Hubungi Kami di WA 08-951-951-3333

Analisis Wacana Tekstual Dan Kontekstual Naskah Lakon Sandosa Sokrasana: Sang Manusia

Latar Belakang Masalah Analisis Wacana pada Naskah Lakon Sandosa Sokrasana

Aspek-aspek yang membentuk kohesi di dalam wacana harus berkesinambungan dan membentuk kesatuan struktur teks agar dapat mendukung koherensi. Konsep kohesi pada dasarnya mengacu kepada hubungan bentuk. Artinya, unsur-unsur wacana (kata atau kalimat) yang digunakan untuk menyusun suatu wacana memiliki keterkaitan secara padu dan utuh dan dapat pula dikatakan bahwa kohesi itu merupakan aspek internal struktur wacana (Mulyana, 2005:26). Selanjutnya, HG Tarigan (1993:96) mengemukakan bahwa kohesi merupakan aspek formal bahasa dalam wacana, sedangkan koherensi menurut Brown dan Yule (dalam Mulyana, 2005:30) dapat diartikan kepaduan dan keterpahaman antarsatuan dalam suatu teks atau tuturan.

1

Aspek koherensi ini sangat diperlukan keberadaannya dalam struktur wacana. Sebagaimana dinyatakan oleh Halliday dan Hasan (1992:65) bahwa sumbangan yang penting terhadap koherensi berasal dari kohesi, yaitu perangkat sumber-sumber kebahasaan yang dimiliki setiap bahasa (sebagai bagian dari metafungsi tekstual untuk mengaitkan satu bagian teks dengan bagian lainnya). hal yang mendukung kekoherensian sebuah wacana adalah konteks situasi di luar aspek formal kebahasaan. Halliday dan Hasan (1992:66) menyatakan bahwa setiap bagian teks sekaligus merupakan teks dan konteks. Dalam memusatkan perhatian pada bahasa kita harus sadar akan adanya kedua fungsi itu. Dengan demikian, pemahaman terhadap konteks menjadi penting dalam wacana karena pada hakikatnya teks dan konteks merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dalam wacana itu sendiri.

Naskah lakon sandosa dipilih sebagai objek penelitian karena naskah lakon sandosa adalah naskah drama yang berisi dialog dan narasi yang tetap mempunyai tingkat kohesi dan koherensi tinggi dalam membentuk wacana yang utuh. Selain itu, alasan dipilihnya naskah lakon sandosa Sokrasana: Sang Manusia adalah, pertama, naskah tersebut menggunakan bahasa Indonesia yang tidak terlalu puitis atau penuh kias, tetapi dengan bahasa yang komunikatif yaitu mudah dipahami pembaca.

Rumusan Masalah

  1. Bagaimanakah kekohesian alat-alat bahasa secara gramatikal dalam naskah lakon sandosa Sokrasana: Sang Manusia?
  2. Bagaimanakah kekohesian alat-alat bahasa secara leksikal dalam naskah lakon sandosa Sokrasana: SangManusia?
  3. Bagaimanakah konteks dalam naskah lakon sandosa Sokrasana: Sang Manusia?

Tujuan Penelitian

  1. Mendeskripsikan kekohesian alat-alat bahasa secara gramatikal dalam naskah lakon sandosa Sokrasana: Sang Manusia.
  2. Mendeskripsikan kekohesian alat-alat bahasa secara leksikal dalam naskah lakon sandosa Sokrasana: SangManusia.
  3. Menjelaskan aspek konteks dalam naskah lakon sandosa Sokrasana: Sang Manusia.

Simpulan Analisis Wacana Tekstual

  1. Kepaduan bentuk pada naskah lakon tersebut didukung oleh aspek gramatikal, seperti pengacuan (referensi), penyulihan (substitusi), pelesapan (elipsis), dan perangkaian (konjungsi). Pengacuan (referensi) yang berjumlah 293 (73,43%) merupakan salah satu peranti wacana yang cukup dominan dalam naskah lakon Sokrasana: Sang Manusia.
  2. Kohesi leksikal yang dimanfaatkan untuk memperkuat keserasian makna pada naskah lakon sandosa Sokrasana: Sang Manusia adalah repetisi, sinonimi, antonimi, kolokasi, hiponimi, dan ekuivalensi.
  3. Konteks dalam naskah lakon sandosa Sokrasana: Sang Manusia. Dalam analisis kontekstual, konteks situasi dan konteks kultural dalam wacana naskah lakon sandosa Sokrasana: Sang Manusia dapat dipahami melalui prinsip penafsiran personal, lokasional, temporal, analogi, dan analisis inferensi.

Incoming search terms: