorang  dari  pengalaman  sehari-hari  dengan sadar atau tidak, sejak anak lahir sampai mati, yang berlangsung dalam pengalaman sehari-hari. Pendidikan formal adalah pendidikan yang dilaksanakan secara teratur, bertingkat atau berjenjang dan mengikuti syarat- syarat  yang  jelas  serta ketat.  Pendidikan  formal,  biasanya dikenal dengan pendidikan sekolah. Pendidikan nonformal ialah pendidikan yang teratur dengan sadar dilakukan tetapi tidak mengikuti syarat atau peraturan yang tetap dan ketat.

Jenjang pendidikan sekolah terdiri dari pendidikan dasar, pendidikan menengah,  dan  pendidikan  tinggi. Pendidikan  menengah  diselenggarakan untuk  melanjutkan  atau  memperluas  pendidikan  dasar  serta menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial, budaya, dan alam sekitar serta dapat mengembangkan kemampuannya lebih lanjut dalam dunia kerja atau pendidikan tinggi.

Pendidikan menengah terdiri dari :

  • pendidikan umum,
  • pendidikan kejuruan,
  • pendidikan luar biasa,
  • pendidikan kedinasan dan
  • pendidikan agama.

Salah satu bentuk pendidikan menengah adalah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 2003 Pasal 15   menyebutkan bahwa “Pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu”. Sebagai salah satu sekolah yang menghasilkan lulusan siap kerja dituntut untuk memiliki keterampilan untuk memasuki lapangan kerja, yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan sekolah kejuruan yang terdiri dari kelompok Bisnis dan Manajemen, program studi yang ada di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yaitu Akuntansi, Penjualan, dan Adimistrasi Perkantoran. Masing-masing program studi di   Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) memiliki tujuan khusus yang berbeda satu dengan yang lainnya.

Sesuai dengan tujuan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yaitu menciptakan  tenaga  kerja  tingkat   menengah,   siswa  diharapkan  mampu mengisi  kebutuhan tenaga kerja pada  instansi pemerintah  maupun  swasta. Siswa SMK setelah lulus akan mencari pekerjaan sesuai dengan keahlian yang dimiliki. Walaupun demikian tidak semua lulusan SMK mendapatkan pekerjaan,  sehingga dapat  menimbulkan pengangguran. Menurut  penelitian Depdikbud tahun 1994 yang dikutip oleh Rustini (2006: 43) :

“Baru 33,33% lulusan  SMK  yang  bekerja  sesuai  dengan  keahliannya,  selebihnya  yaitu 66,66% bekerja tidak sesuai dengan program keahlian yang selama ini ditekuninya atau bahkan masih menganggur”.

Sekolah Menengah Kejuruan sebagai lembaga kejuruan, juga diharapkan mampu menghasilkan individu yang mampu mengembangkan diri. Siswa diharapkan mampu menciptakan pekerjaan sendiri, apabila tidak mendapatkan  pekerjaan  di  instansi  pemerintah  maupun  swasta.  Kenyataan yang ada sekolah kejuruan belum mampu mewujudkan harapan tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat Wasty Soemanto (2002: 182)

“Pada saat-saat ini, kebanyakan  sekolah  kejuruan  kita  masih  berupaya  untuk  melatih  siswa menjadi tenaga-tenaga yang siap pakai bagi lapangan kerja tertentu.

Masalah utama dunia ketenagakerjaan adalah tidak sesuainya laju angkatan kerja dengan lapangan kerja yang tersedia. Dampaknya angka pengangguran  tiap  tahun  melonjak.  Dalam  20  tahun  terakhir  penyerapan tenaga kerja terus menurun. Tahun 2006 dari 106,28 juta jiwa angkatan kerja, yang terserap di bursa kerja hanya 95,18 juta jiwa, dan sisanya menganggur. Menurut litbang kompas Mei 2007 sebanyak 82,5% responden menilai pemerintah tidak memadai dalam menyediakan lapangan pekerjaan, dan hanya 1,5% responden yang menilai pemerintah memadai dalam menyediakan lapangan pekerjaan. (Kompas, 7 Mei 2007)

Menghadapi peluang kerja yang semakin sempit, mengharuskan individu  untuk  mampu  berpikir  kreatif.  Kreativitas sangat  diperlukan agar mampu mengatasi setiap permasalahan yang dihadapi tanpa menggantungkan pada orang lain. Individu  yang kreatif akan tetap optimis untuk maju dan berhasil dalam hidup, walaupun dihadapkan dengan berbagai permasalahan. Pemikiran  yang  kreatif tidak  akan  takut  untuk  mencoba  hal-hal  baru  dan mengembangkannya, dan akhirnya bermanfaat bagi orang lain.

Kreativitas siswa dapat dikembangkan pada saat proses belajar berlangsung. Guru harus melibatkan kreativitas siswa, sehingga siswa tidak hanya menerima apa yang diberikan oleh guru. Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan pendapatnya, dan siswa diberi permasalahan untuk diselesaikan. Kebiasaan yang ada pada pengajaran saat ini yaitu  guru  masih  mendominasi  pembelajaran,  sehingga  kreativitas  siswa kurang kurang berkembang. Hal ini sesuai dengan pendapat Wasty Soemanto (2002: 138) “Kebiasaan rutin yang masih dapat kita saksikan pada sekolah kita   adalah   guru   di   muka   kelas   berbicara,   menerngkan,   mendiktekan informasi, dan bertanya sedangkan murid memperhatikan, mendengarkan, dan mencatat”.

Kreativitas yang dimiliki siswa dapat dijadikan dasar untuk berwirausaha. Seorang wirausaha harus memiliki kreativitas dan keberanian tidak  bergantung  pada  oranng  lain,  keberanian  menghadapi  kondisi  dan sistuasi disekitarnya, percaya diri akan keberhasilan ide yang diciptakannya.

SMK juga membekali siswanya dengan pengetahuan kewirausahaan, yang berarti siswa diharapkan mampu mengembangkan usaha yang  bersifat  mandiri.  Keinginan untuk  mengembangkan wirausaha dikalangan siswa terus didorong agar siswa mempunyai keyakinan dan kepercayaan diri sehingga dapat membuka usaha sendiri dan tidak bergantung pada orang lain. Keinginan siswa untuk menekuni kewirausahaan mungkin timbul setelah dihadapkan dengan sedikitnya peluang kerja, sehingga siswa terdorong untuk mengembangkan usaha sendiri.

Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan di atas maka hubungan antara kreativitas dan persepsi peluang kerja dengan minat berwirausaha dipandang perlu diteliti dan dikaji lebih lanjut. Oleh karena itu, peneliti mengambil judul “HUBUNGAN  ANTARA KREATIVITAS DAN PERSEPSI PELUANG  KERJA  DENGAN  MINAT  BERWIRAUSAHA PADA  SISWA  KELAS   XI  SMK  TAHUN DIKLAT 2006/2007”.

Diklat Kewirausahaan

B.  Identifikasi Masalah

Berdasarkan masalah yang diuraikan di atas, peneliti mengidentifikasikan masalah sebagai berikut:

  1. Sekolah  Menengah  Kejuruan  (SMK)  selain  diharapkan  mampu menciptakan tenaga kerja tingkat menengah, juga diharapkan mampu menciptakan individu yang mampu mengembangkan diri sebagi pencipta lapangan  kerja,  akan  tetapi  kenyataan  yang  ada  sekolah  menengah kejuruan belum mampu mewujudkan harapan tersebut.
  2. Siswa SMK setelah lulus akan mencari pekerjaan yang telah disediakan oleh instansi pemerintah maupun swasta, akan tetapi tidak semuanya mendapatkan pekerjaan yang diharapkan.
  3. Peluang kerja khususnya dibidang formal semakin sempit. Hal ini akan mempengaruhi  bermacam-macam  kesan  siswa  terhadap  peluang  kerja yang ada pada saat  ini. Berdasarkan kesan tersebut apakah siswa akan mengambil keputusan yang terbaik ataukah tidak.
  4. Kreativitas siswa dapat dikembangkan pada saat proses belajar mengajar berlangsung, akan tetapi pengajaran yang ada pada saat ini masih bersifat konvensional, sehingga kreativitas siswa kurang berkembang.

C.  Pembatasan Masalah

Dari identifikasi masalah yang disebutkan di atas tidak semuanya dibahas dalam penelitian ini. Masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini dibatasi pada:

  1. Peluang kerja khususnya dibidang formal semakin sempit. Hal ini akan mempengaruhi  bermacam-macam  kesan  siswa  terhadap  peluang  kerja yang ada pada saat  ini. Berdasarkan kesan tersebut apakah siswa akan mengambil keputusan yang terbaik ataukah tidak.
  2. Kreativitas siswa dapat dikembangkan pada saat proses belajar mengajar berlangsung, akan tetapi pengajaran yang ada pada saat ini masih bersifat konvensional, sehingga kreativitas siswa kurang berkembang.

Sedangkan  definisi  operasional  dari  pembatasan  masalah  tersebut adalah:

1.  Kreativitas

Kreativitas yang dimaksudkan disini adalah kemampuan yang baru dan asli, yang belum dikenal maupun suatu cara untuk memecahkan masalah baru yang dihadapi. Perlu dijelaskan bahwa dalam penelitian ini hanya ditekankan pada kemampuan siswa dalam berpikir kreatif.

2.  Persepsi Peluang Kerja

Persepsi peluang kerja yang dimaksudkan disini adalah kesan, tanggapan, atau pendapat siswa tentang peluang kerja yang disediakan oleh instansi pemerintah maupun sawasta.

3.  Minat Berwirausaha

Minat berwirausaha yang dimaksudkan disini adalah tanggapan siswa yang berupa sikap yang diikuti adanya kesadaran untuk memberikan perhatian, perasaan tertarik, dan perasaan senang terhadap wirausaha termasuk di dalamnya usaha-usaha untuk mempelajari dan terjun langsung di bidang tertentu.

D.  Perumusan Masalah

Berdasarkan  latar  belakang  yang  diuraikan  di atas  peneliti merumuskan masalah sebagai berikut:

  1. Apakah ada hubungan antara kreativitas dengan minat berwirausaha pada siswa kelas XI SMK  Tahun Diklat 2006/2007?
  2. Apakah ada hubungan antara persepsi   peluang kerja dengan minat berwirausaha pada siswa kelas XI SMK Tahun Diklat 2006/2007?
  3. Apakah  ada  hubungan  antara  kreativitas  dan  persepsi  peluang  kerja dengan minat berwirausaha pada siswa kelas XI SMK  Tahun Diklat 2006/2007?

E. Tujuan Penelitian

Tujuan dilakukannya penelitian mengenai hubungan antara kreativitas dan persepsi peluang kerja dengan minat berwirausaha pada siswa kelas XI SMK  tahun diklat 2006/2007 tersebut di atas adalah:

  1. Mengetahui ada tidaknya hubungan antara kreativitas dengan minat berwirausaha pada siswa kelas XI SMK  Tahun Diklat 2006/2007.
  2. Mengetahui ada tidaknya hubungan antara persepsi peluang kerja dengan minat berwirausaha pada siswa kelas XI SMK  Tahun Diklat 2006/2007.
  3. Mengetahui ada tidaknya hubungan antara kreativitas dan persepsi peluang kerja  dengan  minat  berwirausaha  pada  siswa  kelas  XI  SMK  Tahun Diklat 2006/2007.

Tag : Tesis Pendidikan Kewirausahaan

Incoming search terms:

Pandangan Strukturalisme Genetik dan Nilai Pendidikan dalam Novel

Latar Belakang Masalah Pandangan Aspek-aspek dalam Novel

Karya sastra yang dipilih sebagai objek kajian dengan pendekatan strukturalisme genetik adalah novel Pasar, Mantra Pejinak Ular, dan Wasripin dan Satinah karya Kuntowijoyo dengan alasan:

  1. Kuntowijoyo seorang sastrawan besar pencetus sastra profetik,
  2. Novel-novel tersebut merupakan cermin realitas masyarakat; dan
  3. Kajian strukturalisme genetik dan nilai pendidikan terhadap ketiga karya sastra tersebut belum pernah dilakukan Judul yang diambil dalam penelitian ini adalah “Pandangan Profetik Kuntowijoyo dalam Novel Pasar, Mantra Pejinak Ular, dan Wasripin dan Satinah (Kajian Strukturalisme Genetik dan Nilai Pendidikan)”.

Judul yang diambil dalam penelitian ini adalah “Pandangan Profetik Kuntowijoyo dalam Novel Pasar, Mantra Pejinak Ular, dan Wasripin dan Satinah (Kajian Strukturalisme Genetik dan Nilai Pendidikan)”.

Rumusan Masalah

  1. Bagaimana pandangan dunia pengarang yang melatarbelakangi novel Pasar, Mantra Pejinak Ular, dan Wasripin dan Satinah karya Kuntowijoyo?
  2. Bagaimana struktur sosial budaya masyarakat dalam novel Pasar, Mantra Pejinak Ular, dan Wasripin dan Satinah karya Kuntowijoyo?
  3. Mendeskripsikan nilai-nilai pendidikan dalam novel Pasar, Mantra Pejinak Ular, dan Wasripin dan Satinah karya Kuntowijoyo?

Landasan Teoretis

  • Pengertian Novel

Novel dalam arti umum berarti cerita berbentuk prosa dalam ukuran yang luas yaitu cerita dengan plot dan tema yang kompleks, karakter yang banyak dan setting cerita yang beragam.

  • Unsur-unsur Novel

Penelitian terhadap novel bertolak pada unsur yang terdapat di dalam novel itu. Berkenaan dengan unsur intrinsik, Burhan Nurgiyantoro (2002: 23) menyebutkan beberapa unsur, yaitu peristiwa, cerita, plot, penokohan, tema, latar, sudut pandang penceritaan, dan bahasa atau gaya bahasa.

  • Cara Mengukur Adanya Nilai Pendidikan dalam Novel

Cara mengukur atau menganalisis nilai pendidikan yang ada di dalam novel adalah dengan membaca novel-novel tersebut secara berulangulang, memahami sacara mendalam, dan mencatat kalimat-kalimat mana sajakah yang penting dan dianggap dapat mendukung sebuah nilai pendidikan di dalamnya. Setalah dapat memahami isi teks novel tersebut, kemudian dikaji tema dan amanat yang ada di dalam ketiga novel tersebut. Dengan adanya tema yang dimunculkan di dalamnya, dapat diketahui apakah nilai-nilai yang ada di dalam novel tersebut dapat digunakan sebagai landasan pendidikan atau tidak.

Metodelogi Penelitian

Bentuk penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan metode content analysis atau analisis isi.

Sumber data penelitian ini adalah novel Pasar, Mantra Pejinak Ular, dan Wasripin dan Satinah karya Kuntowijoyo, karya-karya Kuntowijoyo yang lain, biografi penulis, komentar pengarang-pengarang lain, dan artikel dari buku, surat kabar, internet yang menunjang permasalahan penelitian.

Teknik analisis cuplikan penelitian ini menggunakan purposive sampling. Validitas data penelitian ini menggunakan metode triangulasi teori.

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis jalinan atau mengalir (flow model of analysis) yang meliputi tiga komponen, yaitu:

  1. Reduksi data (data reduction)
  2. Sajian data (data display)
  3. Penarikan simpulan (conclution drawing)

Prosedur penelitian yang peneliti lakukan melalui tiga tahap mencakup:

  1.  Tahap eksplorasi dan memperoleh gambaran umum
  2.  Tahap eksplorasi fokus
  3.  Tahap pengecekan dan keabsahan data

Simpulan

Pandangan dunia Kuntowijoyo adalah pandangan religius profetik. Hal ini diperkuat dengan pernyataan Kuntowijoyo dalam maklumat sastra profetik. Dikatakannya bahwa sastra adalah sebagai bagian dari ibadah. Ini adalah bukti pandangan religiusnya. Akan tetapi, pandangan religius tersebut bukanlah religius sufistik yang hanya mengedepankan hubungan manusia dengan Tuhan. Pandangannya adalah religius profetik karena ada humanisasi, leiberasi, dan transendensi.

Pak Mantri dideskripsikan sebagai tokoh hero yang dikenal karena interaksi sosialnya yang baik kepada masyarakat baik pedagang maupun pejabat pemerintah. Tokoh Pak Mantri diwujudkan sebagai sosok yang religius, jujur, setia sopan, dan tahu diri. Struktur sosial budaya masyarakat dalam novel Pasar, Mantra Pejinak Ular (MPU), dan Wasripin dan Satinah (WS) berkaitan erat dengan kenyataan sosial budaya masyarakat Jawa.

Analisis nilai-nilai pendidikan dalam novel Pasar, Mantra Pejinak Ular, dan Wasripin dan Satinah meliputi analisis nilai pendidikan:

  1. Agama
  2. Moral
  3. Adat/budaya
  4. Sosial
  5. Kepahlawanan

Upaya peningkatan penguasaan IPA melalui Metode Kerja Kelompok

Laporan Penelitian Tindakan Kelas – Judul lengkap dari laporan penelitian tindakan kelas ini adalah “Upaya peningkatan penguasaan IPA konsep energi dan perubahannya melalui metode kerja kelompok pada siswa kelas IV SDN”. Penelitian ini didasarkan pada pemahaman bahwa Metode pembelajaran merupakan salah satu komponen terpenting dalam perencanaan kegiatan pembelajaran karena metode pembelajaran merupakan sarana yang dapat membantu proses belajar siswa pendapat para ahli bahwa metode pembelajaran adalah cara atau jalan menyajikan atau melaksanakan kegiatan untuk mencapai tujuan.

Learning Center
Learning Center

Dalam pembelajaran Metode mempunyai pesan yang sangat penting untuk mencapai tujuan pembelajaran dengan metode yang tepat siswa akan aktif dan terangsang untuk belajar.

Permasalahan Penelitian Tindakan Kelas

Untuk mencapai Kriteria ketuntasan belajar minimal perlu adanya upaya peningkatan kualitas dan prestasi pemahaman. Berkaitan dengan itu perlu juga adanya peningkatan. Kinerja guru dalam proses perbaikan pembelajaran. Agar tingkat prestasi beserta fungsinya pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dapat tercapai maka penggunaan metode Kerja Kelompok diperlukan sehubungan dengan hal itu penulis sengaja mengangkat permasalahan dalam penelitian Tindakan kelas untuk proses perbaikan pembelajaran sebagai berikut :

  • Apakah penggunaan metode kerja kelompok dapat meningkatkan penguasaan konsep energi dan perubahannya pada mata pelajaran IPA bagi siswa kelas IV SDN?

Berawal dari akar permasalahan di atas maka dirumuskan suatu permasalahan dalam Penelitian Tindakan Kelas dalam kegiatan proses perbaikan pembelajaran adalah:

  • Sejauh mana tingkat penguasaan penggunaan metode kerja kelompok konsep energi dan perubahannya Mata pelajaran IPA bagi siswa kelas IV.

Langkah-Langkah Penyelesaian Penelitian Tindakan Kelas

Masalah yang telah dirumuskan pada rumusan masalah di atas dilakukan pemecahan masalah (pencarian solusi) dengan menyusun langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Membuat rencana perbaikan yang melibatkan siswa dikelompokkan 
dalam pembelajaran sebanyak 2 siklus,
  2. Membuat rencana kegiatan siswa yang memperhatikan 3 aspek
  3. ketrampilan proses yaitu mengamati, menggolongkan dan
  4. mendemonstrasikan.
c. Menyediakan media yang diperlukan.
  5. Melaksanakan pembelajaran perlaikan penilaian proes, refleksi 
sebanyak 2 siklus.
  6. Melaksanakan analisis kemajuan siswa

Langkah-langkah pemecahan masalah tersebut di atas dipilih karena sesuai dengan pembelajaran yang diisyaratkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

Dengan diadakannya Penelitian Tindakan Kelas mengangkat masalah : “Upaya peningkatan penguasaan IPA tentang Konsep Energi Dan Perubahannya Melalui Metode Kerja Kelompok Bagi Siswa Kelas IV SDN ini diharapkan, dapat bermanfaat antara lain yaitu:

  • Bagi siswa sebagai peserta didik
    1. Mampu meningkatkan penguasaan terhadap materi energi dan 
perubahannya sehingga prestasi belajar meningkat.
    2. Mengembangkan motivasi siswa.
    3. Memperbaiki prestasi belajar IPA.
  • Bagi guru sebagai pendidik
    1. Dapat mengetahui kelemahan dan kekurangan dalam menyampaikan 
proses pembelajaran.
    2. Meningkatkan keproporsional guru dalam mengajar
    3. Mampu meningkatkan mutu prestasi serta kinerja guru.
  • Bagi Sekolah
    1. Penciptaan kondisi pembelajaran di sekolah.
    2. Membantu perkembangan sekali untuk peningkatan prestasi dan 
kriteria katentuan minimal pada sekolah tersebut.

Siswa Praktek Metode Kerja Kelompok

Metode Kerja Kelompok


 

Sagala (2006) mengatakan bahwa metode kerja kelompok adalah metode pembelajaran dimana siswa dalam kelas dibagi dalam beberapa kelompok, dimana setiap kelompok dipandang sebagai satu kesatuan tersendiri untuk mempelajari materi pelajaran yang telah ditetapkan untuk diselesaikan secara bersama-sama.

Pada umumnya materi pelajaran yang harus dikerjakan secara bersama-sama dalam kelompok itu diberikan atau disiapkan oleh guru. Materi itu harus cukup komplek isinya dan cukup luas ruang lingkupnya sehingga dapat dibagi-bagi menjadi bagian yang cukup memadai bagi setiap kelompok. Materi hendaknya membutuhkan bahan dan informasi dari berbagai sumber untuk pemecahannya. Masalah yang bisa diselesaikan hanya dengan membaca satu sumber saja tentu tidak cocok untuk ditangani melalui kerja kelompok. Kelompok dapat dibentuk berdasarkan perbedaan individual dalam kemampuan belajar, perbedaan bakat dan minat belajar, jenis kegiatan, materi pelajaran, dan tujuan yang ingin dicapai. Berdasarkan tugas yang harus diselesaikan, siswa dapat dibagi atas kelompok paralel yaitu setiap kelompok menyelesaikan tugas yang sama, dan kelompok komplementer dimana setiap kelompok berbeda-beda tugas yang harus diselesaikan.

Metode kerja kelompok dapat diartikan sebagai bekerjanya sejumlah siswa, baik sebagai anggota kelas secara keseluruhan maupun sebagai anggota kelompok yang lebih kecil, untuk mencapai suatu tujuan tertentu secara bersama-sama. Oleh karena itu, kerja kelompok di dalam laporan penelitian tindakan kelas ini juga ditandai oleh: 1) Adanya tugas bersama; 2) Pembagian tugas dalam kelompok ; dan 3) Adanya kerja sama antara anggota kelompok dalam penyelesaian tugas kelompok.

 

Incoming search terms:

Pemanfaatan Buku Teks oleh Guru dalam Pembelajaran Sejarah

Latar Belakang Masalah Penggunaan Buku Teks dalam Pelajaran Sejarah

Buku teks sangat strategis sebagai wahana pembelajaran sejarah dan pendidikan kebangsaan yang berkelanjutan bagi generasi penerus bangsa di sekolah. Seiring dengan pendapat dari Djoko Suryo (2001: 8), Sjamsudin (1998: 103) memberikan penekanan bahwa kedudukan, fungsi dan peranan buku teks sejarah amat strategis karena menyangkut pembentukan aspek‐aspek kognitif (intelektual) dan afektif (apresiasi, nilai‐nilai) terhadap semua peserta didik dari setiap jenjang pendidikan. Sejarah nasional khususnya yang materinya dimuat dan dikemas dalam buku teks sejarah, dianggap mempunyai nilai didaktif‐edukatif bagi pembentukan jati diri bangsa dan pemersatu berdasarkan atas pengalaman kolektif berbangsa dan bernegara.

Laporan World Bank yang dikutip Jono Trimanto (2003:1) mengenai Indonesia, menunjukkan bahwa tingkat kepemilikan siswa akan buku dan fasilitas lain berkorelasi positif dengan prestasi belajar siswa. Di Filipina, peningkatan rasio kepemilikan buku siswa dari 1 : 10 menjadi 1 : 2 di kelas 1 dan 2 secara signifikan meningkatkan hasil belajar siswa. Pernyataan tersebut diperkuat oleh Dedi Supriadi (2001: 4) yang menyatakan bahwa tingkat kepemilikan siswa akan buku berkorelasi positif dan bermakna dengan prestasi belajar. Oleh karena itu, kegiatan belajar mengajar yang melibatkan siswa dan mengoptimalkan fungsi buku teks sangat penting artinya bagi tumbuhnya kesadaran siswa akan makna dan arti pentingnya mempelajari buku teks, hal ini akan mempermudah guru dalam menjalankan tugasnya, khususnya terkait dengan tujuan instruksional yang akan dicapai.

Rumusan Masalah

  1. Apa makna buku teks bagi guru dalam pembelajaran sejarah di SMA Negeri Kabupaten Semarang?
  2. Bagaimana kriteria pemilihan buku teks bagi guru dalam pembelajaran sejarah di SMA Negeri kabupaten Semarang?
  3. Bagaimana guru memanfaatkan buku teks dalam pembelajaran sejarah di SMA Negeri Kabupaten Semarang?

Kajian Teori

Pengertian Buku Teks

Buku teks pelajaran merupakan buku yang dipakai untuk mempelajari atau mendalami suatu subjek pengetahuan dan ilmu serta teknologi atau suatu bidang studi, sehingga mengandung penyajian asas‐asas tentang subjek tersebut, termasuk karya kepanditaan (scholarly, literary) terkait subjek yang bersangkutan (Nazsyara, 2009 dalam http://el‐maghfirah.blogspot.com/, 12 Januari 2010).

Pengertian Pembelajaran

Pembelajaran merupakan jantung dari proses pendidikan dalam suatu institusi pendidikan.

Fungsi Pembelajaran Sejarah

Pembelajaran sejarah memiliki arti strategis dalam pembentukan watak dan peradaban bangsa yang bermartabat serta dalam pembentukan manusia Indonesia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air.

Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan strategi studi kasus ganda. Penelitian dilakukan di SMA Negeri yang ada di Kabupaten Semarang. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling. Dari 11 SMA Negeri yang ada diambil empat SMA, yakni SMA N 1 Ungaran, SMA N 2 Ungaran, SMA N 1 Ambarawa, dan SMA N 1 Bergas.

Sumber data penelitian ini terdiri atas informan (guru-guru sejarah dan siswa), dokumen (buku teks, silabus, RPP, tempat dan peristiwa (kelas dan kegiatan pembelajaran). Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam, observasi, dan content analysis.

Validitas data menggunakan trianggulasi data dan trianggulasi metode.

Analisis data menggunakan analisis interaktif dengan tiga tahapan analisis, yakni reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan yang berinteraksi dengan pengumpulan data secara siklus.

Simpulan

  1. Pada SMA-SMA yang ada di Kabupaten Semarang, guru-guru sejarah menggunakan beragam buku teks dalam pembelajaran. Buku teks telah menjadi bagian yang penting dalam pembelajaran sejarah. Bagi guru-guru sejarah, buku teks dimaknai sebagai media dan sumber pembelajaran yang memberikan manfaat dan kemudahan baik bagi guru maupun bagi siswa. Buku teks dapat berfungsi sebagai sumber belajar sekaligus sebagai media pembelajaran, buku teks bermakna sangat penting bagi guru sejarah.
  2. Ada kriteria-kriteria yang dijadikan guru untuk memilih buku teks. Kriteria pemilihan buku teks oleh guru pada dasarnya didasarkan pada relevansi materi yang terkandung dalam buku teks dengan struktur kurikulum seperti yang tercantum dalam Permendiknas No. 22 tahun 2006. Guru-guru menyatakan bahwa pemilihan tersebut didasarkan pada Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk SMA. Buku teks yang dipilih adalah karena isinya cukup lengkap, sehingga berbagai informasi dapat diperoleh secara mudah oleh siswa. Selain itu bagi guru buku teks yang baik adalah buku yang dilengkapi dengan ilustrasi untuk memudahkan siswa dalam mewujudkan visualisasi terhadap konsep sejarah yang masih bersifat abstrak.
  3. Bagi siswa yang memiliki buku, buku teks tidak hanya dimanfaatkan oleh siswa pada saat pelajaran sejarah di dalam kelas saja, tetapi juga dimanfaatkan ketika siswa berada di rumah. Pada sekolah yang siswanya tidak memiliki buku teks, buku teks dimanfaatkan dengan cara dipinjamkan kepada siswa pada saat pembelajaran. Setelah pembelajaran selesai, buku dikembalikan ke perpustakaan.

Incoming search terms:

Pemanfaatan Benda-Benda Bersejarah Peninggalan Masa Kolonial Belanda

Latar Belakang Masalah Sejarah Benda-Benda Peninggalan Belanda

Kota Salatiga menyimpan banyak sekali benda-benda bersejarah, tetapi belum terungkap secara memadai. Referensi mengenai benda-benda bersejarah di Salatiga masih sangat minim dan terbatas, bahkan belum ada penulisan mengenainya yang cukup representatif dan komprehensif, belum ada publikasi secara ilmiah dan memadai tentang perkembangannya. Yang ada baru menunjukkan kajian yang bersifat topikal dalam bentuk makalah, paper, dan artikel.

Apabila dikaji secara mendalam, benda-benda bersejarah tersebut dapat digolongkan dan diklasifikasikan berdasarkan periodisasi sejarah Indonesia secara lengkap, sejak jaman prasejarah Indonesia, jaman sejarah Indonesia Kuno, jaman sejarah Indonesia madya, sampai jaman sejarah Indonesia Baru. Kesemuanya dapat digunakan sebagai sumber belajar khususnya untuk mata pelajaran sejarah di sekolah-sekolah dari Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi.

Rumusan Masalah

  1. Bagaimanakah deskripsi dari jenis atau ragam benda-benda bersejarah peninggalan masa kolonial Belanda yang ada di kota Salatiga?
  2. Nilai-nilai edukatif apa yang yang terkandung dalam benda-benda bersejarah peninggalan masa kolonial Belanda di Salatiga?
  3. Bagaimana guru memanfaatkan benda-benda bersejarah peninggalan masa kolonial Belanda yang ada di kota Salatiga sebagai sumber belajar?
  4. Kendala apa saja yang dihadapi guru dalam memanfaatkan benda-benda bersejarah peninggalan masa kolonial Belanda di Salatiga sebagai sumber belajar di sekolah?

Kajian Teori

Menurut Dennis Guning yang dikutip Setiadi dkk (2007:2) menyatakan bahwa guru sejarah dituntut memiliki kemampuan-kemampuan yang mendasar dan memenuhi beberapa kompetensi utama yaitu :

  1. kompetensi profesional : guru harus memiliki pengetahuan yang luas
  2. kompetensi personal : guru harus mempunyai sikap dan kepribadian yang mantap.
  3. kompetensi sosial : guru harus memiliki kemampuan berkomunikasi sosial.

Kompetensi dan kemampuan yang dimiliki guru sejarah akan semakin efektif dan berhasil guna apabila didukung oleh berbagai sumber belajar sejarah yang relevan, lengkap, dapat dioperasionalkan, dan terjangkau baik harga maupun letak, baik sumber tertulis, lisan, maupun sumber yang berupa benda.

Metodologi Penelitian

Lokasi penelitian di Kota Salatiga. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif berjenis penelitian terapan dengan studi terpancang.

Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara mendalam, observasi, mengkaji dokumen (content analysis), dan perekaman.

Informan ditentukan dengan teknik purposive sampling, yakni memilih informan yang dipandang paling tahu dan memiliki sumber data penting yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti seperti kepala sekolah beserta stafnya, guru, pemilik dan penunggu bangunan bersejarah, peserta didik, petugas piket atau pegawai kantor. Untuk memperoleh validitas data digunakan teknik trianggulasi sumber.

Data dianalisis dengan model analisis interaktif, yaitu interaksi antara pengumpulan data dengan tiga komponen analisis lain yaitu reduksi data, sajian data, dan penarikan simpulan.

Kesimpulan

Berdasarkan rumusan masalah dan pembahasan dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa Salatiga merupakan kota yang menyimpan banyak sekali kekayaan akan benda-benda bersejarah khususnya yang berupa bangunan-bangunan peninggalan masa Kolonial Belanda. Bangunan-bangunan tersebut dapat dikelompokkan ke dalam beberapa katagori yakni rumah tinggal, gedung perkantoran, tempat ibadah, sekolah, rumah sakit, hotel, bahkan panti asuhan. Kondisi beberapa bangunan memang sudah direnovasi, namun tetap tidak meninggalkan karakter aslinya. Beberapa bangunan yang lain bahkan dalam keadaan kurang terawat.

Dengan dijumpainya nilai-nilai edukatif yang terdapat pada benda-benda peninggalan bersejarah masa Kolonial Belanda di Salatiga, maka sudah pasti keberadaannya sangat bermanfaat untuk dijadikan sebagai sumber belajar di sekolah. Keberadaan bangunan sekolah-sekolah dari tingkat pendidikan dasar sampai sekolah menengah dapat mengandung nilai edukatif bahwa sejak jaman kolonial masyarakat Salatiga sudah tinggi tingkat pendidikannya. Keberadaan rumah-rumah sakit menunjukkan bahwa masyarakat Salatiga sangat menjunjung tinggi kesehatan ragawinya. Dijumpainya beberapa tempat ibadah membuktikan bahwa masyarakat sudah tinggi kesadaran religiusnya. Dari pewarisan nilai-nilai itu akan tumbuh kesadaran sejarah yang pada gilirannya dapat dimanfaatkan untuk pembangunan watak bangsa (character building). Dimanfaatkannya benda-benda bersejarah peninggalan masa Kolonial Belanda di Salatiga sebagai sumber belajar di sekolah-sekolah tentu saja dilakukan dengan mempertimbangkan daya kreatifitas, kejelian, kemauan, dan kemampuan si pengguna dalam hal ini guru dan peserta didik karena kedudukan peninggalan-peninggalan tersebut sangat penting dan strategis.

Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) Sebagai Pembelajaran Matematika

Latar Belakang Masalah Pembelajaran Matematika

Selama waktu pelajaran dalam kelas, semuanya dipenuhi dengan pemberian materi dan latihan saja. Sejak jam pembelajaran dimulai, siswa diharuskan mengkonsumsi materi pembelajaran matematika tanpa adanya kesempatan mengelak. Tak ada kesempatan untuk mempelajari hal-hal lain yang sama penting, atau jauh lebih penting daripada matematika itu sendiri. Bisa jadi inilah yang menyebabkan munculnya persepsi bahwa matematika itu ”menyeramkan”. Terlebih lagi jika cara penyampaian materinya sangat kaku dan membosankan.

Masalah diatas perlu kiranya dicarikan solusinya. Bagaimana seorang pengajar mampu menghilangkan citra buruk matematika di benak siswanya, dan tentu akan lebih baik lagi jika akhirnya nanti, perasaan cinta dan butuh terhadap matematika/ pembelajaran matematika benar-benar telah tumbuh berkembang dalam jiwa setiap siswanya. Erica McWilliam (1997) dalam jurnalnya mengemukakan bahwa,”Kita semua harus menjadi peserta didik sepanjang waktu, dan orang-orang dari kita yang mengajar siswa juga harus memahami diri untuk menjadi fasilitator pembelajaran”.

Perumusan Masalah

  1. Apakah pembelajaran matematika yang diajarkan dengan metode PPR lebih baik dibandingkan dengan pembelajaran dengan metode konvensional terhadap prestasi belajar siswa pada materi pokok luas segitiga?
  2. Apakah siswa dengan aktivitas belajar tinggi lebih baik prestasi belajarnya dibandingkan dengan siswa dengan aktivitas belajar sedang dan siswa dengan aktivitas belajar rendah, dan siswa dengan aktivitas belajar sedang lebih baik prestasi belajarnya dibandingkan dengan siswa dengan aktivitas belajar rendah pada materi pokok luas segitiga?
  3. Apakah perbedaan prestasi belajar matematika dengan menggunakan metode PPR dan dengan metode konvensional konsisten pada tiap kategori aktivitas belajar siswa, dan apakah perbedaan prestasi belajar matematika antara tiaptiap kategori aktivitas belajar konsisten pada pembelajaran menggunakan metode PPR dan metode konvensional?

Landasan Teori

Thulus Hidayat,et al (1995:96) mengemukakan bahwa, “Belajar sebagai suatu proses atau aktivitas dipengaruhi oleh berbagai faktor yang secara garis besar dapat dibagi menjadi 2, yaitu:

Faktor yang berasal dari luar diri pelajar (eksternal) yaitu:

  • Faktor non sosial seperti keadaan suhu, cuaca, waktu dan alat yang digunakan.
  • Faktor sosial yaitu faktor manusia

Faktor-faktor yang berasal dari dalam diri pelajar (internal)

  • Faktor-faktor fisiologis yaitu keadaan jasmani
  • Faktor-faktor psikologis

Prestasi Belajar Matematika Suatu proses belajar mengajar dikatakan berhasil apabila tujuan instruksional khusus dapat tercapai. Tujuan instruksional tersebut merupakan hasil belajar yang telah ditetapkan baik menurut aspek isi maupun aspek perilaku.

PPR (Paradigma Paedagogi Reflektif) adalah polapikir dalam menumbuh kembangkan pribadi siswa menjadi pribadi berkemanusiaan. PPR termasuk model pembelajaran inovatif alternatif yaitu kooperatif.

Metodelogi Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian dengan menggunakan metode eksperimental semu dengan desain faktorial 2×3.

Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMA-SMA se Kabupaten Semarang Semester II tahun pelajaran 2008/2009.

Sampel penelitian ini adalah kelompok eksperimen (dengan metode PPR) terdiri dari SMA N 1 Ambarawa sebanyak 40 siswa dan SMAK Bhakti Awam sebanyak 40 siswa, jumlah kelompok eksperimen sebanyak 80 siswa. Sedangkan kelompok kontrol (metode konvensional) terdiri dari SMAN 1 Ambarawa sebanyak 40 siswa dan SMAK Bhakti Awam sebanyak 40 siswa, jumlah kelompok kontrol sebanyak 80 siswa. Jadi banyaknya sampel 160 siswa. Metode penarikan sampel menggunakan penarikan sampel berkelompok (Cluster Random Sampling) dengan cara undian. Data dikumpulkan dengan metode dokumentasi, angket dan tes.

Metode dokumentasi dari nilai UAN SMP digunakan untuk uji keseimbangan, metode angket digunakan untuk mengukur aktivitas belajar matematika dan metode tes digunakan untuk mengumpulkan data prestasi belajar matematika.

Analisis data dengan analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama, dilanjutkan dengan uji komparasi ganda metode Scheffe.

Kesimpulan

  1. Cara penyajian materi menggunakan metode PPR lebih baik daripada menggunakan pembelajaran Konvensional.
  2. Prestasi belajar siswa dengan aktivitas tinggi lebih baik dari pada prestasi belajar siswa dengan aktivitas belajar sedang, sedangkan siswa dengan aktivitas tinggi lebih baik dari pada prestasi belajar siswa dengan aktivitas rendah, dan prestasi belajar siswa dengan aktivitas sedang lebih baik daripada prestasi siswa dengan aktivitas rendah pada materi pokok luas segitiga.
  3. Prestasi belajar matematika dari masing-masing cara penyajian materi berlaku konsisten/ sama pada masing-masing kategori aktivitas siswa dan prestasi belajar matematika dari masing-masing kategori aktivitas belajar berlaku konsisten/ sama pada masing-masing cara penyajian materi.

 

Incoming search terms:

Tesis Manajemen Komunikasi CSR (Corporate Social Responsibility)

Tesis Manajemen Komunikasi CSR – Dewasa ini, isu kedermawanan sosial perusahaan mengalami perkembangan pesat sejalan dengan berkembangnya konsep tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility).

Salah satu ide pokoknya terkait dengan mandat dunia usaha untuk tidak semata-mata mencari keuntungan, tetapi harus pula bersikap etis dan berperan dalam penciptaan investasi sosial. Diantaranya, yang lazim dilakukan oleh perusahaan adalah menyelenggarakan program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat serta kegiatan karitas (Nursahid, 2006).

Dunia usaha bukan lagi sekedar kegiatan ekonomi untuk menciptakan profit demi kelangsungan usahanya, melainkan juga mempunyai tanggung jawab terhadap sosial dan lingkungannya (Wibisosno, 2007). Mereka juga meyakini bahwa CSR merupakan investasi bagi perusahaan demi pertumbuhan dan keberlanjutan (sustainability) perusahaan. Artinya CSR bukan lagi dilihat sebagai sentra biaya (cost center) melainkan sebagai sentra laba (profit center) dimasa mendatang (Wibisono, 2007).

CSR (tanggung jawab sosial perusahaan) adalah usaha suatu bisnis menyeimbangkan komitmennya terhadap lingkungan, konsumen, karyawan dan penanaman modal, (Griffin dan Ebert, 1996). Sedangkan menurut Arismunandar (2007), sedikitnya ada enam kecenderungan utama yang menegaskan arti penting CSR yaitu:

  1. Meningkatkan kesenjangan antara kaya dan miskin
  2. Posisi negara yang semakin berjarak pada rakyatnya
  3. Makin mengemukanya arti kesinambungan
  4. Makin gencarnya sorotan kritis dan resistensi dari publik
  5. Adanya tren kearah transparansi bahkan yang bersifat anti perusahaan
  6. Adanya harapan-harapan bagi terwujudnya kehidupan yang lebih baik dan manusiawi pada era millenium baru.

Penelitian ini adalah adalah sebuah penelitian dasar deskriptif, bertujuan untuk mengetahui manajemen komunikasi CCFI dalam program CSR “Rumah Belajar” di JSC Yogyakarta yang meliputi proses perencanaan (planning), pengorganisasian (Organizing), pelaksanaan (actuating), pengawasan (monitoring) dan evaluasi (evaluation) dan ingin mengetahui respon atau tanggapan dari komunikan (pengelola JSC, Bapusda dan Masyarakat) yang memperoleh manfaat dari program CSR “Rumah Belajar” yang dilaksanakan oleh CCFI di JSC.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dokumentasi dan studi kepustakaan. Observasi digunakan untuk memperoleh data kualitatif dari manajemen komunikasi program CSR CCFI Rumah Belajar di JSC, sedangkan wawancara mendalam dan dokumen digunakan untuk menggali data kualitatif dari informan. Data hasil observasi dianalisis dengan deskriptif dan dimasukkan dalam beberapa kategori, sedangkan wawancara dan dokumen dideskripsikan dalam kata-kata atau ungkapan dan kemudian dimasukkan dalam kategori tertentu.

Setelah melakukan analisis, penulis menarik kesimpulan, semua hal yang berhubungan dengan pelaksanaan sudah direncanakan sebagai program kegiatan dan sudah dikonfirmasikan oleh pihak CCFI. Tim JSC tinggal melaksanakan serangkaian kegiatan yang sudah direncanakan. Pada saat pelaksanaan, pihak JSC senantiasa memberikan informasi kepasa CCFI mengenai kegiatan yang dilaksanakan. Meskipun pihak CCFI tidak selalu bisa datang, tetapi pelaporan dan pemberitahuan selalu diinformasikan. Komunikasi selalu terjalin selainunutuk meminta informasi juga dilakukan untuk memberikan informasi.

Berdasarkan hasil penelitian, maka peneliti memberikan beberapa saran sebagai berikut:

  1. Selanjutnya untuk evaluasi dari masyarakat, masyarakat sangat terkesan dari program CSR CCFI “Rumah Belajar”. Bahkan karena keberhasilannya, konsep Rumah Belajar selanjutnya difasilitasi oleh pemerintah daerah sebagai program pembangunan di Kota Yogyakarta untuk dikembangkan di daerah lain.
  2. Program rumah belajar yang dilaksanakan akan lebih maksimal, keterbatasan akan pengelolaan dan pelaksanaannya sudah terjawab, mereka hanya perlu memaksimalkan dan memberdayakannya sehingga sesuai dengan kebutuhan sebagai rumah belajar dan dikelola secara profesional.

Kata Kunci : Tesis Manajemen Komunikasi CSR

Incoming search terms:

Novel Suparto Brata’s Omnibus Karya Suparto Brata (Pendekatan Sosiologi Sastra dan Nilai Pendidikan)

Latar Belakang Masalah Kajian Sosiologi dan Nilai Pendidikan dalam Novel

Di setiap novelnya memiliki kekhasan masing-masing. Seperti halnya dalam novel clemang-clemong, terdapat beberapa kata yang bagi sebagian orang dianggap tabu. Dalam novel Astirin Mbalela kita bisa melihat keberanian Astirin dalam menentang tradisi kawin paksa dan petualangannya saat pergi ke Surabaya. Selanjutnya Suparto Brata menyajikan adegan menegangkan dengan gaya khas detektif dalam novel Bekasi Remengremeng. Semuanya dikemas dengan tangan dingin Suparto Brata. Pembaca juga disuguhkan dengan alur cerita yang menawan. Tidak mudah ditebak! Pembaca akan terus dibuat penasaran dan bertanya-tanya tentang peristiwa selanjutnya. Istilah seperti suspense dan surprise juga dihadirkan dalam cerita Astirin Mbalela. Suspense yang membuat pembaca penasaran dan ingin terus membacanya, sedangkan surprise adalah hal yang memberi kejutan bagi pembaca dalam cerita tersebut.

Penelitian ini mengambil judul Novel Suparto Brata‟s Omnibus karya Suparto Brata (Tinjauan Sosiologi Sastra dan Nilai-nilai Pendidikan). Penelitian ini dimulai dengan sebuah kajian struktural yang menganalisis tentang tema, alur, penokohan, setting, dan sudut pandang dilanjutkan dengan kajian sosiologi sastra, dan nilai-nilai pendidikan yang meliputi nilai pendidikan agama, karakter dan sosial budaya.

Rumusan Masalah

  1. Bagaimanakah unsur-unsur struktural yang meliputi tema, alur, penokohan, latar, dan sudut pandang yang terdapat dalam SBO?
  2. Bagaimanakah aspek sosial dan budaya yang terdapat dalam SBO?
  3. Bagaimanakah nilai-nilai pendidikan dalam SBO?

Landasan Teori, Penelitian Yang Relevan, Kerangka Berpikir

  • Pendekatan Sosiologi Sastra

Sosiologi sastra adalah suatu telaah obyektif dan ilmu tentang manusia dalam masyarakat dan proses sosialnya (Sapardi Djoko Damono, 1979: 17). Penelitian sastra dengan menggunakan pendekatan sosiologi sastra memperlihatkan kekuatan yakni: sastra dipandang sebagai sesuatu hasil budaya yang amat diperlukan masyarakat. Suatu pendekatan sosiologi sastra mencakup tiga komponen pokok menurut pendapat Warren dan Wellek dalam Djoko Damono (1979: 3) ketiganya dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

  1. Sosiologi pengarang
  2. Sosiologi karya sastra
  3. Sosiologi sastra
  • Hakikat Nilai Pendidikan

Herman J. Waluyo (2009:27) menyatakan bahwa nilai sastra berarti kebaikan yang ada dalam makna karya sastra bagi kehidupan. Nilai sastra dapat berupa nilai medial (menjadi sarana). Nilai final (yang dikejar seseorang), nilai cultural, nilai kesusilaan, dan nilai agama. Dari pendapat tersebut, peneliti menyimpulkan ada tiga macam nilai yang terdapat dalam Suparto Brata‟s Omnibus. Nilai-nilai pendidikan yang dimaksud yaitu nilai pendidikan agama, pendidikan karakter, dan pendidikan sosial budaya.

Metodelogi Pendidikan

Bentuk penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif.

Sumber data penelitian ini dapat dipilah menjadi dua, yaitu dokumen dan informan. Dokumennya adalah Suparto Brata‟s Omnibus tahun 2007. Informannya adalah pengarang Suparto Brata‟s omnibus.

Berdasarkan sumber data penelitian, maka data penelitiannya adalah teks di dalam Suparto Brata‟s omnibus yang mengandung tema, alur, penokohan, setting, sudut pandang, aspek sosial budaya, dan nilai-nilai pendidikan.

