Skripsi Akutansi: Laporan Keuangan pd Perusahaan Daerah Air Minum

Judul Skripsi : Analisis Laporan Keuangan pada Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Kudus

 

A. Latar Belakang

Agar laporan keuangan dapat berarti bagi pihak-pihak yang berkepentimgan maka perlu mengadakan analisa hubungan dari berbagai pos-pos dalam suatu laporan keuangan yang sering disebut analisis laporan keuangan. Dalam hal ini analisa rasio dapat dipakai dalam memberikan gambaran keadaan keuangan yang sebenarnya mengenai perkembangan perusahaan dan sehat tidaknya perusahaan tersebut melakukan usahanya.

Analisa rasio adalah menggambarkan suatu perbandingan antara jumlah tertentu (dari neraca atau rekening rugi laba) dengan jumlah yang lain. Dengan menggunakan analisa rasio dimungkinkan untuk dapat menentukan tingkat likuiditas, rentabilitas dan aktivitas suatu badan usaha.

 

B. Perumusan Masalah

  1. Apakah PDAM Kabupaten Kudus dapat memenuhi kewajibankewajiban jangka pendeknya ?
  2. Bagaimana tingkat rentabilitas PDAM Kabupaten Kudus ?
  3. Bagaimana tingkat efektifitas dan kondisi PDAM Kabupaten Kudus dalam menggunakan sumber dananya ?

 

C. Landasan Teori Skripsi

Likuiditas

Likuiditas adalah berhubungan dengan masalah kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansiilnya yang segera harus dipenuhi (Bambang Riyanto,2001:25). Sedangkan menurut (Muslich, 2003:47) likuiditas menunjukkan tingkat kemudahan relatif suatu aktiva untuk segera dikonversikan ke dalam kas yang sedikit atau tanpa penurunan nilai, serta tingkat kepastian tentang jumlah kas yang dapat diperoleh.

Rentabilitas

Rentabilitas adalah kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu (Bambang Riyanto,2001:35). Sedangkan menurut Munawir,1995:86 Rentabilitas adalah menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu.

Aktivitas

Menurut Riyanto (2001:331) Rasio aktivitas yaitu rasio yang dimaksudkan untuk mengukur seberapa besar efektivitas perusahaan dalam menggunakan dananya. Untuk mengukur rasio aktivitas dapat digunakan antara lain:

  • Total Asset Turnover

Yaitu kemampuan dana yang tertanam dalam keseluruhan aktiva yang berputar dalam perusahaan dalam satu periode tertentu atau kemampuan modal yang diinvestasikan untuk menghasilkan revenue.

  • Working Capital Turnover

Yaitu kemampuan modal kerja berputar dalam satu periode.

 

D. Metode Penelitian

Metode yang digunakan meliputi lokasi penelitian yaitu Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Kudus yang terletak dijalan Mejobo No 34 Kudus.Objek kajian adalah rasio likuiditas, rasio rentabilitas dan rasio aktivitas.

Populasi dalam penelitian ini laporan keuangan yang meliputi neraca dan laporan rugi laba dan sampel dalam penelitian ini sama dengan populasi. Metode pengumpulan data adalah dokumentasi dan wawancara.

Metode analisis data adalah secara deskriptif kuantitatif yaitu analisis didasarkan pada perhitungan

 

E. Kesimpulan

  1. Likuiditas PDAM Kabupaten Kudus dilihat dari current ratio maka PDAM Kabupaten Kudus dalam keadaan likuid. Dari tahun 2001-2004 menunjukkan kecenderungan semakin meningkat. Apabila sewaktuwaktu ditagih utangnya maka PDAM akan segera dapat melunasi, tetapi masih adanya dana yang mengganggur dalam aktiva lancar.
  2. Likuiditas PDAM Kabupaten Kudus dilihat dari acid test ratio maka PDAM Kabupaten Kudus dalam keadaan likuid. Dari tahun 2001-2004 menunjukkan kecenderungan semakin meningkat. Perbedaan tingginya current ratio dengan acid test ratio tidaklah terlalu jauh berbeda , hal ini menunjukkan aktiva lancar yang diinvestasikan dalam persediaan rendah. Keadaan ini sangat menguntungkan bagi PDAM Kabupaten Kudus karena persediaan tidak mudak dicairkan dan paling sering mengalami fluktuasi harga. Apabila dihubungkan dengan standar rasio perusahaan maka PDAM Kabupaten Kudus dalam keadaan likuid.

 

Contoh Skripsi Akutansi

  1. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Audit Delay pada Perusahaan Go Publik
  2. Ta Analisis Laporan Keuangan pada Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Kudus
  3. Analisis Tingkat Efisiensi Penggunaan Modal Melalui Pendekatan Sistem DU Pont
  4. Kemampuan Rasio Keuangan Sebagai Alat untuk Memprediksi Peringkat Obligasi Perusahaan Manufaktur
  5. Pengaruh Current Ratio, Debt To Equity Ratio, Dan Total Assets Turn Over

 

 

 

Tesis Komunikasi: Solo The Spirit Of Java Melalui Perencanaan Kirab Budaya

Judul Tesis : Solo The Spirit Of Java Melalui Perencanaan Kirab Budaya (Munas Apeksi III) Sebagai Salah Satu Perwujudan Citra Kota Solo Laporan Kuliah Kerja Media (KKM)

 

A. Latar Belakang

Seiring dengan dibutuhkannya kehadiran PR dalam suatu organisasi/perusahaan atau sebagai PR konsultan. Hal tersebut menuntut perguruan tinggi untuk meningkatkan kualitas system pendidikan khususnya di bidang Humas. Banyak perguruan tinggi yang sudah memikirkan kondisi seperti ini. Salah satu kiat untuk meningkatkan kualitas dari sumber daya manusianya untuk dapat bersaing dalam dunia kerja yaitu dengan melibatkan para mahasiswa agar dapat praktek langsung di institusi yang memiliki divisi humas. Untuk itulah banyak perguruan tinggi yang memberikan kesempatan untuk melaksanakan kegiatan magang yang bertujuan untuk melatih mahasiswa mengaplikasikan ilmunya di dunia kerja.

Demikian halnya dengan Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik bidang Diploma III Komunikasi Terapan yang menamai kegiatan Kuliah Kerja Media sebagai ajang pembuktian kemampuan dan keahlian mahasiswa untuk terjun langsung di dunia kerja. Hal itu dimaksudkan agar para mahasiswa dapat merasakan persaingan yang cukup keras dalam dunia kerja, selain itu dapat mempraktekkan ilmu-ilmu serta teori-teori yang berkaitan dengan humas. Mahasiswa program studi Public Relations diberikan opsi-opsi untuk mengikuti kegiatan KKM di berbagai institusi. Tentu saja sebuah institusi yang memiliki divisi Public Relations. Badan Informasi dan Komunikasi merupakan salah satu perangkat daerah yang mengelola informasi dan komunikasi. Disamping itu juga sebagai sumber informasi formal, media komunikasi dan sebagai motivator tumbuhnya dinamika masyarakat Kota Surakarta. Melihat beberapa aktivitas dari Badan Informasi dan Komunikasi beserta keunggulannya. Maka penulis memilih BIK sebagai tempat melaksanakan KKM. Kegiatan magang yang dilakukan di BIK adalah salah satu bentuk usaha nyata dalam meningkatkan ketrampilan dan penguasaan ilmu bagi penulis. Beragam kegiatan telah penulis lewati hingga akhir kegiatan KKM. Sehingga akan memudahkan langkah penulis untuk mendapatkan pekerjaan di kemudian hari. Selain itu, kegiatan KKM ini juga memberikan kesempatan kepada penulis untuk mendapatkan pengetahuan yang cukup banyak yang tidak penulis dapatkan di bangku kuliah.

 

B. Tujuan Kuliah Kerja Media

  1. Untuk memenuhi syarat guna mencapai gelar Ahli Madya Program DIII Komunikasi Terapan sesuai dengan peraturan yang ditetapkan di FISIP UNS.
  2. Mengaplikasikan ilmu-ilmu dan pengetahuan yang didapat di bangku kuliah untuk dipakai dalam kegiatan Kuliah Kerja Media baik secara teori maupun praktek.
  3. Meningkatkan skill, keterampilan dan potensi diri, tentu saja yang berhubungan dengan tugas dan peran humas dalam menjalankan aktivitasnya untuk dapat bersaing di dunia kerja.

 

C. Tinjauan Pustaka

Definisi Public Relations

Makna Public Relations itu terkesan relative, karena begitu banyak orang yang mencoba menafsirkannya sendiri sehingga justru menimbulkan salah pengertian. Terdapat begitu banyak definisi humas, namun pada intinya Humas atau PR tersebut senantiasa berkenaan dengan kegiatan penciptaan pemahaman melalui pengetahuan, dan melalui kegiatan-kegiatan tersebut diharapkan akan muncul suatu dampak, yaitu berupa perubahan yang positif.

Tugas Humas

Ada tiga tugas humas dalam organisasi/lembaga yang berhubungan erat dengan tujuan dan fungsi humas, antara lain:

  1. Menginterpretasikan, menganalisa dan mengevaluasi kecenderungan perilaku publik, kemudian direkomendasikan kepada manajemen untuk merumuskan kebijakan organisasi/lembaga.
  2. Mempertemukan kepentingan organisasi/lembaga dengan kepentingan publik.
  3. Mengevaluasi program-program organisasi/lembaga, khususnya yang berkaitan dengan publik.

Citra Humas

Citra adalah kesan yang diperoleh seseorang berdasarkan pengetahuan dan pengertiannya tentang fakta-fakta atau kenyataan. Pengertian citra sendiri abstrak atau intangible, tetapi wujudnya bisa dirasakan dari hasil penilaian, penerimaan, kesadaran dan pengertian, baik semacam tanda respek dan rasa hormat, dari publik sekelilingnya atau masyarakat luas terhadap perusahaan sebagai sebuah badan usaha atau pun terhadap personelnya (dipercaya, profesional dan dapat diandalkan dalam pemberian pelayanan yang baik).

 

D. Kesimpulan

Humas Badan Informasi dan Komunikasi Surakarta memiliki tugas melakukan pemberitaan kegiatan Pemerintah Kota melalui berbagai media, seperti media cetak, massa dan sebagainya. Tugas lainnya yaitu mengumpulkan berita dari media massa, menganalisis berita, menyelenggarakan sistem siaran radio, menyiapkan bahan tanggapan dan penjelasan terhadap surat-surat di media cetak dan elektronik, menyiapkan keterangan pers dan jumpa pers, melakukan liputan acara kegiatan Pemerintah Kota, menyelenggarakan penerbitan media cetak. Disamping itu humas Badan Informasi dan Komunikasi yaitu mendistribusikan materi informasi berupa pamflet, brosur, selebaran, spanduk dan baliho sebagai iklan layanan masyarakat, bulletin, naskah radio, folder, booklet, melakukan informasi dan komunikasi lewat media tatap muka atau antar pesona, bentuk jaringan penyebaran informasi lewat Kecamatan dan Kelurahan serta tokoh agama.

 

E. Saran

Berdasarkan kesimpulan dan pengamatan penulis selama melaksanakan kegiatan Kuliah Kerja Media. Penulis menyarankan kepada pihak Badan Informasi dan Komunikasi agar lebih meningkatkan kualitas kinerja dan SDM dari para karyawan/ti, lebih aktif dalam menyerap informasi terkini. Sehingga masyarakat juga dapat mengakses informasi dengan cepat, selain itu penulis juga berharap agar para karyawan/ti dapat menggunakan waktu seefisien mungkin untuk digunakan melaksanakan tanggungjawabnya. Disamping itu juga perlunya penegakkan disiplin terhadap para karyawan/ti. Agar masyarakat lebih terkesan dengan kinerja karyawan/ti Badan Informasi dan Komunikasi dan tidak memandang sebelah mata terhadap kinerjanya.

 

Contoh Tesis Komunikasi

  1. Produksi Segmen Feature dalam Program Berita Jogja di LPP TVRI Yogyakarta
  2. Jurnalistik Di Majalah Olga
  3. Mekanisme Peran Videojurnalis dalam Peliputan Berita di Rajawali Citra Televisi Indonesia
  4. Efektifitas Kinerja Public Relations dalam Hal Menjaga Interaksi Hubungan Komunikasi
  5. Peran Reporter dalam Produksi Berita Seputar Jogja di Jogja Tv – Yogyakarta

 

Skripsi Adminstrasi: Akuntabilitas Pelayanan Kepabeanan di Kantor Pengawasan dan Pelayanan

Judul Skripsi : Akuntabilitas Pelayanan Kepabeanan di Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A3 Surakarta

 

A. Latar Belakang

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) sebagai salah satu instansi pemerintah dibawah naungan Departemen Keuangan, keberadaan Bea dan Cukai merupakan suatu keharusan dan mempunyai posisi yang sangat strategis dalam birokrasi Negara Indonesia. Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 444/KMK.01/2001 tanggal 23 Juli 2001, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mempunyai tugas melaksanakan pelayanan dan pengawasan kepabeanan dan cukai dalam daerah wewenangnya berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Selain itu Direktorat Jenderal Bea dan Cukai memiliki misi utama yaitu menghimpun penerimaan negara, mengawasi barang ekspor dan impor serta melaksanakan tugas lain yang diberikan negara. Bea dan Cukai sebagai soko guru dari kegiatan pemerintah dalam meningkatkan pendapatan negara, kebijaksanaan mengatur lalu lintas perdagangan internasional, mendorong investasi dan perekonomian nasional.

Kata Bea berasal dari kata Pabean. Pabean yang dalam bahasa inggrisnya Customs atau Duane dalam bahasa Belanda memiliki definisi yang dapat kita temukan dan hapal baik dalam kamus bahasa Indonesia ataupun undang-undang kepabeanan, namun menghapal definisi tersebut tidak berarti kita dapat memahami makna yang terkandung dalam kata pabean tersebut. Pabean adalah kegiatan yang menyangkut pemungutan bea masuk dan pajak dalam rangka impor. Pengertian pabean berdasarkan pada UU No 17 tahun 2006 merupakan batas wilayah transformasi barang atau jasa, apabila barang atau jasa melewati batas pabean akan dikenakan bea masuk (untuk barang atau jasa memasuki daerah pabean) biasanya disebut pajak impor dan dikenakan bea keluar (untuk barang atau jasa keluar daerah pabean) biasanya disebut pajak ekspor.

 

B. Rumusan Masalah

  1. Bagaimanakah prosedur pelayanan kepabeanan di Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A3 Surakarta?
  2. Bagaimanakah Akuntabilitas pelayanan kepabeanan di Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A3 Surakarta?
  3. Apa sajakah faktor pendukung dan penghambat yang dijumpai Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A3 Surakarta dalam mewujudkan akuntabilitas pelayanan kepabeanan?

 

C. Landasan Teori

Akuntabilitas

Dalam praktek penyelenggaraan negara dituntut adanya pertanggungjawaban seluruh unsur yang terdapat di dalamnya. Salah satu masalah yang cukup pelik dalam praktek penyelenggaraan negara tersebut adalah perwujudan akuntabilitas kepada publik dari lembaga penyelenggaran negara. Menurut Rahmad Bahari, akuntabilitas merupakan :  “Akuntabilitas bukan sekedar merupakan tanggung jawab penggunaan keuangan saja, tetapi juga menyangkut persoalan kinerja, kepatuhan serta kemampuan dalam menjalankan tugas dan kewajiban sebagaimana diamanatkan oleh pemegang kedaulatan sejati yaitu rakyat” (Rahmad Bahari, 2005:1)

Pelayanan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989: 504), pelayanan berasal dari kata “layan” yang artinya menyediakan segala apa yang diperlukan orang lain. Sedangkan Moenir (1997:4) mengartikan pelayanan yaitu untuk memenuhi kebutuhan manusia yang diusahakan melalui aktivitas orang lain. Aktivitas disini adalah segala sesuatu penggunaan akal, pikiran, panca indera dan anggota badan dengan atau tanpa alat bantu yang dilakukan oleh seseorang untuk mendapatkan suatu yang diinginkan baik dalam bentuk barang atau jasa. Proses pemenuhan kebutuhan melalui aktivitas inilah yang dinamakan pelayanan.

Kepabeanan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian “pabean” adalah instansi (jawatan, kantor) yang mengawasi, memungut, dan mengurus bea masuk (impor) dan bea keluar (ekspor) baik melalui darat, laut, dan udara. Sedangkan pengertian dari “kepabeanan” adalah perihal yang bertalian dengan pabean Pengartian istilah “kepabeanan” yang terdapat dalam undang-undang Nomor 17 tahun 2006 tentang kepabanan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan pengawasan atas lalu lintas barang yang masuk atau keluar daerah pabean serta pemungutan bea masuk dan bea keluar.

 

D. Metode Penelitian

Penelitian ini dilakukan di lingkungan kerja KPPBC Tipe A3 Surakarta terutama pada bagian-bagian yang melayani pelayanan kepabeanan. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengambilan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi.

Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purpose sampling dengan analisis data menggunakan model analisis interaktif. Sedangkan untuk menguji validitas data menggunakan teknik trianggulasi data.

 

E. Kesimpulan

  1. Penyelenggaraan pelayanan kepabeanan di bidang impor pada umumnya sudah sesuai dengan aturan atau pedoman yang berlaku yaitu Undang- Undang Nomor 17 tahun 2006 Tentang Kepabeanan. Keseluruhan proses baik yang dilakukan di kantor KPPBC Tipe A3 Surakarta mulai dari pemberitahuan pemesanan barang impor, pembuatan Pemberitahuan Impor Barang (PIB) dan pengisian data-data yang diperlukan, Pelunasan pajak Impor ke Bank Devisa, Pencocokkan PIB dengan data dokumen barang impor, sampai dengan adanya persetujuan muat dan pengiriman barang ke pihak importir sebagian besar sudah dilaksanakan sesuai dengan mekanisme dan alur pelayanan yang telah diatur dalam Undang-Undang nomor 17 Tahun 2006 Tentang Kepabeanan.
  2. Sebagai salah satu bentuk akuntabilitas dan pertanggung jawaban kepada pemerintah dan masyarakat, KPPBC juga diwajibkan menyusun dan menyerahkan Laporan Pertanggungjawaban pelaksanaan prosedur pelayanan kepabeanan terutama impor dalam bentuk LAKIP ( Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah ) kepada Kantor Wilayah di Semarang untuk diterruskan kepada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Republik Indonesia setiap satu semester ( enam bulan ) sekali. Dari LAKIP KPPBC Tipe A3 Surakarta Tahun 2007 di dapatkan data-data yang menunjukkkan bahwa KPPBC Tipe A3 Surakarta sudah melaksanakan pelayanan kepabeanan terutama impor sesuai dengan prosedur yang berlaku, antara lain data program pelaksanaan pelayanan kepabeanan berdasarkan sisteem prosedur yang berlaku selama tahun 2007 dimana angka-angka pencapaiannya sudah melebihi target yang diharapkan.
  3. Akuntabilitas yang digunakan sebagai landasan dalam penelitian ini adalah akuntabilitas proses (process accountability). Akuntabilitas proses merupakan pertanggungjawaban atas pelaksanaan prosedur yang telah ditetapkan dalam peraturan atau Undang-Undang. Dari kedua poin diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa KPPBC Tipe A3 Surakarta sudah memenuhi akuntabilitas proses dengan baik karena dalam memberikan pelayanan kepabeanan terutama proses impor sudah sesuai dengan prosedur yang berlaku sebagaimana yang telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Kepabeanan.

 

Contoh Skripsi Administrasi

  1. Pelaksanaan Kebijakan Alokasi Dana Desa (ADD) di Desa Kagokan Kecamatan Gatak
  2. Peranan Kantor Lingkungan Hidup dalam Menjaga Konservasi Sumber Daya Air Di Kota Salatiga
  3. Kualitas Pelayanan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Surakarta
  4. Evaluasi Dampak Program Penanggulangan Flu Burung Kabupaten Sragen
  5. Akuntabilitas Pelayanan Kepabeanan di Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A3 Surakarta

 

Tesis Komunikasi: Proses Kampanye Visi-Misi Terbaru PT.Telkom Kandatel Solo

Judul Tesis : Proses Kampanye Visi-Misi Terbaru PT.Telkom Kandatel Solo

 

A. Latar Belakang

Dalam dunia telekomunikasi, lingkungan pasar sudah berubah. Tingginya persaingan dan selera masyarakat yang berubah mendorong perubahan dalam menjalani dunia bisnis komunikasi. Masyarakat sekarang ini lebih memilih layanan komunikasi yang memberi kemudahan, privasi, dan kendali biaya yang lebih mudah dikontrol. Hal inilah yang membawa PT. Telkom Kandatel Solo , sebagai perusahaan telekomunikasi, melakukan transformasi visi dan misinya dalam dunia bisnis.

Be Solo Change” adalah tagline PT. Telkom Kandatel Solo yang terbaru. Artinya PT. Telkom Kandatel Solo harus berubah, dari suatu kondisi yang sudah baik menjadi sangat baik. New taglaine ini memiliki visi dan misi tersendiri. Visi PT. Telkom Kandatel Solo yang terbaru adalah menjadikan Kandatel Solo tembus revenue 0,5 triliun dengan misi focus in customer base, market share, revenue share, dan innovative product. Sedangkan misi yang kedua adalah mengoptimalisasikan produk, dan misi terakhir adalah meningkatkan partnership dan menciptakan sales forces.

 

B. Tujuan

  1. Untuk mengetahui, mengenal, dan mempraktekan langsung kinerja Public Relations PT. Telkom Kandatel Solo.
  2. Untuk menumbuhkembangkan pemahaman mahasiswa terhadap seluk beluk praktek-praktek dunia kerja.
  3. Penulis dapat menerapkan ilmu pengetahuan yang penulis peroleh selama dibangku kuliah dalam dunia kerja yang sesungguhnya.

 

C. Landasan Teori

Pengertian Public Relations

Sulitnya membuat definisi public relations ini menunjukkan bahwa kegiatan public relations ini sangat luas ruang lingkupnya.Meskipun demikian, pada perinsipnya inti dari pengertian-pengertian itu tetaplah sama. Salah satu definisi yang sangat umum diberikan oleh John E Marston “ Public Relations is planned, persuasive communications designed to influence significant public” (Kasali, 2000)

Publik dalam Public Relations

Istilah public dalam public relations merupakan khalayak sasaran dari kegiatan Public Relations. Public disebut juga stakeholders, yakni kumpulan dari orang-orang atau pihak-pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan.

Komunikasi

Komunikasi adalah interaksi antar manusia yang bertujuan untuk menumbuhkan pengertian antara komunikator ( penyebar pesan ) dengan komunikan ( penerima pesan ). Komunikasi yang efektif, yaitu bagaimana antara penyebar pesan dan penerima pesan dapat menimbulkan suatu pengertian yang sama tentang suatu pesan ( efek ). (Ruslan, 2007)

 

D. Kesimpulan

  1. Kkampanye Visi-Misi Terbaru PT. Telkom Kandatel Solo Berkaitan dengan kampanye visi-misi terbaru PT. Telkom kandatel Solo, Berikut ini adalah proses kampanye PR PT. Kandatel Solo.
  2. Riset
    • Memahami visi-misi terbaru PT. Telkom Solo
    • Memperkirakan Skala Waktu dengan target pencapaian visi-misi 1 tahun
    • Melihat perkembangan bisnis perusahaan yaitu transformasi WireLine ke WireLess dan Speedy.
  3. Perencanaan
    • Merencanakan target public. Karena pencapaian visi-dan misi suatu perusahaan adalah tanggung jawab public internal keseluruhan , maka target publiknya adalah public internal.
    • Perencanaan yang kedua adalah skala waktu. Mengingat limitnya waktu untuk mensosialisasikan visi-misi tersebut, maka skala waktu kampanye adalah 1 bulan.Setiap minggu berkampanye di 2 kancatel.

 

Contoh Tesis Komunikasi

  1. Produksi Segmen Feature dalam Program Berita Jogja di LPP TVRI Yogyakarta
  2. Jurnalistik Di Majalah Olga
  3. Mekanisme Peran Videojurnalis dalam Peliputan Berita di Rajawali Citra Televisi Indonesia
  4. Efektifitas Kinerja Public Relations dalam Hal Menjaga Interaksi Hubungan Komunikasi
  5. Peran Reporter dalam Produksi Berita Seputar Jogja di Jogja Tv – Yogyakarta

 

 

Tesis Komunikasi: Peran Reporter dlm Produksi Berita Seputar Jogja

Judul Tesis : Peran Reporter dalam Produksi Berita Seputar Jogja di JOGJA TV – Yogyakarta

 

A. Latar Belakang

Dalam berkomunikasi, terjadi penyaluran informasi dari satu pihak (komunikator) kepada pihak lain (komunikan) melalui sarana tertentu. Sarana ini tentu saja beragam bentuknya, mulai dari yang paling sederhana seperti bahasa tubuh, hingga yang paling canggih, yakni internet. Salah satu sarana komunikasi yang sudah sangat akrab dengan kehidupan manusia adalah media elektronik. Secara umum, media elektronik menyampaikan informasi yang ditujukan kepada masyarakat luas. Televisi sebagai media elektronik merupakan salah satu sarana komunikasi yang paling banyak konsumennya. Televisi saat ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Sebagai bagian dari kebudayaan audio visual, televisi merupakan media paling berpengaruh dalam membentuk sikap dan kepribadian masyarakat luas. Hal ini disebabkan oleh satelit dan pesatnya perkembangan jaringan televisi yang menjangkau masyarakat hingga ke wilayah terpencil. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan informasi atau berita aktual, khususnya menyangkut daerahnya sendiri, kini-pun telah banyak bermunculan stasiun televisi lokal.

Hadirnya banyak stasiun televisi lokal saat ini harus diakui sangat berpengaruh terkait keinginan masyarakat untuk mendapatkan informasi dan program dari daerahnya sendiri secara optimal, karena hanya televisi lokal yang mampu mengakomodasi hal tersebut. Namun untuk dapat bertahan hidup, televisi lokal harus bekerja keras untuk menghasilkan tayangan / program yang diminati pengiklan lokal maupun nasional. Setiap stasiun televisi umumnya menayangkan berbagai program hiburan, seperti film, musik, kuis, talk show, dan sebagainya. Namun siaran berita merupakan program yang mengidentifikasi suatu stasiun televisi kepada pemirsanya.

 

B. Tujuan Penyusunan Laporan

  1. Memberikan gambaran kepada masyarakat mengenai tugas dan peran seorang reporter berita Seputar Jogja dalam redaksi pemberitaan stasiun televisi Jogja TV.
  2. Memberikan informasi kepada masyarakat tentang bagaimana proses kerja seorang reporter berita di Jogja TV .
  3. Sebagai bukti tertulis atas kegiatan magang yang telah dilaksanakan dan sebagai pemenuhan kewajiban untuk membuat laporan kegiatan magang kepada pihak Jogja TV.

 

C. Landasan Teori

Televisi

Televisi merupakan perkembangan medium berikutnya setelah radio yang ditemukan dengan karakternya yang spesifik, yakni audio visual. Peletak dasar utama teknologi pertelevisian tersebut adalah Paul Nipkow dari Jerman yang dilakukannya pada tahun 1884. Ia menemukan sebuah alat yang kemudian disebut sebagai Jantra Nipkow atau Nipkow Sheibe. Penemuannya tersebut melahirkan electrische teleskop atau televisi elektris. Perkembangan teknologi pertelevisian saat ini sudah sedemikian pesat sehingga dampak siarannya menyebabkan seolah-olah tidak ada lagi batas antara satu negara dengan negara lainnya terlebih setelah digunakannya satelit untuk memancarkan signal televisi. ( Deddy Iskandar Muda, 2005 : 4 )

Jurnalistik

Jurnalistik adalah istilah yang berasal dari Bahasa Belanda “Journalistek” atau Bahasa Inggris “Journalism”, yang bersumber pada perkataan “journal” sebagai terjemahan Bahasa Latin “Diurnal” yang berarti harian atau setiap hari. Jurnalistik dapat didefinisikan sebagai teknik mengelola berita mulai dari mendapatkan sampai menyebarluaskannya yang sifatnya informasi saja. ( Prof. Onong Uchjana Effendy, M.A, 2000 : 95 )

Penyiaran

Siaran adalah mata acara atau rangkaian mata acara berupa pesanpesan. dalam bentuk suara, gambar, atau suara dan gambar yan dapat didengar dan / atau dilihat oleh khalayak dengan pesawat penerima siaran televisi dengan atau tanpa alat bantu. Penyiaran adalah seluruh kegiatan yang memungkinkan terselenggaranya siaran radio dan / atau siaran televisi yang meliputi segi idiil, perangkat lunak, perangkat keras, melalui sarana pemancar atau sarana transmisi di darat, atau di antariksa dengan menggunakan gelombang elektromagnetik atau transmisi kabel, serat optik, atau media lainnya, dipancarluaskan untuk dapat diterima oleh khalayak dengan pesawat penerima siaran. (R.M. Soenarto, 2007 : 3)

 

D. Kesimpulan Tesis

  1. Dengan melaksanakan Kuliah Kerja Media di stasiun televisi Jogja TV, penulis telah dapat menerapkan dan mempraktikkan ilmu-ilmu yang diperoleh selama kuliah di jurusan Broadcasting FISIP UNS, seperti proses memproduksi berita, teknik reportase, dan teknik penulisan naskah berita.
  2. Kuliah Kerja Media yang penulis laksanakan di stasiun televisi Jogja TV memberi kesempatan pada penulis dalam mengamati, memahami, dan melakukan kegiatan-kegiatan kerja broadcasting, yakni peliputan berita, pengolahan dan pembuatan naskah berita, editing / penyuntingan gambar, hingga penyajian berita.
  3. Penulis-pun telah mendapat pengalaman bekerja di redaksi pemberitaan Jogja TV dimana proses liputan yang komunikatif menciptakan kesan serius tapi santai serta menumbuhkan keakraban antar crew, suasana kekeluargaan yang akrab membuat proses kerja di redaksi pemberitaan Jogja TV terasa nyaman.

 

Contoh Tesis Komunikasi

  1. Produksi Segmen Feature dalam Program Berita Jogja di LPP TVRI Yogyakarta
  2. Jurnalistik Di Majalah Olga
  3. Mekanisme Peran Videojurnalis dalam Peliputan Berita di Rajawali Citra Televisi Indonesia
  4. Efektifitas Kinerja Public Relations dalam Hal Menjaga Interaksi Hubungan Komunikasi
  5. Peran Reporter dalam Produksi Berita Seputar Jogja di Jogja Tv – Yogyakarta

 

Tesis Komunikasi: Efektifitas Kinerja PR dlm Menjaga Interaksi Hub. Komunikasi Personal

Judul Tesis : Efektifitas Kinerja Public Relations dalam Hal Menjaga Interaksi Hubungan Komunikasi Antar Personal Perusahaan di Lembaga Penyiaran Publik Televisi Republik Indonesia (LPP TVRI) Pusat Jakarta

 

A. Latar Belakang

Praktek Kerja Lapangan ini penting dilakukan oleh calon Public Officer yang sebagaimana penulis akan menjadi Public Officer nantinya agar ia dapat lebih baik dalam menjalankan tugas dan fungsinya dikemudian hari, maka diperlukan pelatihan atau Kuliah Kerja Media seperti ini. Penulis melakukan Kuliah Kerja Media di Lembaga Penyiaran Public (LPP) – TVRl ini dengan alasan bahwa penulis ini mempunyai hubungan komunikasi Humas yang erat dangan media massa maupun masyarakat.

Kehumasan adalah salah satu bidang ilmu komunikasi praktis, yaitu penerapan llmu Komunikasi pada suatu organisasi atau perusahaan dalam melaksanakan fungsi manajemen. Secara struktural, humas merupakan bagian integral dari suatu kelembagaan dan bukan merupakan suatu fungsi atau bagian yang berdiri sendiri. Humas adalah : penyelenggara komunikasi timbal balik antara suatu organisasi atau lembaga dengan publik yang mempengaruhi sukses tidaknya organisasi ( Lembaga ) tersebut baik secara eksternal maupun internal. Komunikasi ditujukan untuk menciptakan saling pengertian dan dukungan bagi tercapainya tujuan yang ditetapkan.

 

B. Tujuan Umum

  1. Menghasilkan mahasiswa Universitas Sebelas Maret khususnya Mahasiswa Ilmu Sosial dan Politik Jurusan Public Relation yang berkualitas, terdidik terlatih, dan terampil serta msrniliki wawasan dibidang kehumasan baik teori maupun praktek secara nyata dan mampu beradaptasi dan bersosialisasi dengan lingkungan kerja baik pada praktek kerja humasnya dan sesama karyawan maupun masyarakat.
  2. Guna memenuhi persyaratan kelulusan program Diploma III Komunikasi Terapan Studi Public Relations Fakultas llmu Sosial dan, Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta.

 

C. Landasan Teori

Definisi Public Relation

Public Relation (PR) menyangkut kepentingan setiap organisasi, baik itu organisasi yang bersifat komersil maupun yang non komersil, kehadirannya tidak bisa dicegal, terlepas dari kita menyukainya atau tidak. Humas yang merupakan terjemahan dari istilah Public Isolations merupakan bentuk komunikasi yang terselenggara antara organisasi yang bersangkutan dengan siapa saja yang berkepentingan dengan dengannya.

Fungsi Media Massa

Televisi adalah salah satu bentuk dari media massa, melalui program programnya televisi mampu mempengaruhi publiknya, karena televisi adalah sebuah media yang mampunyai mempengaruhi kehidupan manusia. Dengan kekuatan audio visual, televisi berkembang ke dalam seluruh aspek kehidupan, mulai dari sosial, politik, budaya, hiburan, dan lain – lain. Garin Nugroho (1995:21) mengatakan bahwa televisi dan biasanya telah ikut membentuk pemahaman publik atas semua topik kehidupan masyarakat.

 

Tugas Public Relation

Public Relations mempunyai arti yang sangat penting bagi manajemen, karena Public Relations merupakan suatu fungsi strategi dalam menejemen yang melakukan komunikasi untuk menimbulkan pemahaman dan penerimaan dari publik ( Stakeholders ). Dalam hal ini tugas dan fungsi Public Relations menurut Ali Novel ( 1986 ) adalah: Tugas Public Relations :

  • Menyampaikan infonnasi yang objektif tentang lembaga yang diwakilinya kepada publik.
  • Menilai sikap dan pendapat umum mengenai lembaga yang diwakilinya.
  • Mengembangkan kreasi perencanaan dan pelaksanaan.

 

D. Kesimpulan

  1. Hasil dari laporan praktek kerja di lapangan khususnya pada bagian Humas, dapat diketahui dengan jelas yaitu ternyata tingkat disiplin kerja karyawan masih kurang baik. Karyawan terlalu santai dalam menghadapi pekerjaannya sehingga sering kali pekerjaan kurang dapat terselesaikan dalam satu hari.
  2. Hasil dari pengamatan penulis yang mengikuti praktek kerja lapangan di bagian Humas, ternyata untuk sarana dan prasarana kehumasan masih kurang memadai seperti perangkat telepon untuk fax yang kurang, komputer yang terbatas jumlahnya, dan lain sebagainya. Sehingga karyawan dalam menyelesaikan pekerjaan rnenjadi kurang efektif dan efisien.

 

E. Saran Tesis 

  1. Sebaiknya pimpinan lebih tegas lagi dalam menerapkan gaya komunikasinya kepada karyawan untuk memacu motivasi kerja karyawan yang lebih tinggi lagi. Karena selama penulis menjalankan praktek kerja lapangan di bagian Humas, masih terdapat karyawan kurang disiplin dalam masuk kerja sehingga pekerjaannya terkadang tidak dapat terselesaikan dalam satu hari ini. Bila pimpinan tegas dalam menerapkan gaya kepemimpinannya dalam memberikan peringatan kepada bawahannya, maka tidak tertutup kemungkinan karyawan menjadi disiplin dalam bekerja dan memiliki tanggungjawab yang tinggi terhadap wewenang pekerjaannya. Untuk dapat disiplin, pimpinan perlu juga menyediakan timer sebagai absensi karyawan masuk.
  2. Sebaiknya pimpinan juga memperhatikan kembali sarana dan prasarana kehumasan seperti komputer, alat fax, internet, dan lain sebagainya, hal ini penting sekali untuk memperlancar keefektifan dan keefisienan tugas dari pekerjaan humas itu sendiri.
  3. Sebaiknya bagian humas perlu mengadakan family gathering kepada seluruh karyawan untuk dapat meningkatkan jalinan komunikasi antar karyawan yang lebih baik lagi dan membangkitkan motivasi kerja karyawan juga.

 

Contoh Tesis Komunikasi

  1. Produksi Segmen Feature dalam Program Berita Jogja di LPP TVRI Yogyakarta
  2. Jurnalistik Di Majalah Olga
  3. Mekanisme Peran Videojurnalis dalam Peliputan Berita di Rajawali Citra Televisi Indonesia
  4. Efektifitas Kinerja Public Relations dalam Hal Menjaga Interaksi Hubungan Komunikasi
  5. Peran Reporter dalam Produksi Berita Seputar Jogja di Jogja Tv – Yogyakarta

 

Tesis Kebutuhan Tenaga Kerja: Tenaga Perawat Bedah dgn Beban Kerja dan Kompetensi

Judul Tesis : Analisis Kebutuhan Tenaga Perawat Bedah Berdasarkan Beban Kerja dan Kompetensi di Instalasi Kamar Bedah Rumah Sakit Husada Jakarta

 

A. Latar Belakang

Besarnya beban kerja perawat bedah di Instalasi Kamar Bedah tergantung dari jumlah dan jenis operasi. Selama ini metode perhitungan beban kerja perawat bedah menetapkan lamanya jenis operasi dengan nilai tetap. Namun klasifikasi jenis operasi berbeda untuk tiap rumah sakit dan dokter. Sehingga lamanya jenis operasi harus diteliti sehingga dapat dihitung beban kerjanya. Permasalahan lainnya adalah tidak seragamnya penentuan klasifikasi tindakan bedah di rumah sakit. Penentuan klasifikasi tindakan bedah ditentukan oleh para profesional rumah sakit yang tentunya akan menentukan klasifikasi tindakan yang berkorelasi dengan imbalan yang akan diterima (Ilyas, 2011). Karena itu perlu dilakukan penelitian rerata waktu yang dibutuhkan untuk tiap jenis operasi. Metode Ilyas membuat suatu Formula Unit Ruang Bedah untuk menghitung jumlah perawat bedah, dengan rumus dasar jumlah perawatan yang disesuaikan dengan lamanya tiap jenis operasi yang ada.

Rumah Sakit Husada (RS Husada) adalah rumah sakit tipe B yang mencapai 88 tahun telah melayani masyarakat. Sejak 1971 ditandatangani piagam kerjasama antara Pemerintah DKI saat itu Bapak Ali Sadikin dimana RS Husada ditetapkan sebagai Rumah Sakit Umum Pusat II Wilayah Jakarta Pusat bagian Utara. Salah satu pelayanan mutakhir RS Husada yang menjadi salah satu fasilitas canggih adalah Instalasi Kamar Bedah. Seiring dengan kemajuan IPTEK, RS Husada pun melakukan perkembangan yang sesuai dengan kemajuan. Instalasi Kamar Bedah RS Husada memiliki 8 kamar bedah berstandar internasional yang memenuhi standart internasional. Rata-rata 400 kasus bedah dikerjakan di kamar bedah sentral setiap bulan, seperti bedah abdomen, rongga dada, pembuluh darah, urologi, bedah tulang, bedah plastik, telinga hidung tenggorok (THT), mata, kebidanan, bedah anak, dan bedah rahang/mulut serta bedah saraf yang dilengkapi dengan alat canggih. Dalam tahun 2009, cakupan layanan instalasi kamar bedah RS Husada 5245 tindakan, tahun 2010 sebanyak 4809, dan pada tahun 2011 sebanyak 5142. Jumlah perawat bedah instalasi kamar bedah RS Husada saat ini berjumlah 25 orang yang difungsikan dalam 3 shift kerja, yaitu pagi jam 08.00 – 14.00, sore jam 10.00 – 17.00, dan malam jam 14.00 – 08.00.

 

B. Rumusan Masalah

Menurut perhitungan jumlah operasi yang rata-rata 14 operasi perhari dengan proporsi 4 operasi kecil, 2 operasi sedang, 5 operasi besar, dan 3 operasi khusus. Jika dibandingkan dari jumlah operasi dan jumlah tenaga perawat bedah adanya ketidakseimbangan dan menurut Kepala Keperawatan Instalasi Kamar Bedah, jumlah yang ada tidak cukup dikarenakan beban kerja dan kompetensi tertentu. Besarnya beban kerja perawat bedah di Instalasi Kamar Bedah tergantung dari jumlah dan jenis operasi. Permasalahan lainnya adalah tidak seragamnya penentuan klasifikasi tindakan bedah di rumah sakit. Penentuan jenis operasi tergantung oleh tenaga profesional sehingga proporsi jumlah operasi terbentuk. Karena itu perlu diukur waktu transaksi pada tiap jenis operasi di Instalasi Kamar Bedah RS Husada. Perlunya pengukuran yang dilakukan dengan Time and Motion Study karena kegiatan perioperatif adalah homogen. Apalagi selama ini belum pernah dilaksanakan bentuk perhitungan kebutuhan tenaga perawat berdasarkan beban kerja dan kompetensi kerja di Instalasi Kamar Bedah RS Husada.

 

C. Tinjauan Pustaka

Manajemen Sumber Daya Manusia

Menurut Dessler (1997) yang dikutip oleh Soeroso (2003) fungsi dasar yang dijalankan oleh manajemen pada hakikatnya merupakan dasar dari manajemen sumber daya manusia. Fungsi dasar manajemen tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Planning (P) atau perencanaan, yaitu menetapkan apa yang harus dilakukan.
  2. Organizing (O) atau pengorganisasian, yaitu penugasan kelompok kerja serta penstafan atau penyusunan personalia.
  3. Actuating (A) atau pengarahan yang terdiri atas kepemimpinan, motivasi, dan manajemen konflik.
  4. Controlling (C) atau pengendalian.

Manajemen Keperawatan

Hasil Lokakarya Nasional Keperawatan tahun 1983 mencangkan beberapa konsep pengertian penting antara lain :

  1. Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian intergral dari pelayanan kesehatan, didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan, berbentuk pelayanan bio-psiko-sosio-kultural-spiritual yang komprehensif, ditujukan kepada individu, keluarga dan masyarakat baik sakit maupun sehat yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia.
  2. Pelayanan keperawatan merupakan bantuan, diberikan karena adanya kelemahan fisik dan mental, keterbatasan pengetahuan, serta kurangnya kemauan menuju kepada kemampuan melaksanakan kegiatan hidup sehari-hari secara mandiri.

 

Keperawatan Perioperatif

Keperawatan perioperatif adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan keragaman fungsi keperawatan yang berkaitan dengan pengalaman pembedahan pasien. Kata “perioperatif” adalah suatu istilah gabungan yang mencakup tiga fase pengalaman pembedahan – praoperatif, intraoperatif, dan pascaoperatif. Masing-masing dari setiap fase ini dimulai dan berakhir pada waktu tertentu dalam urutan peristiwa yang membentuk pengalaman bedah, masing-masing mencakup rentang perilaku dan aktivitas keperawatan yang luas yang dilakukan oleh perawat dengan menggunakan proses keperawatan dan standard praktik keperawatan. (Brunner and Suddarth, 2002)

 

Kompetensi Kerja

Kompetensi adalah pengetahuan, ketrampilan, sikap dan “judgement” / pertimbangan yang terintegrasi yang harus dimiliki/dipersyaratkan untuk melakukan tindakan secara aman dalam lingkup keperawatan individu. Kompetensi sumber daya manusia diidentifikasi dari pengetahuan, ketrampilan, dan sikap sebagai landasan dalam melaksanakan suatu pekerjaan. Terdapat perbedaan substansial antara pengetahuan dan ketrampilan. Konsep pengetahuan lebih berorientasi pada intelejensi, daya pikir, dan pengetahuan ilmu serta luas sempitnya wawasan yang dimiliki seseorang.

 

D. Metodelogi Penelitian

Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian deskriptif kuantitatif-kualitatif dengan menggunakan Time and Motion Study, dimana aktifitas perawat bedah sebagai responden.

Penelitian ini dilakukan di Instalasi Kamar Bedah RS Husada. Penelitian ini dilakukan sampai diamatinya perawat bedah pada 20 tindakan operasi (masing-masing 5 tindakan operasi tiap jenis operasi).

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh tenaga perawat bedah yaitu 25 orang perawat bedah di Instalasi Kamar Bedah RS Husada.

Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder.

 

E. Kesimpulan

1. Setelah dilakukan penelitian didapati waktu yang dibutuhkan pada tiap jenis operasi kecil sebesar 60,8 menit, untuk operasi sedang sebesar 124,06 menit, untul operasi besar sebesar 145,47 menit dan untuk operasi khusus sebesar 235,5 menit. Serta untuk kegiatan non operatif seperti kegiatan umum diperlukan 90 menit dan pencatatan diperlukan 86 menit. Permasalahan lainnya adalah tidak seragamnya penentuan klasifikasi tindakan bedah di rumah sakit. Penentuan klasifikasi tindakan bedah ditentukan oleh para profesional rumah sakit yang tentunya akan menentukan klasifikasi tindakan yang berkorelasi dengan imbalan yang akan diterima (Ilyas, 2011)

2. Proporsi jumlah tindakan berdasarkan jenis operasi diambil dari rata-rata jumlah operasi pada tahun 2011 yaitu: didapatkan rata-rata pelayanan operasi perhari adalah 14 operasi dengan jenis operasi kecil berjumlah 4 tindakan, jenis operasi sedang berjumlah 2 tindakan, jenis operasi besar berjumlah 5 tindakan, dan jenis operasi khusus berjumlah 3 tindakan. Dengan jumlah kamar operasi 8 kamar, artinya setiap kamar kurang dari 2 tindakan operasi perhari, artinya pemanfaatan kamar operasi masih kurang. Secara sarana dan prasarana RS Husada siap untuk melaksanakan tindakan operatif (laparoskopi) sebagai salah satu produk unggulan RS Husada. Namun pada pelaksanaannya produk ini kurang bergaung, apalagi pesaingan yang tinggi dengan mulai banyaknya tumbuh rumah sakit dengan pelayanan yang sama.

3. Dari perhitungan beban kerja perawat bedah dengan metode time and motion study yang kemudian dengan Formula Unit Ruang Bedah dapat diketahui jumlah perawat bedah yang dibutuhkan di Instalasi Kamar Bedah RS Husada adalah sebanyak 22 orang. Apabila dilihat dari jumlah perawat bedah pelaksana yang ada di Instalasi Kamar Bedah RS Husada sebanyak 25 orang, maka dapat dikatakan jumlah yang tersedia melebihi dari jumlah yang dibutuhkan. Padahal menurut Kepala Perawat Instalasi Kamar Bedah RS Husada beban kerja mereka terlalu besar dan tenaga perawat bedah dirasakan kurang. Jika dilihat dari karakteristik perawat bedah, secara usia beberapa orang memasuki usia pensiun dan dalam manajemen pembagian jadwal dinas perawat kurang seimbang dalam tiap shift. Dimana perawat bedah paling banyak (±15 orang) pada pukul 10.00- 14.00, sedangkan diatas pukul 14.00 dengan jumlah perawat lebih sedikit (±11 orang). Padahal jumlah tindakan operasi cito lebih banyak dari operasi elektif.

 

Contoh Tesis Kebutuhan Tenaga Kerja

  1. Analisa Kebutuhan Tenaga Keperawatan di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan Berdasarkan Beban dan Kompetensi Kerja
  2. Analisis Beban Kerja Keperawatan untuk Memperkirakan Kebutuhan Tenaga Perawat di Bagian Rawat Inap Umum Rumah Sakit Islam Jakarta Timur
  3. Analisis Jumlah Kebutuhan Tenaga Kerja Keperawatan di Puskesmas dengan Tempat Perawatan Dinas Kesehatan Kab. Dt II Bandung
  4. Analisis Kebijakan 3in1 untuk Kebutuhan Tenaga Kerja dalam Negeri Melalui Pendekatan AHP
  5. Analisis Kebutuhan Jenis dan Jumlah Tenaga Keperawatan Berdasarkan Beban Kerja di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Metropolitan Medical Centre Jakarta 2003
  6. Analisis Kebutuhan Materi Pelatihan Tenaga Juru Las di Balai Latihan Kerja Khusus Las Condet Jakarta
  7. Analisis Kebutuhan Tenaga Analis Berdasarkan Beban Kerja di Unit Laboratorium Klinik Rumah Sakit Santo Borromeus, Bandung, 2000
  8. Analisis Kebutuhan Tenaga Perawat Bedah Berdasarkan Beban Kerja dan Kompetensi di Instalasi Kamar Bedah Rumah Sakit Husada Jakarta

 

Skripsi Manajemen: Evaluasi Pengendalian Kualitas Produk Akhir pd Kain Oxford

Judul Skripsi: Evaluasi Pengendalian Kualitas Produk Akhir pada Kain Oxford W/I di PT. Sari Warna Asli Unit IV Karanganyar

 

A. Latar Belakang

Perkembangan sektor industri yang makin pesat mengakibatkan banyak berdiri perusahaan yang berskala besar, menengah, maupun kecil. Bahkan banyak perusahaan memproduksi barang/ jasa sejenis, sehingga persaingan semakin ketat. Dalam menghadapi persaingan tersebut, pimpinan perusahaan diharapkan pada berbagai masalah, diantaranya masalah kualitas produk yang dihasilkan. Kualitas merupakan salah satu kunci keberhasilan disamping faktor pendukung lain, maka perusahaan harus mampu menghasilkan barang/ jasa dengan kualitas baik untuk mampu bertahan dalam menghadapi persaingan.

Di dalam produksinya PT. SARI WARNA ASLI IV mengunakan faktor-faktor produksi yang meliputi bahan baku, tenaga kerja, modal dan teknologi tertentu. Faktor-faktor produksi tersebut akan mempengaruhi tinggi rendahnya kualitas produk yang dihasilkan, sehingga memerlukan pengendalian kualitas untuk menghasilkan produk yang berkualitas sesuai standar kualitas yang ditetapkan. Pemenuhan standar kualitas sangat diutamakan oleh PT. SARI WARNA ASLI IV dalam rangka memenuhi tujuan jangka panjang perusahaan yaitu mempertahankan market share / memperluas pasar yang telah dimiliki.

 

B. Rumusan Masalah

  1. Apakah pelaksanaan Pengendalian Kualitas produk akhir kain oxford w/i PT. SARI WARNA ASLI IV sudah berjalan baik?
  2. Berapa besar kerusakan kain oxford w/i dan apakah masih dalam batas pengendalian atau tidak?

 

C. Landasan Teori

Pengertian Kualitas

Menurut Elliot, dalam Ariani (2004:3) Kualitas adalah suatu yang berbeda untuk orang berbeda dan tergantung pada waktu dan tempat atau dikatakan sesuai dengan tujuan.

Pengertian Pengendalian Kualitas

Menurut Purnomo (2003:163) Pengendalian kualitas adalah alat bantu manajemen untuk menjamin kualitas, karena pada dasarnya tidak ada dua produk yang dihasilkan perusahaan itu sama besar dan tidak dapat dihindarkan adanya variasi.

Tujuan Pengendalian Kualitas:

Tujuan Pengendalian Kualitas menurut Assauri, (1998 : 208) adalah:

  1. Agar hasil produksi dapat mencapai standar kualitas yang telah ditetapkan.
  2. Mengusahakan agar biaya desain dari produk dan proses menggunakan mutu tertentu dapat menjadi kecil.
  3. Mengusahakan agar biaya produksi dapat menjadi serendah

 

D. Metode Penelitian Skripsi

Lokasi Penelitian adalah pada PT. SARI WARNA ASLI UNIT IV KEBAKKRAMAT KARANGANYAR.

Data yang diperlukan data primer dan data sekunder.

Teknik Pengumpulan Data pada penelitian ini yaitu dengan menggunakan wawancara dan observasi.

Teknik Analisis Data yaitu Analisis P-Chart.

 

E. Kesimpulan

  1. Data menggambarkan tingkat kerusakan yang tinggi yaitu dengan jumlah produksi 181.966 yard masih memiliki cacat kain sebanyak 18.090 yard dengan proporsi kerusakan sebesar 0,09. Dengan melihat kondisi tersebut penulis menyimpulkan bahwa pelaksanaan pengendalian kualitas perusahaan belum terlaksana dengan baik. Terlihat juga dalam bagan analisis P-chart bahwa masih banyak kerusakan-kerusakan produk diluar batas kendali. Berdasarkan analisis P-chart pada bulan Januari 2009 diketahui rata-rata kerusakan sebesar 0,09. Batas kendali atas (UCL) sebesar 0,1248 dan batas kendali bawah (LCL) sebesar 0,0552 .
  2. Penulis juga menganalisis dengan diagram Pareto untuk mengetahui kerusakan-kerusakan yang sering muncul atau sering terjadi. Penulis menyimpulkan bahwa kerusakan tertinggi adalah cacat Mangkak karena terlihat dalam data kerusakan, cacat tersebut mendapat angka yang tertinggi yaitu 698 yard. Disusul dengan cacat Kotor sebesar 438 yard, lebar variabel sebesar 187 yard, sobek sebesar 105 yard, krowak sebesar 90 yard dan belang sebesar 71 yard.

 

Contoh Skripsi Manajemen

  1. Penerapan Analisis ABC dalam Pengendalian Persediaan Produk Furniture pada Java Furniture
  2. Pelaksanaan Program Asuransi Rawat Inap dan Pembedahan dari Asuransi Jiwa Bersama (AJB)
  3. Bonus Pulsa sebagai Media Sales Promotion dalam Meningkatkan Volume Penjualan Kartu
  4. Proses Pengadaan Dan Penyimpanan Barang (Spare Part) pada PT.Coca-Cola Bottling Indonesia
  5. Prosedur Pelayanan Program Asuransi Kematian Pegawai Negeri Sipil pada PT. TASPEN

 

Tesis Supply Chain Management : Studi Eksplorasi Penerapan Green Supply Chain Management

Judul Tesis : Studi Eksplorasi Penerapan Green Supply Chain Management (GSCM) pada Perusahaan di Indonesia

 

A. Latar Belakang

Seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat dan ekspansi industri besar-besaran, umat manusia saat ini cenderung menguras dan menggunakan sumber daya alam lebih tinggi dari sebelumnya. Di saat yang sama pembangunan dan polusi yang dihasilkannya menyebabkan kerusakan yang sangat besar pada lingkungan hidup yang kemudian merusak ekologi. Dalam dua dekade terakhir dapat dilihat bahwa pola pembangunan dunia saat ini tidak lestari dan berkelanjutan, dari hilangnya keanekaragaman hayati karena berkurangnya hutan hujan tropis atau karena over-fishing sampai pada efek negatif yang ditimbulkan oleh pola konsumsi kita kepada lingkungan dan iklim (Fleury & Davies, 2012).

Negara-negara di dunia berusaha untuk mencegah kerusakan lingkungan yang lebih besar untuk terjadi, mereka mulai mengeluarkan serangkaian peraturan untuk mencegah terjadinya kerusakan lingkungan yang lebih parah. Uni Eropa mengeluarkan berbagai peraturan terkait dengan pengelolaan lingkungan hidup.

 

B. Rumusan Masalah

Dunia saat ini secara konstan dihadapkan kepada perubahan lingkungan yang berkisar dari cuaca yang ekstrim hingga kepada kelangkaan air bagi hampir 2 miliar orang (Cognizant, n.d.). Dampak lain seperti kenaikan suhu dan permukaan air akibat es kutub yang mencair dapat memberikan dampak yang besar. Pemerintah Indonesia memahami dan mengakui permasalahan ini dan memasukkannya ke dalam salah satu pertimbangan dalam Peraturan Presiden Nomor 61 tahun 2011, dimana kondisi geografis Indonesia rentan terhadap dampak perubahan iklim.

Dunia usaha di Indonesia juga memahami dan mengakui hal ini, terlihat dari kenaikan jumlah perusahaan yang mendaftarkan diri untuk menjadi peserta proper. Proper adalah sebuah mekanisme penilaian kinerja lingkungan hidup yang dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup atas perusahaan-perusahaan di Indonesia. Dimana kenaikan peserta proper dari tahun 2010-2012 hampir 3 kali lipat lebih besar dibanding kenaikan jumlah peserta proper dari tahun 2003-2010. Dan pada tahun 2012 jumlah peserta proper mencapai lebih dari 1,300 perusahaan. Ini menunjukkan besarnya perhatian perusahaan-perusahaan di Indonesia terhadap isu lingkungan.

Walaupun jumlah peserta proper semakin banyak, namun di saat yang sama jumlah perusahaan yang masuk dalam kategori hitam juga semakin besar (proper memiliki 5 peringkat, dari yang paling baik: Emas, Hijau, Biru, Merah dan Hitam). Hal ini menunjukkan bahwa banyak perusahaan-perusahaan yang masih lemah dalam penjagaan kinerja lingkungan hidupnya. Jika perusahaan-perusahaan tersebut menerapkan konsep GSCM maka dapat meningkatkan kinerja lingkungan hidup mereka dan di saat yang sama memberikan manfaat ekonomi kepada mereka( Rao & Holt, 2012).

Oleh karena itu dilatarbelakangi permasalahan-permasalahan berikut:

  1. Kerusakan lingkungan yang semakin besar
  2. Indonesia rentan terhadap dampak dari perubahan iklim karena lokasinya
  3. Konsep GSCM yang masih baru di Indonesia dan baru sedikit perusahaan yang menerapkannya.

maka mendorong dilakukannya penelitian ini, untuk melihat bagaimana praktik-praktik perusahaan di Indonesia menerapkan GSCM dan menyelidiki apa yang menjadi faktor pendorong dan penghambat penerapan GSCM pada perusahaan-perusahaan tersebut serta melihat manfaat dari penerapan GSCM pada perusahaan-perusahaan tersebut.

 

C. Tinjauan Pustaka

Definisi Supply Chain

Li (2007) bahwa supply chain adalah seluruh aktivitas di dalam pemenuhan permintaan dan kebutuhan konsumen. Lebih jauh lagi bahwa aktivitas-aktivitas tersebut terkait dengan aliran dan transformasi barang dari bahan mentah sampai ke pengguna akhir (end user) yang juga melibatkan aliran dana dan informasi. Li (2007) menjelaskan bahwa terdapat empat tahapan di dalam sebuah supply chain, jaringan pemasok (supply network), rantai pasok internal (internal supply chain) yaitu instalasi pabrik, sistem distribusi dan pengguna akhir (end user).

Green Supply Chain Management (GSCM)

Praktik SCM lainnya dari yang sudah disebutkan di atas, terdapat juga konsep baru yaitu konsep Green Supply Chain Management. Menurut Hervani & Helms (2005) menjelaskan bahwa GSCM meliputi aktivitas green purchasing, green manufacturing, green distribution and marketing dan pada akhirnya reverse logistics. Dan kemudian dijelaskan lebih jauh lagi oleh Rao dan Holt (2005) GSCM adalah suatu strategi untuk memperbaiki lingkungan dan inisiatif operasional yang diadopsi organisasi untuk mengatasi isu-isu terkait lingkungan hidup dalam supply chain mereka.

Dampak Penerapan GSCM

Rao dan Holt (2005) berpendapat bahwa GSCM secara umum dilihat dapat mendorong efisiensi dan sinergi pada supply chain, dan dapat membantu perusahaan untuk meningkatkan kinerja penjagaan lingkungan mereka, meminimalisir jumlah limbah dan penghematan biaya. Sinergi semacam ini diharapkan akan meningkatkan citra perusahaan, competitive advantage, dan pemasarannya. Walaupun demikian, supaya GSCM diadopsi secara penuh maka harus ditunjukkan hubungan antara penerapan GSCM dan peningkatan kinerja keuangan dan daya saing perusahaan. Rao dan Holt (2005) menyimpulkan dalam penelitiannya bahwa jika perusahaan menerapkan GSCM maka perusahaan akan mencapai penghematan yang besar meningkatkan penjualan, memperluas pangsa pasar, dan mampu mengeksploitasi pasar-pasar baru yang dapat memberikan profit margin yang lebih besar yang kesemuanya akan berkontribusi kepada kinerja keuangan perusahaan tersebut.

 

D. Metode Penelitian

Penelitian ini terinspirasi oleh penelitian yang dilakukan oleh Walker, Di Sisto, McBain (2008) yang berjudul “Drivers and barriers to environmental supply chain management practices: Lessons from the public and private sectors”. Berdasarkan penelitian tersebut metode yang digunakan adalah tipe eksploratori dengan menggunakan pendekatan kualitatif.

Penelitian ini menggunakan strategi studi kasus karena tipe penelitiannya adalah tipe eksploratori dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang mencoba melihat penerapan GSCM di Indonesia dan dampaknya kepada perusahaan serta mengidentifikasi apa saja faktor pendorong dan penghambat dari penerapannya.

Data yang akan dikumpulkan untuk penelitian ini terdiri dari data primer dalam bentuk wawancara semi-terstruktur dan data sekunder dalam bentuk laporan-laporan perusahaan, baik itu laporan tahunan (annual report) atau laporan lingkungan (sustainable report) mereka.

Setelah data wawancara dan data sekunder berhasil dikumpulkan. Data kemudian diolah berdasarkan dashboard dalam bentuk tabel yang telah dikembangkan oleh Walker, Di Sisto, McBain (2008) untuk dapat dengan mudah membandingkan data yang sudah dikumpulkan dan juga untuk memberikan keterangan dari mana hasilnya di dapat apakah dari dokumen pendukung atau wawancara atau keduanya.

 

E. Kesimpulan

  1. Faktor-faktor pendorong penerapan GSCM pada perusahaan dari internal perusahaan adalah:
  2. Kesadaran Internal dan menjadi nilai perusahaan
  3. Dukungan dari manajemen atas
  4. Upaya untuk menurunkan biaya
  5. Sedangkan dari eksternal, faktor pendorongnya adalah:
  6. Konsumen, hanya jika dari sudut pandang perusahaan responden sebagai konsumen dari para supplier-nya, dimana perusahaan responden berusaha mendorong supplier-nya untuk menerapkan green practices.
  7. Upaya untuk meraih competitive advantage
  8. Kedua perusahaan responden tidak melihat faktor biaya, kurangnya legitimasi, regulasi, komitmen supplier yang lemah dan industry specific barrier sebagai faktor penghambat penerapan GSCM.

 

Contoh Tesis Supply Chain Management

  1. Analisis Dampak Implementasi Enterprise Resource Planning terhadap Sistem Supply Chain Management Perusahaan di Indonesia
  2. Analisis Hubungan Antara Supply Chain Management Performance Dengan Customer Satisfaction pada SBU Total Logistik PT Pos Indonesia
  3. Analisis Supply Chain Management Bagi Peningkatan Efisiensi Produksi _ Studi Kasus Unit Bisnis P3 PT. Wijaya Karya Intrade
  4. Analisis Supply Chain Obat pada Pelayanan Rawat Jalan di Depo Farmasi Rumah Sakit Karya Bhakti
  5. Material Requirement Planning (MRP) Sebagai Salah Satu Dasar Kebijakan Pembelian Dalam Supply Chain Mangement (SCM) di PT. Perfetti Van Melle Indonesia
  6. Pemodelan Supply Chain Di Pt. Ymni Dengan Menggunakan System Dynamics
  7. Studi Eksplorasi Penerapan Green Supply Chain Management (Gscm) Pada Perusahaan Di Indonesia

 

 

 

Skripsi Pendidikan: Survei Kondisi Fisik bg Siswa Sekolah Sepak Bola (SSB) New Pelita

Judul Skripsi : Survei Kondisi Fisik Bagi Siswa Sekolah Sepak Bola (SSB) New Pelita di Kabupaten Sukoharjo Solo Tahun 2005

 

A. Latar Belakang

Latihan teknik dan taktik di SSB New Pelita Solo dilakukan dengan mengkombinasikan berbagai gerakan teknik dasar bermain sepak bola dengan diselingi aktivitas fisik seperti melompat-lompat keatas dengan dua kaki rata-rata paha, setelah itu anak berlari menuju bola yang berada didepannya dengan jarak lima meter dan melakukan shooting bola kearah gawang, selain itu pemain melakukan shooting bola ke arah gawang dengan menggunakan lima buah bola dengan menembakkan bola satu persatu kearah gawang dengan jarak 20 m dengan palaksanaan anak menembak bola pertama dengan cara berlari dari belakang bola yang berjarak 10 m setelah itu anak kembali kegaris start, gerakan ini dilakukan secara berulang-ulang.

Dengan kondisi fisik yang baik seorang pemain dalam suatu pertandingan dapat menerapkan teknik, taktik, strategi dan cara bermain sepak bola yang baik dan mampu bermain selama 2×45 menit. Didalam sepak bola adanya keterkaitan antara satu komponen dengan komponen yang lain sangatlah penting dan hal inilah yang kurang dimiliki oleh para pemain SSB New Pelita Solo. Karena berdasarkan pengamatan di dalam setiap pertandingan para pemain SSB New Pelita Solo bermain cukup bagus di menit-menit awal baik dari segi teknik, taktik, maupun kematangan juara sudah dimiliki para pemain. Tetapi itu semua tidak didukung oleh kondisi fisik para pemainnya sehingga di menit-menit terakhir kondisi fisik para pemain banyak yang menurun dan keadaan seperti inilah yang biasanya dimanfaatkan oleh pemain lawan untuk mencetak gol.

 

B. Rumusan Masalah

Bagaimana tingkat kondisi fisik para siswa Sekolah Sepak Bola (SSB) New Pelita di Kabupaten Sukoharjo Solo?

 

C. Landasan Teori

Pengertian Survei

Survei adalah salah satu jenis penelitian untuk mengetahui pendapat dari informasi yang diperoleh dari penelitian yang dikumpulkan dari seluruh populasi dan dapat pula dari sebagian populasi (Suharsimi Arikunto, 1993: 321).

Kondisi Fisik

Kondisi fisik adalah suatu kesatuan utuh dari komponen-komponen yang tidak dapat dipisahkan begitu saja, baik peningkatan maupun pemeliharaannya (M. Sajoto, 1995: 8), sedangkan menurut Sugiyanto (1993: 221), kemampuan fisik adalah kemampuan memfungsikan organ-organ tubuh didalam melakukan aktivitas fisik.

Sistem Energi didalam Sepak Bola

Sistem energi Aerobik berarti dengan oksigen artinya kerja otot dan gerak otot yang dilakukan mengunakan oksigen guna melepas energi dari bahan-bahan otot (PB. PASI 1993 : 22). Beban kerja latihan aerobik dapat secara terus-menerus atau dirinci menjadi interval-interval antara lari kencang dan lari pelan. Latihan aerobik yang betul akan memperbaiki produksi energi aerobik dalam otot dan juga dapat menunjang meningkatkan kinerja jantung dan paru-paru.

 

D. Metode Penelitian Skripsi

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei dengan teknik tes. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa SSB New Pelita Solo di Kabupaten Sukoharjo yang berumur 12-13 tahun yang berjumlah30 orang. Pengambilan sampel dengan teknik total sampling

 

E. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan, bahwa tingkat kondisi fisik siswa Sekolah Sepak Bola (SSB) New Pelita Solo khususnya umur 12-13 tahun termasuk dalam kategori kurang.

 

Contoh Skripsi Pendidikan

  1. Sumbangan Kekuatan Genggaman, Power Lengan, Dan Kekuatan Otot Tungkai Terhadap Ketepatan Servis
  2. Sumbangan Kekuatan Otot Lengan Dan Panjang Lengan Terhadap Jauhnya Lemparan Atas Dalam Permainan Softball Pada Unit Kegiatan Mahasiswa Softball Putra Unnes Tahun 2007
  3. Survei Kondisi Fisik Bagi Siswa Sekolah Sepak Bola (Ssb)
  4. Survei Kondisi Fisik Dan Keterampilan Gerak Dasar Sepak Bola Bagi Anak Usia Remaja Pada Klub Sepak Bola
  5. Survei Minat Siswa Terhadap Pelajaran Pendidikan Jasmani Pada Madrasah