Hubungi Kami di WA 08-951-951-3333

Analisis Keragaman Dna Durian Sukun Berdasarkan Penanda RAPD

Judul Skripsi : Analisis Keragaman DNA Tanaman Durian Sukun (Durio Zibethinus Murr.) Berdasarkan Penanda RAPD

 

A. Latar Belakang Masalah

Durian lokal disukai oleh konsumen dalam negeri karena rasanya manis, sedikit pahit, beraroma sedang hingga kuat, warna kuning menarik, daging tebal dan produktivitas buah tinggi. Sementara itu, konsumen luar negeri lebih menyukai durian yang tidak beraroma, rasa manis, sedikit pahit, daging buah tebal dan warna daging kekuningan (Baswarsiati et al., 2007).

Uji (2005) menemukan di Indonesia ada 20 jenis durian yang 18 jenis diantaranya berada di Kalimantan. Sebagian besar durian yang dibudidayakan berasal dari spesies Durio zibethinus (Sarwono, 1995 dalam Sumarsono etnal., 2002). Menurut Direktorat Bina Perbenihan (1996) dalam Sumarsono et al., 2002 beberapa durian lokal yang diakui keunggulannya oleh Menteri Pertanian dan disebarluaskan kepada masyarakat untuk dikembangkan yaitu durian sukun (Jawa Tengah), petruk (Jawa Tengah), sitokong (Betawi),sijapang (Betawi), simas (Bogor), sunan (Jepara), monthong (Thailand), kani (Thailand), sidodol dan sihijau (Kalimantan Selatan) (Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, 2000). Indonesia memiliki lebih dari 103 varietas durian dan masing-masing dibedakan karakter morfologi (Nafsi, 2007), yaitu bentuk daun dan buah, rasa dan aroma buah, dan bentuk biji

 

B. Rumusan Masalah

Masalah yang ditemukan berdasarkan penelitian keragaman durian yang sudah dilakukan adalah :

  1. Apakah dari beberapa varietas durian (sukun, sunan, kani, monthong dan petruk) memiliki keragaman DNA berdasarkan penanda RAPD?
  2. Apakah durian sukun yang ditanam pada wilayah yang berbeda memiliki keragaman DNA berdasarkan penanda RAPD ?

 

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah :

  1. Mengkaji keragaman DNA pada beberapa varietas durian yaitu sukun, sunan, kani, monthong dan petruk berdasarkan penanda RAPD (Random Amplified Polymorphic DNA).
  2. Mengkaji keragaman DNA varietas durian sukun yang ditanam pada wilayah yang berbeda berdasarkan penanda RAPD (Random Amplified Polymorphic DNA).

 

D. Kesimpulan Skripsi

1. Amplifikasi menggunakan primer OPA-01, OPA-02, OPA-07, OPA-16, OPA-18, dan OPA-19 menghasilkan pola pita DNA yang menunjukkan keragaman antar varietas durian sukun, sunan, kani, monthong dan petruk, serta keragaman pada durian sukun yang ditanam pada wilayah berbeda.

2. Dendrogram pengelompokkan dengan metode UPGMA pada lima varietas durian cenderung memisah, yaitu durian sukun, sunan, monthong dan petruk merupakan satu kelompok yang memisah dengan durian kani.

3. Dendrogram pengelompokkan dengan metode UPGMA pada durian sukun yang ditanam pada wilayah berbeda menghasilkan dua kelompok, yaitu kelompok I terdiri dari durian sukun dari Gempolan, Karanganyar dan durian sukun dari Salatiga. Kelompok II terdiri dari durian sukun dari Kebun Benih Ranukutri, Karanganyar dan durian sukun dari Jepara.

 

E. Saran

1. Berdasarkan hasil penelitian, primer OPA-07 mampu mengamplifikasi semua sampel dan primer OPA-19 mampu memberikan polimorfisme tinggi. Primer ini dapat digunakan pada penelitian selanjutnya.

2. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh beberapa pita yang merupakan penanda. Hasil ini dapat diteliti lebih lanjut untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat.