Skripsi Manajemen: Gender dan Risk Attitude dlm Pemilihan Portofolio Investasi

Judul Skripsi : Gender dan Risk Attitude dalam Pemilihan Portofolio Investasi pada Asset Beresiko: Studi Eksperimental

 

A. Latar Belakang

Dalam teori keuangan standar, investor selalu diasumsikan rasional dimana investor selalu berusaha mengidentifikasi dan memproses informasi yang relevan untuk mengambil keputusan yang optimal.Tetapi dalam beberapa tahun terakhir, muncul berbagai bukti empiris yang menunjukkan adanya perilaku investor yang menyimpang dari prediksi tersebut. Bukti empiris tersebut bertentangan dengan paradigma pasar efisien (efficient market hypothesis) yang begitu dominan sebelumnya yang mengatakan bahwa harga suatu financial asset mencerminkan informasi yang relevan. Hal ini disebabkan adanya bias kognitif (cognitive bias) yang mendistorsi persepsi sehingga menyebabkan harga pasar dari suatu sekuritas menyimpang dari nilai fundamentalnya (Charness and Gneezy, 2003).

Berawal dari fakta empiris dan anomali yang terjadi di pasar modal yang menunjukkan kegagalan paradigma hipotesa pasar efisien (EMH) dalam menjelaskan banyak fenomena keuangan tersebut, kemudian berkembanglah behavioral finance (keuangan perilaku). Behavioral finance secara umum didefinisikan sebagai aplikasi psikologi dalam keuangan (Pompian, 2006). Behavioral finance dibagi menjadi dua topik yaitu behavioral finance macro yang mendeteksi dan mendeskripsikan anomali-anomali dalam hipotesis pasar efisien yang mungkin dapat dijelaskan dengan model behavioral (keperilakuan) dan behavioral finance micro yang menguji perilaku-perilaku atau bias-bias psikologis dari investor individual yang membedakannya dari perilaku rasional yang dikemukakan oleh teori ekonomi klasik, teori portofolio dan hipotesis pasar efisien.

 

B. Rumusan Masalah

  1. Apakah terdapat pengaruh ambiguity aversion terhadap portofolio investasi pada aset beresiko?
  2. Apakah terdapat pengaruh illusion of control terhadap portofolio investasi pada aset beresiko?
  3. Apakah terdapat perbedaan tingkat ambiguity aversion antara pria dan wanita?

 

C. Landasan Teori

Behavioral Finance (Keuangan Perilaku)

Pengertian dan Pengelompokan Behavioral Finance (Keuangan Perilaku) Shefrin dan Statman (2000) mendefinisikan behavioral finance sebagai interaksi antara psikologi dengan perilaku dan kinerja keuangan praktisi. Definisi lain diungkapkan oleh Ricciardi (2000) yang menyatakan bahwa behavioral finance berusaha untuk menjelaskan dan meningkatkan pemahaman mengenai perilaku investor melibatkan proses-proses emosional dan sejauhmana hal tersebut mempengaruhi proses pengambilan keputusan. Secara esensial, behavioral finance mencoba untuk menjelaskan apa, mengapa, dan bagaimana keuangan dan investasi dari perspektif manusia (human perspective).

Ambiguity Aversion

(Ellsberg dalam Charness and Gneezy, 2003) mendefinisikan ambiguity aversion sebagai keinginan untuk menghindari hal-hal yang belum jelas (ambigu), meskipun tidak akan meningkatkan expected utility.

 

Gender Differences

Menurut kamus arti gender adalah ‘jenis kelamin’. Tetapi dalam terminologi sosial-budaya, gender adalah “perbedaan antara laki-laki dan perempuan yang bukan biologis dan juga bukan kodrat Tuhan”. Terminologi inilah yang banyak dipakai untuk memberi pemahaman pada kata gender. Gender dapat diartikan sebagai peran yang dibentuk oleh masyarakat serta perilaku yang tertanam melalui proses sosialisasi yang berhubungan dengan jenis kelamin perempuan dan laki-laki.

 

D. Metode Penelitian

Partisipan yang mengikuti eksperimen ini sebanyak 39 orang yang terdiri dari 22 partisipan pria dan 17 partisipan wanita, seluruh partisipan adalah mahasiswa Program S-1 Jurusan Manajemen Universitas Sebelas Maret Surakarta yang sudah menempuh mata kuliah Teori Portofolio dan Analisis Investasi.

Adapun metode yang digunakan untuk penelitian ini adalah Binomial test, one way ANOVA dan independent sample t- test

 

E. Kesimpulan Skripsi

  1. Hasil pengujian menunjukkan bahwa derajat ambiguity aversion dari partisipan rendah karena (71.79%) partisipan cenderung tidak bersedia ketika diminta untuk membayar jika memilih kotak yang diketahui distribusi probabilitasnya (kotak A) dan lebih memilih Kotak B yang tidak berbiaya. Dari pengujian one way ANOVA menunjukkan bahwa ambiguity aversion ini terbukti mempengaruhi investasi portofolio asset beresiko secara signifikan pada α 5%. Namun dari hasil pengujian dengan menggunakan Tukey HSD menunjukkan bahwa ambiguity aversion tidak mempengaruhi tingkat investasi, jadi meskipun orang itu cenderung ambiguity aversion, tapi dia tidak akan mengurangi jumlah investasinya Maka hal ini membuktikan adanya ambiguity aversion bias berarti bahwa orang lebih memilih melakukan investasi pada pilihan investasi yang distribusi peluangnya diketahui daripada yang tidak diketahui atau cenderung menghindari hal- hal yang belum jelas (ambigu)
  2. Hasil pengujian menunjukkan bahwa derajat illusion of control dari partisipan juga rendah karena (71.79%) partisipan cenderung tidak bersedia ketika diminta untuk membayar jika memilih memutar dadu sendiri dan lebih memilih menyerahkan pemutaran dadu kepada eksperimenter yang tidak berbiaya . Dan pengujian one way ANOVA menunjukkan bahwa illusion of control juga terbukti mempengaruhi investasi portoflio pada asset beesiko secara signifikan pada α 10%. Namun dari hasil pengujian dengan menggunakan Tukey HSD menunjukkan bahwa illusion of control tidak mempengaruhi tingkat investasi, jadi meskipun orang itu cenderung memilki illusion of control tapi dia tidak akan meningkatkan jumlah investasinya. Adanya illusion of control bias berarti bahwa keterlibatan aktif akan menyebabkan tingkat keyakinan akan hasil (outcomes) meningkat , investor lebih memilih untuk melakukan investasi dimana mereka percaya bahwa mereka dapat mengontrol hasil dari investasi tersebut. Investor memilki keyakinan yang lebih dalam hal kemampuan untuk memprediksi atau hasil yang lebih memuaskan ketika ia memilki keterlibatan yang lebih didalamnya, meskipun level illusion of control tidak mempengaruhi besarnya dana yang diinvestasikan
  3. Gender difference memepengaruhi tingkat ambiguity aversion dan illusion of control Dan dari hasil independent sample ttest menunjukkan bahwa terdapat perbedaan secara signifikan antara pria dan wanita, baik pada tingkat ambiguty aversion maupun illusion of control. Dan keduanya menunjukkan bahwa pria memiliki tingkat ambiguity aversion dan illusion of control yang lebih tinggi daripada wanita. ambiguity aversion yang tinggi berarti bahwa pria cenderung menghindari hal- hal yang belum jelas (ambigu), dan illusion of control yang tinggi berarti bahwa pria memilki keyakinan yang lebih dalam hal kemampuan untuk memprediksi atau hasil yang lebih memuaskan ketika ia memilki keterlibatan yang lebih didalamnya.

 

Contoh Skripsi Manajemen

  1. Analisis Tingkat Brand Loyalty pada Toko Buku Gramedia Solo Square
  2. Penerapan Saluran Distribusi Produk Flexi Pada PT. Telkom Kandatel Solo
  3. Analisis Penerapan Strategi Pemasaran Toko Buku Gramedia Solo Square di Surakarta
  4. Pelaksanaan Promosi Produk Kartu Sobat Flexi PT. Telkom Divre IV Kandatel Solo
  5. Gender dan Risk Attitude dalam Pemilihan Portofolio Investasi pada Asset Beresiko Studi Eksperimental