Simpulan

Berdasarkan analisis yang telah dilakukan terhadap Suparto Brata‟s Omnibus, maka dapat ditarik simpulan sebagai berikut:

  1. Suparto Brata‟s Omnibus meliputi tiga novel, yaitu Astirin Mbalela, Clemang-clemong, dan Bekasi Remeng-remeng. Ditinjau dari analisis struktural, novel Astirin Mbalela merupakan salah satu novel yang bertemakan perjuangan. Aspek penokohan dalam novel Astirin Mbalela menampilkan tokoh-tokoh dari berbagai kalangan dengan latar belakang yang berbeda. Alur yang digunakan dalam novel Astirin Mbalela adalah alur maju, karena menceritakan kejadian dari awal hingga akhir.Setting tempat, setting waktu, dan setting sosial digarap dengan apik dan menarik. Sudut pandang yang digunakan oleh pengarang dalam novel Astirin Mbalela adalah sudut pandang orang ketiga. Aspek penokohan dalam novel tersebut juga menampilkan tokoh-tokoh dengan komplek, dan sebagian tokoh mengalami perubahan nasib.
  2. Bagaimanapun juga aspek sosial budaya tidak bisa dilepaskan dari karya sastra terutama karya rekaan. Segala hal yang berhubungan dengan pekerjaan, pendidikan, agama, adat-istiadat, bahasa, suku dan tempat tinggal selalu berhubungan dengan karya tersebut. Tidak terkecuali dalam Suparto Brata‟s Omnibus yang meliputi Astirin Mbalela, Clemang-clemong, dan Bekasi Remeng-remeng.
  3. Nilai-nilai pendidikan yang meliputi nilai pendidikan agama, pendidikan karakter, dan pendidikan sosial budaya yang terdapat dalam Suparto Brata‟s Omnibus sangat bermanfaat bagi penikmat karya sastra dimanapun berada.

 

Incoming search terms:

Pembelajaran Remidial Mengunakan Peta Konsep Dan Teka – Teki Silang

Pembelajaran RemedialContoh Tesis~ Pembelajaran Remidial Mengunakan Peta Konsep Dan Teka – Teki Silang Ditinjau Dari Kreativitas Dan Aktivitas Siswa 

Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan salah satu aspek penting bagi kehidupan suatu bangsa, karena kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan dan sumber daya manusia. Dewasa ini perkembangan dunia pendidikan menjadi sangat diperhatikan, terutama untuk menghadapi persaingan global yang semakin tinggi. Sekolah mempunyai peranan tinggi dalam meningkatkan tujuan Pendidikan Nasional. Pendidikan merupakan proses sistematik untuk meningkatkan martabat manusia yang memungkinkan potensi diri dapat berkembang secara optimal.

Salah satu masalah besar dalam bidang pendidikan di Indonesia yang banyak diperbincangkan adalah rendahnya mutu pendidikan yang tercermin dari rendahnya rata-rata prestasi belajar siswa. Masalah  lain dalam bidang pendidikan di Indonesia yang juga banyak diperbincangkan adalah bahwa pendekatan dalam pembelajaran masih didominasi oleh peran guru (teacher centered). Guru lebih banyak menempatkan siswa sebagai objek dan bukan sebagai subjek didik. Pendidikan kita kurang memberikan kesempatan kepada siswa dalam berbagai mata pelajaran untuk mengembangkan kemampuan berpikir holistik (menyeluruh), kreatif, obyektif, dan logis.

Perumusan Masalah

Masalah pokok yang akan dikaji dalam penelitian ini, dapat dirumuskan sebagai berikut :

  1. Apakah ada  pengaruh pembelajaran  remidial menggunakan peta konsep dan teka-teki silang terhadap prestasi belajar fisika siswa kelas IX   SMP N 2 Batangan?
  2. Apakah ada pengaruh tingkat  kreativitas siswa dalam meningkatkan prestasi belajar fisika siswa kelas IX SMP N 2 Batangan?
  3. Apakah ada pengaruh tingkat aktivitas siswa dalam meningkatkan prestasi belajar fisika siswa kelas IX SMP N 2 Batangan?
  4. Apakah ada interaksi antara pembelajaran remidial menggunakan peta konsep dan teka-teki silang dengan tingkat kreativitas siswa terhadap prestasi belajar fisika siswa kelas IX SMP N 2 Batangan?

Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah :

  1. Untuk mengetahui  pengaruh pembelajaran  remidial menggunakan peta konsep dan teka-teki silang terhadap prestasi belajar siswa.
  2. Untuk mengetahui pengaruh tingkat kreativitas siswa dalam meningkatkan prestasi belajar fisika siswa kelas IX SMP N 2 Batangan.
  3. Untuk mengetahui pengaruh   tingkat aktivitas siswa dalam meningkatkan prestasi belajar fisika siswa kelas IX SMP N 2 Batangan.
  4. Untuk mengetahui  interaksi antara pembelajaran remidial menggunakan peta konsep dan teka teki silang dengan tingkat kreativitas siswa terhadap  prestasi belajar fisika siswa kelas IX SMP N 2 Batangan.

Kesimpulan

Berdasarkan  kajian teori dan didukung adanya hasil analisis serta mengacu pada perumusan masalah yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan sebagai berikut :

  1. 1.  Terdapat pengaruh penggunaan  pembelajaran remidial  menggunakan   peta konsep dan menggunakan metode  teka-teki silang  terhadap prestasi belajar siswa pada materi kemagnetan kelas  IX semester 2 SMP Negeri 2 Batangan Kabupaten Pati  tahun pelajaran 2008/2009, yaitu prestasi belajar menggunakan metode peta konsep lebih baik daripada prestasi belajar menggunakan  teka-teki silang  dengan nilai rataan prestasi belajar berturut-turut 76,97 dan 73,5.
  2. Terdapat pengaruh kreativitas kategori tinggi dan kreativitas kategori rendah pada  pembelajaran  remidial  menggunakan  peta konsep dan teka-teki silang terhadap prestasi  pada materi  kemagnetan siswa kelas  IX semester 2 SMP Negeri 2 Batangan Kabupaten Pati tahun pelajaran 2008/2009. Siswa yang memiliki  kreativitas tinggi mempunyai prestasi belajar  yang lebih tinggi daripada siswa yang memiliki  kreativitas rendah. Nilai  kreativitas kelas  peta konsep dan kelas teka-teki silang  secara berurutan adalah 78,41 dan 68,29.
  3. Terdapat pengaruh aktivitas kategori tinggi dan aktivitas kategori rendah pada pembelajaran  Remidial menggunakan  peta konsep dan teka-teki silang  terhadap prestasi belajar  Fisika  pada materi  kemagnetan siswa kelas  IX semester 2 SMP Negeri 2 Batangan Kabupaten Pati tahun pelajaran 2008/2009. Siswa yang memiliki  aktivitas  tinggi mempunyai prestasi belajar yang lebih tinggi daripada siswa yang memiliki aktivitas rendah.
  4. Tidak ada interaksi antara pembelajaran Remidial menggunakan peta konsep dan teka-teki silang serta tinggi rendahnya kreativitas siswa terhadap prestasi belajar  fisika materi  kemagnetan siswa kelas  IX semester 2 SMP Negeri 2 Batangan Kabupaten Pati tahun pelajaran 2008/2009. Artinya tingkat kreativitas dan penggunaan metode pembelajaran mempunyai pengaruh sendiri-sendiri terhadap prestasi belajar fisika kemagnetan.

 

Incoming search terms: